Indonesian Membekukan Keanggotaannya di OPEC Demi APBN

0
379
Presiden Joko Widodo memberikan keterangan pers mengenai dibekukannya keanggotaan Indonesia di OPEC. FOTO : VIBIZMEDIA.COM/RULLY

(Vibizmedia – Nasional) Pemerintah Indonesia memutuskan untuk membekukan sementara keanggotaan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak untuk lebih mengutamakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam sidang ke-171 OPEC di Wina, Austria, pada Rabu, (30/11), Indonesia memutuskan untuk membekukan sementara keanggotaan di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak tersebut.

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah suatu masalah besar mengingat sebelumnya Indonesia juga pernah membekukan keanggotaan di organisasi tersebut. Keputusan tersebut juga diambil untuk memperbaiki kondisi APBN Indonesia, ungkapnya usai membuka rapat pimpinan Kadin tahun 2016 di Hotel Borubudur, Jakarta.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia sendiri pernah membekukan keanggotaannya di OPEC pada tahun 2008 silam yang berlaku efektif pada 2009. Meski demikian, Indonesia tetap menjalin hubungan baik dengan OPEC dan menjalin hubungan bilateral dengan sejumlah negara anggota OPEC.

Kemudian kita masuk lagi karena kita ingin informasi naik turunnya harga kemudian kondisi stok di setiap negara. Itu bisa tahu kalau menjadi anggota. Tapi karena untuk perbaikan APBN, ya kalau memang kita harus keluar lagi juga tidak ada masalah, ungkap Presiden.

Sidang OPEC telah memutuskan untuk memotong produksi minyak mentah sebesar 1,2 juta barel per hari. Indonesia sendiri diminta untuk memotong sekitar 5% dari produksinya yang berarti berjumlah sekitar 37 ribu barel minyak per hari.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menilai keputusan tersebut tidak sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia. Oleh karenanya, Indonesia memutuskan untuk membekukan sementara keanggotaannya.

Saat ini, kebutuhan penerimaan negara masih besar dan pada Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara 2017 disepakati produksi minyak di 2017 turun sebesar 5.000 barel dibandingkan 2016, terang Jonan.

Indonesia yang tercatat sebagai negara pengimpor minyak, pemotongan kapasitas produksi tersebut dinilai tidak akan menguntungkan. Sebab, dengan berkurangnya produksi barel minyak, maka dapat diperkirakan harga minyak akan mengalami kenaikan.

Journalist : Rully
Editor      : Mark Sinambela

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here