Yulius Simanjuntak: Menemukan Peluang Emas Dalam Bisnis Minyak Goreng Bekas

0
3208
Yulius Simanjuntak, pendiri CV Kalimuda Energy, optimis mendukung program pemerintah menarik investor asing ke Indonesia (Foto: Togu Hasiholan/Vibizmedia)

(Vibizmedia – Gaya Hidup) Kali ini mari kita bertemu  seorang pria muda berusia 40 tahun yang dapat menjadi contoh kaum milenial dalam kejeliannya mengambil peluang  limbah minyak goreng bekas atau jelantah (used cooking oil) sebagai bisnis ekspor bernilai tinggi.

Yulius Simanjuntak, kelahiran 24 Juli 1980, mendirikan perusahaan CV Kalimuda Energy pada tanggal 28 Agustus 2019 sebagai sebuah perusahaan pengekspor limbah minyak goreng bekas ke negara-negara dengan perusahaan pembuatan biodiesel di Malaysia dan di Inggris.

Dalam waktu hanya beberapa bulan pendirian perusahaan ini telah dilakukan ekspor lebih dari 7 kali sebanyak ratusan ton jelantah (minyak goreng bekas)  dengan jumlah nilai bisnis ratusan juta hingga milyaran rupiah. Pencapaian yang cukup mencengangkan dalam waktu cukup singkat.

Limbah Minyak Goreng Bekas: Peluang Emas di Indonesia

Berbeda dengan para milenial lainnya yang menggeluti bidang-bidang kuliner, fashion dan lain-lainnya, maka Yulius lebih tertarik dengan limbah minyak goreng bekas ini. Kejeliannya memandang peluang akan apa yang dianggap hanya merupakan limbah ini layak diacungkan jempol.

Yulius menyatakan  limbah minyak goreng bekas bisa digunakan kembali menjadi bahan energi terbarukan atau energi alternatif. Ini yang membuatnya memiliki nilai jual yang tinggi. Karena saat ini kebutuhan akan bahan energi terbarukan cukup besar untuk dijadikan biodiesel, B30 , B70, hingga Avtur.

Ia menjelaskan bahwa minyak yang diekspor oleh perusahaannya adalah  minyak goreng dari kelapa sawit yang memiliki spesifikasi dan standardisasi ISCC (International Sustainability & Carbon Certification), sehingga tersertifikasi dengan baik. Di sini sangat jelas dari mana minyak goreng itu berasal, siapa penggunanya, lalu diambil oleh siapa, semua itu ada alurnya dan tertulis, jadi  bisa di-audit. Karena itulah harganya cukup tinggi dan mahal.

“Proses penyiapan sangat sederhana karena tidak menggunakan bahan kimia apapun,” jelasnya. Pada saat minyak goreng bekas itu datang maka ditimbang lalu disaring, dipisahkan antara residu kotor dan berat, air, sampah dan lainnya. Setelah didapat minyaknya, difilter kembali lalu dimasukkan ke dalam tangki dan dilakukan uji laboratorium apakah sesuai spefikasi teknis untuk penggunaan bahan dasar utama pembuatan biodiesel.

Pekerja menerima setoran minyak dan siap untuk menyaring dan membuang kotorannya. (Foto: Togu Hasiholan / Vibizmedia)
Minyak goreng bekas yang telah disaring dimasukkan ke tangki penampungan (Foto: Togu Hasiholan/Vibizmedia)
Tangki penampungan minyak dengan kapasitas 22 ton (Foto: Togu Hasiholan/Vibizmedia)
Forwarder dengan klasifikasi ekspor siap membawa minyak goreng bekas ke pelabuhan untuk dikapalkan dan diekspor ke Malaysia dan Inggris (Foto: Togu Hasiholan / Vibizmedia)

Membuka  Agen-Agen dan Kesempatan Kerja Bagi Masyarakat

Pada dasarnya konsep CV Kalimuda Energy yang mengekspor limbah ini adalah  “collecting point”  atau pusat pengumpulan minyak jelantah untuk kemudian dikirimkan ke Malaysia dan Inggris. Melalui konsep ini ada kesempatan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Karena membuka ladang pendapatan bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan.

Perusahaannya melakukan pendekatan yang sederhana untuk membuka agen-agen yang melakukan hal yang sama, yaitu menjadi “collecting point” untuk kemudian langsung dikirimkan ke negara tujuan menggunakan nama perusahaannya.

Ia membuka peluang agar masyarakat di bawah dapat menjadi pengusaha dalam bidang lingkungan dimana mereka mendata dan mendatangi sumber-sumber mengumpulkan minyak goreng bekas, baik dari rumah tangga, usaha kecil dan menengah, hotel, restoran bahkan pabrik. Selain menjadi sadar lingkungan, mereka juga mendapatkan penghasilan. Pada awalnya menjadi penghasilan tambahan, tapi begitu memiliki sumber-sumber yang tetap maka menjadi pendapatan yang bisa dirasakan setiap minggu.

