Naik 17,4 Persen, Sektor Industri Serap Tenaga Kerja 672.000 Orang per Tahun

0
171
Ilustrasi

(Vibizmedia – Nasional) Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (23/4/2019 di Jakarta menyatakan bahwa serapan tenaga kerja di sektor industri terus meningkat, yakni dari 15,54 juta orang pada 2015 menjadi 18 juta orang pada 2018 atau naik 17,4 persen. Artinya, sektor industri menyerap tenaga kerja rata-rata 672 ribu orang per tahun.

Menperin menjelaskan peningkatan penyerapan tenaga kerja tersebut merupakan bagian efek berantai dari pelaksanaan kebijakan hilirisasi industri. “Jadi, terjadi pertumbuhan sektor industri, yang sejalan pula dengan adanya penambahan investasi atau ekspansi di Indonesia,” tuturnya.

Kemenperin fokus mendorong pendalaman struktur industri di dalam negeri melalui peningkatan investasi. Tujuannya, selain mengintegrasikan sektor hulu sampai hilir, juga untuk mensubstitusi produk impor dan memenuhi pasar ekspor.

Menurut catatan, investasi di sektor industri manufaktur pada 2014 mencapai Rp 195,74 triliun, lalu naik menjadi Rp 226,18 triliun pada 2018. Penanaman modal tersebut, kata Menperin, membawa dampak positif bagi pertumbuhan sektor industri skala besar, sedang dan kecil.

Selama 2014-2017, ada penambahan populasi industri besar dan sedang, dari 2014 sebanyak 25.094 unit menjadi 30.992 unit. Di sektor industri kecil terjadi penambahan, dari 2014 sebanyak 3,52 juta unit menjadi 4,49 juta unit pada 2017.

“Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja paling aktif, salah satunya dilakukan oleh sektor industri otomotif yang telah menyerap 1 juta lebih tenaga kerja,” ungkap Menperin. Di industri otomotif, empat pabrikan besar telah menjadikan Indonesia sebagai rantai pasok global.

Sektor manufaktur lainnya yang menyerap tenaga kerja banyak adalah industri makanan dan minuman  dengan kontribusi hingga 26,67%, disusul industri pakaian jadi (13,69%), serta industri kayu, barang dari kayu dan gabus (9,93%).

Selanjutnya, industri tekstil (7,46%), industri barang galian bukan logam (5,72%), serta industri furnitur (4,51%). Airlangga menyebutkan, ada tiga pilar utama yang perlu menjadi perhatian untuk memacu pertumbuhan industri nasional, yaitu investasi, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM).

Ketersediaan SDM yang terampil sangat diperlukan guna meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor industri. Apalagi, Indonesia punya potensi tersebut seiring dengan adanya bonus demografi yang sedang dinikmati hingga tahun 2030.

Menperin menambahkan, pihaknya terus berupaya menciptakan SDM kompeten terutama yang siap menghadapi era industri 4.0. Untuk itu, Indonesia perlu merombak kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada bidang Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM).

“Selain itu, fokus untuk meningkatkan kualitas unit pendidikan vokasi. Hingga saat ini, Kemenperin telah memiliki sembilan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), 10 politeknik dan dua akademi komunitas,” terangnya.

Emy T/Journalist/ VM
Editor : Emy Trimahanani

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here