Siap Menguatkan Sruktur Manufaktur Otomotif Dalam Negeri

0
194
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. FOTO: KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN

Vibizmedia – Nasional) Daya saing industri otomotif dalam negeri terus menjadi perhatian Kementerian Perindustrian untuk dikuatkan dengan melakukan beberapa langkah strategis, seperti mendorong peningkatan investasi untuk menumbuhkan industri komponen kendaraan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Jumat (6/3) menyatakan bahwa saat ini kita punya sekitar 700 industri komponen yang mendukung sektor otomotif. Jumlah tersebut perlu terus dipacu, namun yang terpenting saat ini yang harus dioptimalkan adalah potensi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Menperin menegaskan, industri otomotif merupakan satu dari lima sektor manufaktur yang mendapat prioritas pengembangan, terutama dalam kesiapan memasuki era industri 4.0. Hal ini sesuai dengan implemensi peta jalan Making Indonesia 4.0.

Ia menegaskan bahwa selama ini industri otomotif memberikan kontribusi yang cukup signfikan bagi perekonomian nasional, termasuk berperan pada tumbuhnya indeks PMI manufaktur Indonesia. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh IHS Markit, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mengalami kenaikan dari 49,3 pada bulan Januari ke posisi 51,9 di Februari 2020. Poin di atas 50 menandakan geliat industri dalam fase ekspansif.

Selain itu sumbangan lainnya diperlihatkan dari capaian ekspor kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang menujukkan tren posistif. Pada tahun 2019, jumlah ekspor kendaraan Completely Build Up (CBU) tercatat 332 ribu unit atau naik 25,5% dari tahun sebelumnya. Selain itu, ekspor kendaraan Completely Knock Down (CKD) sebanyak 511 ribu set atau naik 523,5% dibanding tahun 2018.

Menperin meyakini bahwa  laju industri otomotif di Tanah Air masih bisa diakselerasi pada tahun ini, meskipun di tengah kondisi tekanan ekonomi global hingga dampak wabah virus korona. Kemenperin pun memasang target pertumbuhan industri otomotif bisa menyentuh 6% pada tahun 2020.

Yang terus digaungkannya juga  adalah agar  harus punya semangat optimisme dalam membangun industri, karena akan berdampak luas terhadap perekonomian, seperti pada bertambahnya penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja. Upaya konkretnya perlu dilakukan melalui sinergi antara pemerintah dengan pelaku industri.

Itu sebabnya pemerintah bertekad menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi sektor industri, di antaranya dengan memberikan kemudahan perizinan dan insentif fiskal. “Misalnya insentif yang terbaru adalah super tax deduction. Langkah ini untuk meningkatkan investasi dalam hal menciptakan inovasi dan penguatan kompetensi sumber daya manusia industri,” tuturnya.

Tidak hanya itu. Guna melindungi industri otomotif dalam negeri, khususnya produsen kendaraan komersial, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan izin untuk masuknya impor truk bekas ke pasar domestik. Ia meneruskan bahwa pemberian proteksi ini adalah untuk meningkatkan utilisasi industri kita. Jadi dipastikan bahwa impor tidak terjadi, kecuali memang belum bisa diproduksi di dalam negeri

Menperin juga  menambahkan bahwa kementeriannya bertekad mendorong pelaku industri kendaraan niaga dapat meningkatkan produktivitasnya yang kompetitif dan inovatif dalam rangka memenuhi permintaan konsumen, mulai dari mendukung kebutuhan pembangunan infrastruktur, logistik, hingga wirausaha.  Karena ia melihat bahwa industri punya kemampuan dan utilisasinya masih bisa ditingkatkan. Sehingga tidak perlu impor truk bekas agar tidak menciderai sektor ini.

Kemenperin dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) akan saling berkolaborasi mempertajam  keberhasilan sektor otomotif di dalam negeri. Apalagi, pemerintah memasang target ekspor untuk kendaraan CBU Indonesia bisa menembus 1 juta unit pada tahun 2024.

Ia menambahkan bahwa Kemenperin  terus berkoordinasi dengan Gaikindo, termasuk mengenai terjaganya kebutuhan bahan baku di tengah dampak Covid-19. Rata-rata industri otomotif ini masih punya cadangan bahan baku yang cukup. Selain itu dari informasi yang diperoleh didapatkan bahwa beberapa industri di China dan Jepang, mulai kembali normal berproduksi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here