ESDM Patok Investasi Sektor EBT Capai Rp 280 Triliun, Mari Lirik Saham-Saham Energi

0
323
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu. FOTO: VIBIZMEDIA.COM/MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia – IDX Stocks)- Indonesia memiliki potensi sumber energi baru terbarukan (EBT) hingga 700 gigawatt (GW) yang belum dikembangkan. Kementerian ESDM menargetkan investasi di sektor EBT sebesar Rp 280 triliun hingga 2024. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mematok investasi ke sektor energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 280 triliun hingga 2024.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan Indonesia masih mempunyai potensi sumber energi bersih sebesar 700 gigawatt (GW) untuk dikembangkan. Arifin menjelaskan, sektor EBT saat ini menjadi opsi pemenuhan kebutuhan sumber energi di dalam negeri. Pasalnya, peran fosil sebagai energi yang tak dapat diperbaharui semakin lama akan menipis.

Berdasarkan proyeksi Kementerian ESDM perolehan angka investasi sektor EBT yang didapat mulai 2020 sebesar US$ 2 miliar (Rp 28,8 triliun, asumsi kurs Rp 14.400/US$), kemudian pada 2021 senilai US$ 4 miliar (Rp 57,6 triliun), 2022 senilai US$ 5 miliar (Rp 72 triliun), 2023 senilai US$ 4 miliar, dan pada 2024 senilai US$5 miliar.

Adapun saat ini, Pemerintah berkomitmen meningkatkan penambahan kapasitas pembangkit EBT hingga 9.051 megawatt (MW) dalam lima tahun, dengan rincian 687 MW (2020), meningkat ke 1.001 MW (2021), 1.922 MW pada 2022, 1.778 MW pada 2023, dan 3.664 MW pada 2024. Pemerintah juga menargetkan bauran energi nasional pada tahun 2025 dapat mencapai 23%. Adapun saat ini realisasinya telah mencapai 9 – 10%.

Meski demikian untuk mencapai target tersebut perlu upaya besar yang harus dilakukan. Misalnya seperti menyiapkan kebijakan baru guna mendongkrak investasi di sektor EBT agar semakin menarik. Proses transisi dari energi fosil ke energi bersih merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan saat ini karena itu pemerintah juga harus mampu menciptakan energy security meliputi ketersediaan, keterjangkauan dan sustainability. Dan beralih ke energi yang tidak merusak alam dan energi terbarukan harus dilakukan bersama-sama antara BUMN dan swasta.

Untuk memenuhi tercapainya Bauran Energi 23% sesuai dengan kebijakan energi nasional di tahun 2025, Pemerintah telah menerbitkan beberapa kebijakan untuk mencapai target tersebut dimana pencapaian target 23% akan dipenuhi melalui PLTA 10,4%, dan PLTP dan EBT lainnya sebesar 12,6 persen.

Ada 7 saham yang memiliki prospek kedepannya searah dengan kebijakan pemerintah Indonesia dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) tersebut seperti PGAS, RAJA, POWR, TGRA, KEEN, MPOW dan KOPI yang semuanya berada di sektor infrastruktur dengan sub sektor energi.

Berikut kita dapat melihat peluang beli saham-saham energi dengan prospek bagus, dengan harga yang lebih murah:

Harga Harga Harga Turun %
03-Mar-20 28-Feb-20 03-Feb-20
1 PGAS PT. Perusahaan Gas Negara Tbk 1345 1280 1700 420 24,71%
2 RAJA PT. Rukun Raharja Tbk 92 92 122 30 24,59%
3 POWR PT. Cikarang Listrindo Tbk 800 745 855 110 12,87%
4 TGRA PT. Terrgra Asia Energy Tbk 84 79 101 22 21,78%
5 KEEN Kencana Energi Lestari 390 392 414 22 5,31%
6 MPOW Mega Power Makmur Tbk 62 59 88 29 32,95%
7 KOPI PY. Mitra Energi Persada Tbk 610 605 615 10 1,63%

 

Dibandingkan dengan harga pada hari Senin, 3 Februari 2020 maka pada hari Jumat, 28 Februari 2020, kita dapat memperoleh salah satu saham unggulan yang termasuk didalam indeks LQ45 lebih murah 24.71% seharga Rp.1280 per lembarnya dan pada hari Selasa, tgl 3 Maret 2020 harganya sudah naik menjadi Rp.1345 per lembarnya.

Dikaitkan dengan prospek EBT – Energi Baru Terbarukan – maka saham yang dapat dipertimbangkan lagi adalah saham TGRA milik PT Terrgra Asia Energy Tbk yang dapat diperoleh pada hari Jumat lalu di harga Rp.79 per lembarnya serta saham RAJA yang didiskon sebesar 24.59% menjadi Rp.92 per lembarnya.

PT Rukun Raharja Tbk siapkan anggaran belanja modal (capital expenditure) sebesar US$ 28,24 juta di 2020, yang akan dialokasikan kepada sejumlah proyek investasi dan pemeliharaan aset perseroan. Capex tersebut akan digunakan untuk pelaksanaan dan pengembangan proyek investasi di 2020. Untuk pengembangan dan pelaksanaan proyek, perseroan akan menyediakan dana sebagian besar dari pinjaman bank, dan internal perseroan.

Alokasi dana capex terdiri atas, proyek investasi Kompresor sebesar US$ 6,5 juta, Pipa Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) sebesar US$ 381 ribu, Pipa Gas Jawa Barat sebesar US$ 3,24 juta, fasilitas Liquefied natural gas (LNG) sebesar US$ 998 ribu, tanah dan bangunan sebanyak US$ 2,08 juta, Pipa Gas Gasing sebanyak US$ 7,8 juta dan fasilitas menara telekomunikasi US$ 6,48 juta. Kemudian sisanya akan dialokasikan untuk pemeliharaan aset. Sementara itu, perseroan menargetkan pendapatan sebesar US$ 126,3 juta pada tahun ini atau naik 4,72% dibanding target tahun lalu sebesar US$ 120,6 juta. Sedangkan laba bersih di tahun 2020 diproyeksikan akan mencapai sebesar US$ 5,6 juta, turun tipis 1,75% dibanding tahun lalu sebesar US$ 5,7 juta.

PT Terregra Asia Energy Tbk optimistis meraih peningkatan kinerja di tahun 2020. Emiten yang berbisnis di bidang energi baru dan terbarukan (EBT) tersebut memproyeksikan mampu meraih pendapatan sebesar Rp 87,43 miliar di tahun 2020 ini.

Jumlah tersebut melesat 143,19% jika dibandingkan proyeksi pendapatan Terregra Asia Energy di 2019 yang hanya Rp 35,93 miliar. Hingga kuartal III-2019 lalu, emiten dengan kode saham TGRA telah meraup pendapatan sebanyak Rp 20,45 miliar.

Sekretaris Perusahaan TGRA Christin Soewito mengungkapkan, pendapatan TGRA di tahun ini bakal ditopang oleh efek kontrak kerja sama di bidang pemeliharaan dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang diperoleh sejak pertengahan tahun lalu.

Selasti Panjaitan/Vibizmedia
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here