Wuhan Coronavirus, Seberapa Mengerikan?

0
446

(Vibizmedia-Gaya Hidup,Kesehatan)  Melansir data dari JHU CSSE terupdate pada Senin, 03 Februari 2020 pukul 17.00 didapatkan jumlah kasus sebanyak 17.485 kasus di seluruh dunia. Dengan kasus terbanyak tetap ada di China Mainland yaitu di 29 provinsi (dari total 31 provinsi) sebanyak 17.302 kasus. Sedangkan 183 kasus lainnya terjadi di luar China. Itupun sebenarnya beberapa kasus penderita adalah warga Wuhan yang kebetulan sedang berada di luar China. Sedangkan kematian kini sudah mencapai 362 orang dengan 1 angka kematian di luar China yaitu di Philipina.

Angka ini sedikit berbeda bila dibanding dengan data AFP atau data China South Morning Post, mungkin diakibatkan perbedaan waktu dalam menginput data. China South Morning Post melaporkan data sebanyak 17,388 kasus. Dr. Todd Ellerin, Direktur Penyakit Menular di South Shore Health, Massachusett mengatakan pada 21 Januari 2020, “Saya berpikir ini adalah puncak dari gunung es”. Hal ini berarti, angka yang muncul ke permukaan yang tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya. Dr. Eric Feigl.Ding dari Harvard melalui twitternya mengatakan kasus yang ada diperkirakan baru terungkap sekitar 5,1%.  Sedangkan menurutnya kemampuan dasar virus  untuk menularkan ke orang lain (R0-baca R naught) adalah sebesar 3,8%. Walaupun saat ini WHO mengatakan  menurun ke 2,5% namun tetap merupakan jumlah yang besar, dibandingkan dengan flu yang hanya 1,8%.

Kini, jumlah kasus ini kini telah melebihi kasus SARS Pneumonia yang merebak di tahun 2002-2003 sebanyak 8096 kasus dengan 774 kematian. Dalam satu minggu saja sangat mencengangkan kecepatannya kenaikannya.  Telah terjadi kenaikan sebanyak kurang lebih 13.000 kasus (+/- 300%) dengan case fatality rate (CFR) sebesar 2%.  Angka ini menurun seiring dengan meningkatnya jumlah kasus dibandingkan jumlah kematian.

Mungkinkah Ini Kebocoran?

Kasus SARS memang paling banyak terjadi di China, karena adanya kebocoran sebuah laboratorium di Beijing dan hal ini sudah diakui pemerintah China kala itu. Kecurigaan yang sama dibahas di berbagai media, muncul seiring dengan pengetahuan publik tentang adanya Laboratorium Patogen di Wuhan yang mempelajari virus-virus ganas di dunia. Laboratorium ini telah memperoleh akreditasi federal pada tahun 2017.

Sebagaimana dilansir oleh Dailymail UK, berdasarkan wawancara Nature dengan Direktur Wuhan National Biosafety Laboratory, Yuan Zhimin, mereka memang berencana untuk mempelajari virus SARS. Laboratorium Wuhan memulai percobaan global pada mikroorganisme penyebab penyakit (patogen) dengan BSL-4 (Biosafety Level 4) seperti SARS dan Ebola, pada Januari 2018 lalu. Semakin tinggi BSL-nya berarti semakin ganas mikroorganisme tersebut. Saat itu banyak expert memberikan peringatan akan resiko terjadinya kebocoran atau kaburnya virus keluar dari laboratorium.

Sebahaya Apakah Virus Tersebut?

Menyelidiki virus-virus ganas di dunia, apalagi dengan BSL-4 bukanlah pekerjaan mudah. Bekerja di laboratorium seperti ini beresiko mengancam nyawa. Itu sebabnya para peneliti di Laboratorium Wuhan harus mengenakan pakaian khusus antivirus yang disebut Hazmat Suit. Hazmat sendiri adalah singkatan dari Hazardous Material. Baju Hazmat yang menyelimuti dari kepala hingga kaki ini, harus terbuat dari bahan khusus yang tahan temperatur tinggi, bersifat impermeabel dimana udara/gas atau zat cair tidak bisa menembusnya. Untuk baju level yang tertinggi bahkan dilengkapi dengan peralatan yang mensuplai oksigen untuk bernafas dan peralatan untuk berkomunikasi. Baju ini tidak bisa digunakan lama-lama, maksimal penggunaannya adalah dua jam. Harga Hazmat Suit tergantung pada levelnya. Harga terendah $13 sedangkan yang termahal bisa mencapai sekitar US$130. Nah, terbayang bukan betapa sebenarnya virus seperti Coronavirus SARS Like ini sangat berbahaya hingga penelitinya harus melindungi diri begitu rupa? Wuhan Coronavirus ini selain menimbulkan Pneumonia juga dapat menimbulkan gagal hati dan gagal ginjal yang berbuntut kematian. Ngerinya lagi, pembawa virus dapat menularkan virus tersebut walau dirinya sendiri tidak memperlihatkan gejala.  Walau ada yang sembuh, namun jumlahnya baru 2,8% dari total kasus yang dilaporkan hari ini.

Untuk saat ini Indonesia terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan. Penerbangan dari dan ke China sudah dihentikan untuk sementara waktu. Penjagaan di bandara dan pelabuhan terus diperketat. Bersyukur, Indonesia sampai hari ini aman dari kasus Coronavirus, walau negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Filipina sudah terjangkit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here