Tahun 2020 Resesi atau Keseimbangan Baru?

(Vibizmedia-kolom) Tanda-tanda resesi 2020 berupa menurunnya pertumbuhan ekonomi di banyak negara memang ada, tetapi pertanyaannya apakah menuju resesi?

Mari kita perhatikan faktor-faktor yang memungkinakan adanya resesi, apakah faktor ini akan menguatkan prediksi adanya resesi atau memang ada tanda tetapi belum mengerucut ke arah resesi. Bagi pelaku usaha sangat penting untuk memperhatikan hal ini, setidaknya untuk mempersiapkan rencana berjaga-jaga.

Zona Ekonomi

Kawasan Eropa memasuki 2020 masih tetap dengan permasalahan pertumbuhan ekonomi yang lemah, perdagangan hasil industri tidak bertumbuh dan perdagangan global cenderung turun.

Bank Sentral Eropa telah meluncurkan program stimulus pada September 2019, namun efeknya perlu waktu, bisa jadi baru akan terlihat pada pertengahan 2020 dan tidak bisa diharapkan terjadi pertumbuhan yang drastis. Ketidakpastian Brexit sudah berkurang, tetapi prosesnya apakah bisa jalan masih dipertanyakan. Eurozone diperkirakan akan tumbuh 1,0% tahun 2020, atau mirip dengan 2019, pertumbuhan memang sangat lemah tetapi tidak juga resesi.

Kawasan Asia, sangat dominan pengaruh China, dimana pertumbuhan ekonomi China juga melambat. Sekalipun ada perbaikan pertumbuhan penjualan retail naik 8,0%. China juga tidak menunjukkan adanya resesi. Akibat melemahnya ekonomi China, menjadikan negara-negara Asia mitra dagang China mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi.

Baca: Ketahanan Indonesia Menghadapi Perang Dagang China dan USA

Tensi geopolitik di berbagai zona juga menjadi potensi pendukung resesi demikian juga sebaliknya akibat ekonomi menuju resesi maka berakibat tensi geopolitik meningkat. Hal ini timbul di Timur Tengah, kawasan Eropa, Amerika Latin.

Demikian juga wabah pneumonia yang disebabkan oleh virus korona jenis baru yang muncul di awal tahun 2020, mulai dari Wuhan, Cina Tengah, kemudian beberapa kasus sudah ditemukan di negara tetangga. Wabah penyakit baru seperi flu unta (MERS-CoV) 2012, flu babi (A/H1N1pdm) 2009, flu burung A/H7N9) 2013, bisa merebak menjadi ancaman ekonomi juga.

Kesepakatan Dagang Fase 1 AS-China

Dampak langsung dari kesepakatan fase 1 perang dagang AS-China yang telah ditandatangani Presiden Trump dan Wakil Perdana Menteri China Liu He tentunya belum signifikan, karena kesepakatan fase 1 juga merupakan bagian yang relatif kecil dibanding dengan banyaknya agenda yang perlu disepakati oleh kedua negara.

Namun kesepakatan ini telah membawa suasana tahun 2020 lebih pasti. Dimana kedua negara juga berkomitmen untuk terus melakukan pertemuan-pertemuan lanjutan untuk melakukan kesepakatan dan menyelesaikan konflik perdagangan yang melibatkan perusahaan-perusahaan kedua negara.

Baca: Dampak Kesepakatan Fase 1 AS-China Bagi Indonesia

Tanda Peringatan

Beberapa negara sudah masuk pada zona bahaya, diantaranya:

Hong Kong, dengan gejolak protes yang belum terlihat ada tanda penyelesaian, membuat negara ini masuk zona resesi secara tehnis, karena sektor wisata dan retail yang menjadi andalannya justru yang paling terpukul.

Inggris, dengan no-deal Brexit dan ketidakpastian untuk meninggalkan Uni Eropa, membuat ekonominya terus merosot hingga level terendah sejak 2012.

