Mau Tahu Kehidupan Jurnalis di USA? Tanyakan Saja Pada 2 Orang Ini!

0
637
Ade Astuti dan Helmi Johannes, Voice of America (VOA). (Foto: Emy T/ Vibizmedia)

Mungkin, orang penasaran bagaimana sih kehidupan orang yang bekerja di dunia jurnalistik di Amerika Serikat? Bagaimana rasanya tinggal di Washington DC dan bagaimana seluk beluk pekerjaan di dunia jurnalistik disana? Nah, cobalah mendengar cerita dari 2 orang ini, yang namanya mungkin tak asing di telinga kita. Dari wawancara yang dilakukan oleh Emy Trimahanani, berikut adalah cerita dari 2 jurnalis yang kini memiliki posisi strategis di salah satu kantor berita di Amerika Serikat :

HELMI JOHANNES, EXECUTIVE PRODUCER TV VOICE OF AMERICA (VOA)

Wajah, tatapan mata dan senyum ramahnya yang khas selalu melekat pada pria Ambon kelahiran Yogyakarta, 23 Maret 1961 ini. Mungkin Anda juga mengenalinya, sebab sebelum bertugas di Washington DC, Amerika Serikat, pria yang tetap menarik di usia tengah baya ini pernah menjadi presenter berita di Seputar Indonesia RCTI. Ya, dia adalah Helmi Johannes.

Helmi Johannes, Executive Producer TV Voice of America (VOA). Foto: Emy T/ Vibizmedia

Kini Helmi Johannes adalah Produser Eksekutif TV di Voice of America (VOA) Siaran Indonesia, yang berbasis di Washington, DC, Amerika Serikat.

Dalam kesempatan pertemuan sejenak di Yogyakarta beberapa waktu lalu, Helmi Johannes putra dari mantan Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) – Herman Johannes, yang meskipun lama tinggal di Amerika Serikat, sangat menikmati waktu-waktu singkat berada di Indonesia khususnya di Yogyakarta, tanah kelahirannya. Ya, Helmi memang sangat Indonesia, meskipun ia lama tinggal di negeri Paman Sam.

“Jadi, saya sudah bekerja di Voice of America (VOA) di Washington DC itu, sejak 2005 ya, itu hampir 15 tahun. “ ungkap Helmi pada Vibizmedia. Dalam kesempatan ini, Helmi juga menceritakan seluk beluk VOA, tempatnya bekerja saat ini.  “ VOA meskipun di danai oleh uang rakyat Amerika, dalam hal ini uang pajak yang disalurkan lewat kongres, jadi kita anggarannya datang dari kongres, tapi mereka tidak bisa mempengaruhi isi dari pemberitaan di VOA. Itu yang perbedaan yang mendasar ya, kalau menurut saya.”

Helmi pun melanjutkan “ Selama saya bekerja, hampir 15 tahun tidak pernah satupun saya di interfere untuk berita ini boleh,berita ini tidak boleh, yang seperti itu. Jadi kemandirian newsroom, kemandirian redaksi itu mutlak ya , dan itu dilindungi oleh organisasi payung kita, dulu namanya BBG, Broadcasting Board of Governors, kemudian sekarang berubah menjadi USAGM, United States Agency for Global Media.”

Dalam kesempatan itu, Helmi juga menekankan kepada para jurnalis, agar tetap usaha menjaga kemandirian redaksi semaksimal mungkin. Ia pun menekankan agar jurnalis tetap independen, mandiri, dan bebas dari kepentingan.

ADE ASTUTI KIDWELL, CHIEF OF VOA INDONESIA

Lain Helmi, lain lagi Ade Astuti Kidwell. Wanita cantik nan ramah ini, punya cerita sendiri bagaimana kehidupannya sebagai jurnalis di Amerika Serikat.

Ade Astuti Kidwell, Chief of VOA Indonesia (Foto: Emy T/ Vibizmedia)

Kisah pertemuannya dengan VOA, bisa dikatakan cukup unik. Wanita cantik ini, tak menyangka, beasiswa yang didapatkannya di University of Missouri, mengantarkannya untuk “berjodoh” di VOA.

