Kalkulasi, Hindari Banjir dan Bencananya

0
104
Kerusakan akibat banjir bandang Sungai Ciberang di Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. FOTO: VIBIZMEDIA.COM|MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Kolom) Mungkin kita sering mendengar berita atau cerita tentang banjir, khususnya warga Jakarta dan daerah penyangganya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Kita mengingatnya bulan yang diakhiri “ber” tak lain September, Oktober, November dan Desember, dikenal sebagai bulan musim hujan.

Tetapi tak ada yang menduga, awal tahun 2020 ini, menjadi “seperti” sebuah petaka khususnya bagi warga Jabodetabek. Curah hujan yang terjadi adalah yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia sejak abad 19, tepatnya tahun 1866. Belum pernah terjadi, Bandara Halim Perdanakusuma mencapai intensitas tertinggi hingga 377 milimeter (mm) per hari, sedangkan TMII mencapai 335 mm dan sejumlah daerah lainnya di Jakarta dengan rata-rata 250 mm.

Bisa dikatakan Jabodetabek tidak siap menerima curah hujan tinggi dengan durasi panjang, kenapa? Selain curah hujan tinggi, banyaknya tanggul yang jebol, drainase tersumbat dan melampaui kapasitasnya, serta penyebab lainnya.

Dampak banjir di Jabodetabek

Dari lima tahun terakhir, banjir awal tahun ini jika dihitung memakan korban jiwa terbanyak. BNPB merinci setidaknya ada 67 warga meninggal per tanggal 6 Januari 2020, 36 orang diantaranya terseret arus banjir, 6 orang tersengat listrik, 4 orang keracunan asap genset, 4 orang tertimbun longsor, ditambah banjir dan kebakaran 2, hiportemia atau penurunan suhu tubuh secara drastis 2 orang, serangan jantung 2 orang, tertimpa bangunan 2 orang, ISPA dan usia lanjut 2 orang, kelelahan 2 orang, sedangkan 5 orang belum teridentifikasi.

Jumlah korban terbanyak terdapat di Kabupaten Bogor sebanyak 17 orang, Kota Bekasi 14 orang, Kota Lebak 9 orang, Jakarta Timur 8 orang, sedangkan Kota Tangerang Selatan dan Jakarta Barat masing-masing 4 orang, Kota Depok 3 orang, Jakarta Pusat 2 orang, Kabupaten Bekasi, Kota Tangerang, Kabupaten Lebak, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, dan Kota Bogor masing-masing 1 korban jiwa, dengan jumlah pengungsi mencapai 92.261 jiwa.

Berdasarkan sebaran titik banjir, Badan Nasional Penanggulangan Banjir (BNPB) menyebutkan titik banjir terbanyak ada Kota Bekasi sebanyak 39 titik, disusul Jakarta Selatan 22 titik, Kabupaten Bekasi 15 titik, Jakarta Timur 11 titik, Tangerang Selatan dan Jakarta Barat masing-masing 5 titik, Jakarta Utara dan Kota Tangerang 2 titik, sedangkan Jakarta Pusat dan Kabupaten Tangerang 1 titik.

Apa penyebab banjir bisa terjadi?

Melihat kondisi cukup parah seperti ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahaan Rakyat (PUPR) pun turun tangan dengan menerjunkan 295 generasi mudanya lakukan survei rapid assessment atau riset pasar di wilayah Jabodetabek.
Wilayah yang disurvei tersebut adalah Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Lebak, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor.

Survei tersebut membuahkan hasil. Teridentifikasi 178 titik banjir dan genangan. Kemudian diketahui banjir terjadi disebabkan adanya tanggul jebol di 44 titik, drainase tersumbat 3 titik, kapasitas drainase terlampaui 13 titik, dan pintu air rusak 11 titik.

Selain itu, penyebab lainnya di Kampung Pulo Jakarta Timur dan Pondok Gede Permai, Jatiasih, Bekasi pompa tidak berfungsi, sedimentasi di 19 titik, penumpukan sampah di 17 titik, limpasan air dari sungai atau saluran di 62 titik, longsor di 1 titik, dan genangan di jalan tol di 6 titik.

