Transformasi Besar Ekonomi di Indonesia, Dimulai dari Dunia Pertambangan

0
151
Presiden Jokowi menerima penghargaan tertinggi bidang pertambangan yang diserahkan langsung oleh Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Indonesia Ido Hutabarat di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, pada Rabu (20/11). Penghargaan tersebut diberikan atas kepedulian dan keberpihakan Presiden Jokowi terhadap dunia industri tambang. FOTO: VIBIZMEDIA.COM|MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Jakarta) Presiden Joko Widodo mengajak para pelaku industri tambang Indonesia untuk memproses produk tambangnya menjadi produk setengah jadi atau barang jadi di dalam negeri, agar memiliki nilai tambah dan memiliki multiplier effect. Presiden menyatakan bahwa hilirisasi produk pertambangan, membuat produk tambang selain mendapatkan nilai tambah dan multiplier effect, menciptakan lapangan kerja yang dibutuhkan masyarakat.

Ajakan Presiden Jokowi tersebut bukan tanpa alasan,  menurut Presiden, dunia kini sudah menuju kepada era energi yang ramah lingkungan, hal ini berdasarkan perbincangan Presiden dengan sejumlah pimpinan organisasi internasional, Presiden mengungkapkannya saat menghadiri acara Indonesian Mining Association Award di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Presiden juga menyatakan hilirisasi industri tambang juga diharapkan akan membantu pemerintah mengatasi defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan yang sudah berlangsung lama. Meskipun saat ini ekspor dari industri pertambangan sendiri sudah memberikan kontribusi yang besar kepada neraca perdagangan Indonesia.

Jika semua pelaku industri tambang menuju pada hilirisasi dengan mengekspor barang setengah jadi maupun bahan jadi, Presiden yakin masalah defisit transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan  bisa diselesaikan dalam kurun waktu tiga tahun.

“Itu hanya satu, kita baru berbicara satu komoditas yang namanya nikel. Belum berbicara masalah timah, batu bara, copper. Banyak sekali yang bisa kita lakukan dari sana karena dari situlah akan muncul nilai tambah,” lanjut Presiden.

Sampai tahun 2017, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, telah mengamanatkan soal hilirisasi industri. Meskipun kini ada relaksasi menjadi tahun 2022, Presiden kembali mengajak pelaku industri tambang untuk bersiap diri. “Kalau memang perlu bergabung, bergabunglah. Kalau ada masalah yang berkaitan dengan pendanaan untuk menyelesaikan ya marilah kita bicara,” ajaknya.

Bukan hanya nikel, produk tambang lain juga berpotensi untuk menghasilkan produk turunan yang banyak dan bernilai tambah jika dilakukan hilirisasi. Misalnya tembaga yang turunannya bisa sampai 15 kali lipat nilainya atau asam sulfat sebagai turunan nikel yang dapat dipakai sebagai campuran untuk membuat baterai lithium.

“Sehingga desain strategi besar bisnis negara dalam jangka ke depan yang kita ingin membangun mobil listrik di negara kita ini betul-betul bisa kita capai karena kuncinya ada di baterai,” paparnya.

Baginya, Indonesia memiliki 70 persen bahan-bahan untuk membuat baterai lithium, akan sangat keliru jika barang-barang tersebut diekspor dalam bentuk mentah.

“Sehingga akhirnya transformasi besar ekonomi di Indonesia ini betul-betul bisa berubah, dimulai dari dunia pertambangan. Ada betul-betul transformasi besar ekonomi yang ada di negara kita,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here