Yang ia siapkan adalah surat tugas keagenan dan diberikan ID Card bahwa mereka teregistrasi resmi sebagai perwakilan dari perusahaannya. Akan diberikan MOU dan company profile dalam bentuk brosur dan pamflet. Tujuannya adalah meyakinkan para sumber bahwa perusahaan mereka adalah pengelolaan resmi  yang punya legalitas dimana minyak itu akan dipergunakan menjadi energi terbarukan dan  tidak dipergunakan kembali atau  dikonsumsi kembali. Jadi para agen memiliki identitas yang jelas sebagai orang yang menjadi perwakilan perusahaan.

Targetnya juga adalah para agen dapat  mensupport dirinya sendiri, misalnya membuka  “Bank Jelantah”  sendiri dan melakukan penyebaran informasi secara terbuka kepda masyarakat. Supaya  masyarakat paham dan  mau mengumpulkan minyak jelantah. Untuk itu para agen diperlengkapi juga dengan  product knowledge selain  pengetahuan tentang bahayanya pencemaran lingkungan.

Sosialiasi Dibutuhkan

Ia mengatakan bahwa sudah lama ada Asosiasi Pengumpul Jelantah Indonesia. Mungkin secara informasi orang pernah mendengar tentang biodiesel tapi tidak disosialisasikan secara menyeluruh ke masyarakat. Inilah sebenarnya yang ia kerjakan.  Ia memberikan harga tertinggi untuk program-program seperti Bumdes agar  bisa membentuk fasilitas sendiri maupun program sendiri untuk pemerintah atau perangkat daerah. Tujuannya adalah bahwa ini suatu masukan juga untuk Perangkat Daerah.

Sosialisasi tetap dilakukan, bukan saja dengan masyarakat luas, RT, RW, tapi dengan cara menggerakkan perangkat-perangkat daerah dari level RT, maka bisa menggerakkan masyarakat mengumpulkan limbah minyak goreng bekas. Dengan menjelaskan pentingnya tidak membuang minyak jelantah ke saluran tapi sebaliknya diberi tahu  nilai manfaatnya.

Ia juga memandang kelebihan dari limbah minyak goreng bekas adalah limbah makanan yang tidak berbahaya. Selain itu sangat mudah di-manage karena tidak membutuhkan energi dan personil yang besar.   Tidak hanya itu, masyarakat dapat langsung dilibatkan. Lebih jauh lagi sekolah, bahkan perangkat daerah seperti  Bumdes (Badan Usaha Milik Desa), Kelurahan, Kecamatan, Dinas Lingkungan Hidup, Bupati dan kepala daerah dapat dilibatkan dalam porsi masing-masing. Perusahaannya bisa langsung bersentuhan dari bawah dahulu sampai atas, dari masyarakat, pemangku kebijakan, sampai  ke pengusaha.

Harapannya adalah melalui konsep bisnis limbah minyak goreng bekas ini dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat. Membuka lapangan pekerjaan dalam level usaha dan bagaimana membuat masyarakat lebih kreatif.

Target: Mampu Memproduksi Biodiesel Sendiri

Perjalanan 5 bulan perusahaannya merupakan suatu pencapaian yang sangat besar. Mereka bekerja sangat cepat, bahkan sudah bermitra dan  punya cabang di Medan dan Semarang. Ia yakin hal ini akan terus berlanjut. Dalam jangka 5 bulan mereka sedang berlari kencang menuju terciptanya target volume pengiriman yang besar, maka bisa menarik investor untuk masuk.

Ia memandang bahwa bukan hanya sekedar menjadi pengumpulan minyak jelantah, tapi lebih besar, yaitu bagaimana  menghimpun informasi berapa banyak limbah jelantah  yang ada di Indonesia. Maka dari penghitungan statistik ini  akan terlihat kemampuan membuat pabrik besar di Indonesia. Sebenarnya tanpa statistik saja sudah dapat terlihat karena Indonesia adalah salah satu pemilik perkebunan kelapa sawit di Indonesia.  Sekalipun belum mampu membuat pabrik, ia mentargetkan adanya program yang baik sehingga  bisa meyakinkan investor asing bahwa Indonesia cocok untuk mendirikan pabrik pengolahannya sendiri.

Cita-cita dan tujuan perusahaan adalah memiliki satu kesatuan dengan visi pemerintah, yaitu membuat refinery plant sendiri dan  mampu memproduksi biodiesel sendiri, bahkan 100% tanpa membebani pemerintah dengan cara investasi yang masuk. Semua ada tahapannya. Ia menyebutkan targetnya adalah sekitar  1-2 tahun.

Ia mengakui investor asing sudah siap men-support untuk pembuatan pabrik tersebut. Tapi ia harus memastikan ada sumber dan mampu menciptakan volumenya dulu. Sebelum membuat pabrik maka harus dibuat demand nya dulu. Karena perlu disiapkan  volume minyak jelantah  dengan minimal berapa,  baru bisa membuat refinery plant atau production plant untuk biodiesel.

Sebuah mimpi yang besar bagi seorang milenial muda yang baru mendirikan perusahaan. Patut kita apresiasi untuk menjadi contoh keberhasilan orang muda Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here