Dari modal informasi dilapangan tersebut, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bersama jajarannya segera bergerak cepat dan memutuskan penanganan jangka pendek dan jangka menengah. Untuk jangka pendek, PUPR dan pemda setempat antisipasi curah hujan tinggi pada 11-15 Januari 2020 di 114 titik yang teridentifikasi rawan banjir.Upaya jangka pendek dengan memasang geobag/sandbag di tanggul jebol, pengerukan sedimen, pembersihan sampah dan perbaikan tanggul/talud 20 titik di Kali Kampung Ambon, Kecamatan Pulo Gadung, dan 11 titik di Kali Bekasi.

Selain itu, pengecekan pompa-pompa air yang ada agar berfungsi normal serta perlunya tambahan personel untuk mengoperasikan pompa dan pompa bergerak (mobile pump).

Sedangkan jangka menengah, pengecekan dan penyiapan langkah penanganan di kawasan beresiko tinggi, seperti di Bekasi, membuat desain penanganan kali Bekasi yang menjadi hilir dari sungai Cileungsi-Cikeas, mempercepat penyelesaian pembangunan Bendungan Sukamahi dan Ciawi di Kabupaten Bogor, yang sanggup mengurangi debit air masuk ke Jakarta dan menahan aliran air dari Gunung Gede dan Gunung Pangrango sebelum sampai ke Bendung Katulampa yang kemudian mengalir ke Sungai Ciliwung. Selain itu, penyelesaian proyek sodetan dari Sungai Ciliwung ke Banjir Kanal Timur (BKT).

Kerugian akibat banjir dan longsor di Jabodetabek

Dari data yang diterima, di sisi ritel di wilayah Jakarta, Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Roy Mandey mengatakan kerugian bisa mencapai Rp 960 miliar, dihitung dari 300 toko yang tutup akibat banjir.

Sedangkan secara keseluruhan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan kerugian akibat banjir 2020 mencapai Rp5,2 triliun, dari jumlah tersebut Rp4,5 triliun dampak yang dirasakan masyarakat dan sisanya Rp650 miliar kerusakan dan kerugian aset pemerintah dan badan usaha milik negara maupun daerah dan badan usaha milik negara maupun daerah, belum termasuk kerugian sektor usaha dan asuransi diperkirakan mencapai Rp3,6 triliun.

Di Kabupaten Lebak, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) memperkirakan kerusakan 28 jembatan (permanen, semi permanen dan gantung) akibat banjir bandang dan tanah longsor mencapai Rp56 miliar. Berefek aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh, jembatan antarkecamatan dan antar desa tidak bisa dilintasi angkutan roda dua dan roda empat.

Pembenahan “Urgent” dilakukan

Kerusakan materiil dan banyaknya korban jiwa akibat banjir ini, tidak bisa diatasi oleh pemerintah baik pusat dan daerah yang berjalan sendiri-sendiri, perlu ada peran disini, sebab fenomena global berpotensi kembali mengujam ibu kota dan daerah-daerah rawan banjir lain dalam kurun pertengahan Januari hingga Februari.

Antara sesama kepala daerah yang wilayahnya saling berbatasan, harus dapat bersinergi dengan baik dalam pengendalian banjir dan longsor jangka pendek, menengah maupun panjang.

Pasca peninjauan langsung ke daerah terdampak banjir dan longsor Sukajaya di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Lebak, Banten, Presiden mengajak jajarannya terkait untuk duduk bersama dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Banten Wahidin Halim, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, dan Bupati Bogor Ade Yasin.

Presiden Jokowi mengatakan “kita semua untuk mengevaluasi total sistem pengendalian banjir dan bencana alam dari hulu sampai hilir sehingga kita memiliki strategi besar jangka pendek, menengah, dan panjang”, ungkapnya dalam rapat koordinasi minggu kedua Januari 2020.

Bencana ini, tidak lagi menjadi sebuah bencana kemudian, kita bisa mengambil pembelajaran. Bencana alam bisa dikalkulasi dan dapat dihindari. Pemerintah harus terus melakukan pembenahan fasilitas baik itu perumahan, fasilitas umum hingga infrastruktur. Sedangkan khusus didaerah perbukitan seperti didaerah Kabupaten Bogor dan Lebak, bisa dengan menanam vetiver atau akar wangi, akar sekuat kawat baja ini sanggup menahan gempuran aliran hujan deras dan menjaga kestabilan tanah agar tidak terjadi longsor. Tidak cukup peran dari pemerintah saja, tetapi penting juga dukungan masyarakat. Apa yang bisa dilakukan masyarakat? menjaga kebersihan sungai, selokan air di sekitar permukimannya serta memberikan lahannya agar pembangunan prasarana pengendalian banjir di wilayah Sungai Ciliwung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here