Buka-bukaan Metode Quick Count Versi Cyrus

0
396
Expose Data Quick Count Pemiliu PERSEPI (Photo: Jul Allens/VM)

(Vibiz Media-Nasional) Lembaga survei Cyrus menjelaskan metodologi sampling quick count dalam acara pertemuan PERSEPI (Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia) dalam topik “ Expose Data Quick Count Pemilu 2019” . Acara digelar Sabtu (20/4/2019) di The Icon Room Hotel Morrissey, Jalan KH. Wahid Hasyim No.70, Menteng, Jakarta Pusat.

Masyarakat pasti sangat ingin mengetahui metodologi yang digunakan apakah scientific atau tidak. Harus ada metodologi yang jelas untuk hasil yang akurasinya dapat dipercaya masyarakat. Cyrus menjelaskan bahwa quick count Cyrus menggunakan metodi Multistage Random Sampling, dimana setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Model pengacakan dilakukan secara bertingkat secara proporsional menurut besaran populasi jumlah TPS.

Alur Kerja (Photo: Jul Allens/VM)

Dengan metode pengacakan seperti di atas maka akan didapatkan jumlah sampel yang proporsional sesuai dengan prosentase jumlah TPS di daerah tersebut sehingga hasil quick count dapat digeneralisasi dan mencerminkan hasil pemilu dengan akurasi tinggi. Jadi jumlah TPS yang jadi sampel di Jawa Barat pasti akan lebih banyak dari jumlah TPS yang ada di Aceh atau Sumatra Utara karena secara proporsi TPS pasti Jawa Barat lebih tinggi.

Distribusi Sampel (Photo: Jul Allens/VM)

Berikut ini adalah kaidah-kaidah sampling Cyrus:

  • Metode: Multistage Random Sampling
  • Jumlah sample untuk quick count nasional adalah 2002 TPS
  • Kontrol kualitas foto C1 plano dilakukan untuk menjaga akurasi dan reabilitas data yang diperoleh
  • Tingkat kepercayaan sebesar 95 % dengan margin of error sebesar +/-1%
  • Verifikasi 100% dari data terkirim
  • Jenjang pendidikan petugas lapangan minimal mahasiswa semester 7 yang ditraining lebih dulu
  • Setiap petugas pemantau TPS hanya bertugas di satu TPS saja
  • Koordinasi berlapis oleh koordinator lapangan, trainer/ supervisor dan Tim Pelaksana Pusat

Dalam menjelaskan tentang Multistage Random Sampling, Hasan menjelaskan bahwa populasi besarnya adalah Indonesia yang dibagi dalam 34 provinsi lalu dibagi proporsinya lagi dengan ciri desa dan kota, dirandom ke 2002 TPS target dari 800.000an TPS. Dari Jumlah TPS tersebut diproporsikan jumlahnya berapa dikali jumlah TPS dan seterusnya. Data ini hanya akurat untuk membaca quick count secara nasional bukan provinsi apalagi kabupaten atau kota, karena sampelnya nasional. Untuk mempercepat pengambilan sampel dibutuhkan IT dan rekrutmen, simulasi untuk memastikan kelancaran, training yang ketat diberikan.

Tabulasi dan foto dikontrol melalui foto C1 Plano dari pemantau TPS di hari H. Digunakan aplikasi di android dan IOS dan petugas untuk menelpon. Data di-entry, dikoreksi untuk memastikan data benar lalu divisualisasi agar menghasilkan data yang tepat dan informatif.

Alur Data Masuk (Photo: Jul Allens/VM)

Ada aplikasi e-saksi, ada foto C1 plano lalu data dikirim ke server, diverifikasi oleh validator untuk memastikan kebenaran datanya. Ada mekanisme kontrol, tidak instan sampai mendapatkan hasil akhir Pilpres dalam bentuk diagram persentase.

Sistem Pengiriman Data (Photo: Jul Allens/VM)

Dengan membuka metodologi yang digunakan oleh Polster maka PERSEPI mengharapkan masyarakat dapat melihat bahwa hasil quick count bukanlah rekayasa dan memiliki margin of error yang kecil yang diharapkan nantinya memiliki deviasi yang wajar dengan hasil real count KPU.

Hasil Akhir Pilpres (Photo: Jul Allens/VM)

Percaya atau tidak dengan hasil quick count, PERSEPI menyerahkannya kepada masing-masing orang, sambil menunggu hasil real count KPU 22 Mei nanti.

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here