Achmad Yurianto: Obat dan Vaksin Belum Ada, Pencegahan Tetap Yang Terpenting

0
572
Juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Achmad Yurianto, sedang memberikan konferensi pers di kantor Kepresidenan, 06/03/2020 (Foto: Maruli Sinambela/Vibizmedia)

(Vibizmedia – Nasiona) Juru bicara Pemerintah untuk Covid-19, dr. Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang diberikan di Media Center, Kantor BNPB, Kamis (19/3/2020), menegaskan kembali hal yang paling penting adalah bagaimana upaya untuk mencegah dan menghentikan penyebaran virus Covid-19.

“Semua ahli virus di dunia masih belum mendapatkan satu kesepakatan yang bisa dijadikan standard terkait dengan specimen pengobatan yang definitif atas Covid-19 ini,” ujar Yuri. Ia menjelaskan bahwa  beberapa uji coba telah dilakukan di berbagai negara, tetapi masih belum ada standard dunia.

“Sampai saat ini secara definitif drugs of choice, obat pilihan untuk Covid-19 masih belum didapatkan,  demikian juga untuk vaksin belum didapatkan,” pungkasnya.

Sebagian Besar Sembuh karena Faktor Imunologi yang Baik

Ia melanjutkan bahwa sebagian besar kasus sembuh didominasi oleh faktor imunologi yang sangat baik dari pasien itu sendiri. Sehingga faktor inilah yang menentukan kesembuhannya.

“Meski berita tentang ditemukannya obat atau vaksin masih kita tunggu dan berharap kerja keras dari semua ahli virus mudah-mudahan bisa memberikan hasil dalam waktu yang tidak terlalu lama sehingga kita bisa menggunakannya bersama-sama,” ungkapnya.

“Karena itu sekarang yang paling penting adalah bagaimana upaya untuk mencegahnya, upaya untuk menghentikan penyebaran ini.  Ini menjadi lebih penting bagi kita dibanding dengan hanya sekedar menunggu obat atau vaksin yang definitif,” tegas Yuri menyatakan pentingnya tindakan pencegahan lebih dari menunggu obat atau vaksin.

Perhatikan dan Ikuti Kebijakan Pemerintah

Yuri mengingatkan untuk tetap memperhatikan dan mengikuti kebijakan Pemerintah. Langkah pertama yang selalu didengungkan adalah  social distancing, dimana pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa  penularan dari Covid-19 ini adalah  bersifat droplet, yaitu percikan lendir kecil-kecil dari dinding saluran nafas dari seseorang yang sakit  yang keluar pada saat dia batuk atau bersin.

Karena itu  beberapa hal yang dilakukan pemerintah adalah pertama, siapapun yang batuk, siapapun yang sedang menderita penyakin influenza harus menggunakan masker.

Kedua, mengatur jarak antar orang, agar kemungkinan tertular penyakit ini menjadi rendah. Implikasinya adalah pertemuan-pertemuan dengan jumlah yang cukup besar  yang memungkinkan adanya  penumpukan orang, maka social distancing dengan jarak kurang dari 1 meter sangat mungkin terjadi.

Ditegaskan kembali oleh Yuri bahwa  perlu disadari oleh seluruh komponen masyarakat untuk tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan yang mengerahkan banyak orang di satu tempat yang tidak terlalu luas dan menyebabkan adanya kerumunan. Ini sangat efektif untuk mengurangi sebaran.

Social Distancing dan Pola Hidup Sehat Harus Dibudayakan

Yuri melanjutkan bahwa saat ini social distancing harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan kerja, kalau tidak memungkinkan bekerja dari rumah, atau dalam kehidupan rumah tangga juga.

Kedua, di dalam konteks upaya mencegah penularan ini maka  penerapan pola hidup sehat dengan selalu mencuci tangan dengan sabun di air mengalir ini juga merupakan langka efektif mencegah penularan Covid-19.

“Ini adalah gerakan yang harus kita budayakan, bukan hanya disosialisasikan, ini sangat bagus untuk secara kelompok, secara masyarakat bisa mengendalikan penyakit ini, “ pungkasnya.

Pencarian Orang Yang Positif Covid-19

Ia juga menambahkan bahwa upaya pemerintah berikutnya adalah melakukan pencarian untuk orang yang positif mengidap penyakit ini agar tidak menjadi sumber penularan di masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here