“Sebelum saya lulus sebetulnya saya ada teman di DC (Washington DC-red)dan dia bekerja di VOA, jadi sekalian main gitu ya. Nah pas sampai disana, lalu malah ditanyain, ow, kita ini lagi mencari orang, kapan lulusnya?” katanya menjelaskan awal “pertemuannya” dengan VOA.

Menganggap itu adalah peluang, Ade nampaknya tak berpikir 2 kali untuk mengambil tawaran bekerja di VOA. Tahun 2004, setelah lulus, ia langsung memutuskan bergabung bersama VOA di DC. “Saya mulai sebagai reporter televisi, waktu itu kerjanya dibawah Mas Helmi juga.” ujarnya menjelaskan.

Mengenai kehidupannya sebagai jurnalis VOA di Amerika Serikat, Ade mengatakan “Segala macam itu dijalani dan kalau memang di VOA itu harus serba bisa.”

Ia pun menceritakan kisahnya. “Jadi, saya sebagai video jurnalis itu saya sendiri, kadang-kadang stand up juga sambil..ini zaman sebelum ada selfie ya Bu..jadi pakai tripod ditaruh kameranya terus stand up sendiri, jadi semuanya itu benar-benar membentuk keterampilan, skill sebagai wartawan.” katanya.

Tahun 2009, Ade menjelaskan bahwa saat itu VOA mulai serius untuk berada di media digital. Saat itulah, Ade dipercaya untuk memimpin VOA Indonesia untuk bidang digital, dan membawahi bagian website. Ia pun dinilai sukses, sehingga pada tahun 2014 ia direkrut di VOA pusat, dimana ia bekerja di VOA digital.

Pekerjaan Ade di VOA digital, bisa dikatakan tak sedikit. Ia bekerja membawahi 46 bahasa. “waktu itu 46 dan sekarang sudah 47. sebetulnya waktu mulai 45, 46, nambah terus bahasanya ya. Jadi saya bekerja dengan semua bahasa, pelayanan bahasa di VOA untuk media sosialnya.” katanya menjelaskan. Selain itu, ia juga bertanggung jawab untuk content strategy, serta digital marketing.

Kerja kerasnya tak sia-sia. Tahun 2019, dari VOA pusat, ia akhirnya kembali ke VOA Indonesia dengan menempati posisi strategis, yaitu sebagai Chief of VOA Indonesia.

Kepada Vibizmedia, Ade menjelaskan kondisinya sebagai jurnalis di Amerika Serikat. Sebagai Chief of VOA Indonesia, ia membawahi sekitar 50 staff di Washington DC, dan staff di tempat lainnya. “Posisi ini menurut saya sangat menantang sekali. Jadi sibuk terus ya. Mulai dari mengawasi staff dan juga pengelolaan resources, mulai dari budget segala macam, dan juga elemen-elemen lain dan terutama dari segi editorial.” ujarnya menjelaskan deskripsi pekerjaannya.

Ia juga menjelaskan, sebagai jurnalis perempuan di Amerika, ia menghadapi tantangan tersendiri. “Memang banyak sekali pekerjaan, tidak hanya di kantor, juga di rumah. Kadang-kadang sampai di rumah tetap kantor dibawa, gitu kan? Dan apalagi saya sebagai Chief, harus banyak pergi-pergi meninggalkan keluarga. Itu jadi tantangan tersendiri juga.” ujarnya.

Namun, di tengah semua kesibukannya, ada hal yang membuat Ade gembira di VOA Indonesia, yaitu suasananya yang membuatnya serasa memiliki keluarga besar. “Memang, kebanyakan dari kami kan dari Indonesia, dan berada di tempat jauh, jadi rasanya juga seperti keluarga besar. Jadi, senang sekali rasanya bisa kembali dan memimpin VOA Indonesia“ katanya bahagia.

Bekerja sebagai jurnalis negeri Paman Sam memang memiliki kesan tersendiri, seperti yang dijelaskan Helmi Johannes maupun Ade Astuti Kidwell. Namun bekerja dimanapun, pada akhirnya kita akan menemukan kesamaan, yaitu pentingnya kerja keras dalam mencapai kesuksesan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here