Tantangan dan Peluang di Era Disrupsi

0
203
Presiden Joko Widodo berbicara dalam forum ASEAN-Republic of Korea (RoK) CEO Summit yang digelar di Busan Exhibition and Convention Center (BEXCO) pada Senin (25/11). FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Presiden Joko Widodo sampaikan kecepatan perkembangan teknologi telah mengubah cara hidup manusia secara dramatis.

Presiden memberikan contoh misalnya, jika dalam satu dekade sebelumnya armada taksi dimiliki oleh perusahaan besar. “Saat ini dengan teknologi, perusahaan besar digantikan oleh pemilik mobil perseorangan,” kata Presiden dalam forum ASEAN-Republic of Korea (RoK) CEO Summit yang digelar di Busan Exhibition and Convention Center (BEXCO) pada Senin (25/11).

Presiden juga mengatakan, kini telah dimulai uji coba mobil tanpa pengemudi, sehingga dapat dibayangkan dalam satu dekade kedepan, transportasi hanya akan dikemudikan oleh teknologi tanpa perlu adanya sopir.

Sejak CEO Summit tahun 2014 lalu, tambahnya, dunia berubah dengan sangat cepat dimana saat ini kita hidup di era apa yang dikenal dengan “age of disruption.” “Big data, artificial intelligence, teknologi 4.0 telah meruntuhkan semua definisi, ukuran bahkan teori yang selama ini menjadi rujukan,” jelas Presiden.

Di saat yang sama age of disruption ini memberikan peluang yang sangat besar dan juga memiliki tantangan serta permasalahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. “Tantangan ini semakin besar, saat kita saksikan meningkatnya tendensi nasionalisme dan populisme ekonomi di beberapa negara dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Presiden.

Bahkan kini, gerakan anti pasar bebas mengemuka dan pendekatan proteksionismepun semakin mendominasi. “Kolaborasi dan paradigma win-win yang selama beberapa dekade menjadi basis bagi kerja sama ekonomi dunia mulai tergerus dengan pendekatan transaksional dan zero-sum-game yang semakin marak,” ucap Presiden.

Dalam pandangan Presiden Jokowi, kalau hal ini dibiarkan maka terjadinya resesi ekonomi dunia akibat disfungsi sistem ekonomi dan keuangan global serta ketidakpercayaan terhadap institusi ekonomi dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here