Pemerintah Menyatakan Perang Terhadap Narkoba

0
474
Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2015 Di Istana Merdeka, Pemerintah Menyatakan Perang Terhadap Peredaran Narkoba, 26 Juni 2015. FOTO : VIBIZMEDIA.COM/RULLY

(Vibizmedia – Nasional) Kasus penyalahgunaan narkoba (narkotika, alkohol dan zat adiktif lainnya) beberapa tahun ini semakin meningkat pesat di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Denpasar dan kota besar lainnya. Yang dahulu hanya sebagai daerah transit, berkembang menjadi pasar peredaran narkoba dan jumlahnya mencapai lebih dari 4 juta pengguna.

Sebagian besar pelakunya generasi muda, generasi yang diharapkan menjadi pewaris dan penerus perjuangan bangsa dimasa depan. Keseriusan pemerintah akibat daya rusak yang ditimbulkan mendorong pemerintah menyatakan perang terhadap narkoba.

Langkah pemerintah dalam memeranginya melalui pencegahan penyalahgunaan narkoba secara lebih gencar, terukur dan berkelanjutan ke pusat dan daerah peredaran tersebut, meningkatkan upaya terapi dan rehabilitasi bagi pecandu dan penegakan hukum dengan berani.

Jumlah pengguna narkoba di Indonesia tahun 2015 mencapai 4,1 juta orang, meningkat 2,2%, Pada tahun 2014, sebanyak 18 ribu pengguna narkoba direhabilitasi, sementara 2015 terdapat 100 ribu pengguna direhabilitasi, tahun depan ditargetkan 200 ribu pengguna di Indonesia direhabilitasi.

Tahun 2015, Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengungkap 42 jaringan peredaran narkoba lokal kelas kakap dan internasional, juga berhasil menyita barang bukti narkotika jenis shabu sebanyak 1.141,8 kilogram, ekstasi 604.602 butir, ganja 40,4 kilogram dan 4 lokasi lahan ganja seluas 42 hektar dengan tersangka yang diamankan berjumlah 100 orang.

Presiden menghimbau kepada seluruh instansi pemerintah pusat maupun daerah, aparat hukum, BNN, aktivis narkotika saat peringatan hari anti narkotika internasional (HANI) 2015 di Istana Negara, Jumat (26/6) untuk benar-benar memerangi peredaran narkoba di tanah air, bukan hanya terhadap pengedar narkoba tetapi juga oknum dari institusi yang membantu peredaran obat terlarang tersebut.

Dengan kerugian material melalui belanja narkoba, barang-barang yang dicuri, pengobatan dan rehabilitasi mencapai Rp 60 triliun, ini digolongkan sebagai kejahatan yang serius dan terorganisir, yang berdampak merusak karakter, fisik dan kesehatan yang ditimbulkan. Salah satu upaya meningkatkan pengawasan di laut dan wilayah-wilayah pesisir yang sering menjadi tempat penyelundupan narkoba.

Tidak ada ampun , tangkap dan tindak tegas bandar, pengedar dan pemain besarnya bahkan menindak aparat yang menjadi backing pengedar dan lembaga permasyarakatan yang menjadi pusat peredaran narkoba, ungkap Presiden Jokowi dengan tegas.

Pemerintah dibawah pengawasan Kementerian Sosial akan membangun tujuh pusat rehabilitasi yang berada di Jawa Timur, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Maluku Utara.

Journalist  : Rully
Editor       : Mark Sinambela  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here