Jerman, negara terbesar ekonominya di Uni Eropa. Sektor manufakturnya terus merosot bersamaan dengan melemahnya perdagangan kendaraan secara global.

Italia, sudah memasuki resesi tehnis sejak pertengahan 2018, hingga sekarang tidak lebih baik. Ditambah dengan produktifitas yang melemah, pengangguran meningkat, hutang melonjak dan gejolak politik.

Turkey, Argentina, Iran, Mexico dan Brazil adalah negara-negara yang sudah masuk zona bahaya resesi.

Keseimbangan Baru

Untuk beberapa negara yang memiliki kekuatan domestik seperti China, India, Indonesia dengan ciri populasi yang banyak, angkatan produktif besar dan juga permintaan domestik kuat, ekonomi masih tumbuh maka tekanan global pada ekonominya masih bisa disokong oleh kekuatan domestiknya.

Bahkan kondisi ini memaksa untuk mencari keseimbangan baru bagi ekonominya. Hal ini juga terlihat dimana pola perdagangan antar negara bergeser menjadi ke arah perdagangan domestik.

Seperti yang terjadi pada minyak kelapa sawit (CPO), dimana Indonesia sebagai negara penghasil terbesar di dunia dengan volume produksi 43 juta ton. Pihak Uni Eropa melarang minyak sawit Indonesia masuk ke anggotanya, maka Indonesia mencari solusi domestik dengan meluncurkan bahan bakar B30 untuk konsumsi domestik. Selama ada daya serap domestik yang kuat maka ada alternatif untuk mencari keseimbangan baru.

Pergeseran Supply Chain

Perdagangan bebas mampu menciptakan persaingan dan masing-masing negara menemukan keunggulan komparatifnya. Keunggulan ini menjadikan hasil produknya lebih efisien dan kompetitif.

Dalam kaitannya dengan supply chain, untuk memproduksi mobil diperlukan 10.000 komponen, mulai dari besi rangka, karet ban, kulit untuk kursi, komponen plastik, pelumas dll. Berdasar keunggulan komparatif maka masing-masing komponen berasal dari berbagai negara sesuai keunggulan kualitas dan harganya.

Semakin efisien dan kompetitif semakin diperlukan dalam supply chain. Ketidakpastian dan melemahnya ekonomi global menggeser pola supply chain lebih bergantung pada negara terdekat yang lebih efisien, sehingga kerjasama antar negara tetangga menjadi semakin penting. Negara tetangga bukan lagi semata sebagai pesaing, tetapi juga menjadi saling melengkapi dalam supply chain.

Pergeseran Entrepreneurship

Meningkatnya populasi dari usia produktif yang tidak lagi bisa ditampung sebagai tenaga kerja sektor formal, menggeser usia produktif merambah sektor informal atau membangun usaha sendiri. Dengan kreatifitas dan aplikasi tehnologi terkini maka berkembang dunia startup di Indonesia.

Perkembangan ini semakin marak sehubungan dengan pihak-pihak investor mengarahkan dananya untuk penyertaan di perusahaan startup, sehingga Indonesia telah melahirkan 5 unicorn dan kemungkinan akan menyusul 2 lagi pada tahun 2020.

Baca:

2014: Sepenggal Kenangan Sore Entrepreneur Muda dari Pasar Santa

Progresif Ekonomi Digital Indonesia Menyentuh Inflection Point

Pergeseran Pemain

Secara global kita lihat ada pergeseran zona, pola perdagangan dan juga pelaku ekonomi. Kawasan Eropa mengalami penurunan, demikian juga Amerika Latin, namun beberapa negara di kawasan Asia masih punya tenaga untuk melaju sekalipun lajunya juga menurun.

Negara dengan populasi tinggi, yang masih mampu menjaga pertumbuhan ekonomi dan mampu menguasai tehnologi semakin memiliki peran dalam kancah ekonomi global.

Arah pergerakan dana investasi global, bukan saja mengarah pada iming-iming suku bunga tetapi pada negara dan pelaku bisnis yang memiliki potensi pertumbuhan pada masa depan. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here