Pemerintah Segera Lakukan Rapid Test Massal dan Konsultasi Online

0
514
Juru bicara pemerintah untuk penanganan Corona, Achmad Yurianto saat memberikan keterangan pers di kantor Kepresidenan, 06/03/2020 (Foto: Maruli Sinambela/Vibizmedia)

(Vibizmedia – Nasional)  “Pemerintah dalam waktu dekat akan melakukan pemeriksaan secara massal atau disebut screening massal terhadap Covid-19 yang sekarang sedang kita siapkan keseluruhannya,” demikian pernyataan Juru bicara Pemerintah untuk Covid-19, dr. Achmad Yurianto, dalam konferensi pers yang diberikan di Media Center, Kantor BNPB, Kamis (19/3/2020)

Yuri menjelaskan bahwa metode pemeriksaan virus ini memang ada beberapa macam. Jika berdasarkan sensitivitasnya maka yang paling sensitif adalah pemeriksaan dengan metode molekuler yaitu menggunakan PCR.

Sementara itu menggunakan pemeriksaan immunoglobulin atau yang disebut dengan Rapid Test, menurut Yuri adalah  upaya test screening awal yang bisa dilaksanakan secara massal dan ini adakah satu keputusan yang baik.

“Beberapa negara telah melakukan hal ini dan  kitapun akan melaksanakannya,” pungkasnya.

Ia menjelaskan bahwa tujuannya adalah secepat mungkin kita bisa mengetahui tentang kasus positif yang berada di masyarakat dan  tujuannya adalah kemudian melaksanakan isolasi.

Ia memperkirakan bahwa akan mendapatkan kasus positif yang cukup banyak. Tetapi kembali ia menjelaskan bawa bukan berarti  seluruhnya harus masuk ke RS.  Pada kasus positif dengan tanpa gejala atau kasus positif dengan gejala ringan maka tentunya akan diedukasi  untuk melaksanakan isolasi diri, self isolation, yang bisa dilaksanakan secara mandiri di rumah, dengan monitoring oleh Puskesmas atau petugas kesehatan lainnya yang sudah disepakati.

Konsultasi Secara Online

Pernyataan selanjutnya adalah bahwa pemerintah juga selanjutnya mengembangkan bagaimana masyarakat bisa melaksanakan konsultasi mengenai kondisi kesehatannya melalui aplikasi online “Hallodok” .

“Ini yang kita disain sehingga screening massal, pemeriksaan secara massal harus diikuti dengan langkah-langkah sosialisasi, edukasi,  bagaimana melaksanakan isolasi diri self isolation dan ditambah sarana untuk bisa melakukan monitoring dengan baik dan melakukan konsultasi secara virtual dengan menggunakan Hallo dok dan aplikasi yang lain yang  mungkin lebih lanjut  akan dikembangkan,” papar dr. Yuri.

Jika Terbukti Positif Setelah Rapid Test, Lakukan Pemeriksaan PCR

Salah satu hal yang dikemukakan dr. Yuri mengenai pelaksanaan Rapid Test adalah bahwa jika di dalam self monitoring pada saat melakukan rapid test dinyatakan positif gejala moderat atau gejala sakit sedang, maka  tetap harus dilakukan konfirmasi dengan pemeriksaan PCR,  karena PCR memiliki sensitivitas yang lebih tinggi dibanding pemeriksaan Rapid Test.

“ …pemeriksaan rapid test ini dalam rangka untuk meyakinkan masyarakat apakah dirinya tertular atau tidak,” ungkap Yuri.

Namun seandainya tertular, Yuri mengingatkan kembali bahwa bukan berarti harus dirawat di rumah Sakit.  Rapid test ini akan diikuti dengan sosialisasi tentang self isolation / isolasi diri , juga akan diikuti dengan penambahan sarana rawat inap apabila pasien itu memang dalam kondisi sakit sedang atau sakit berat.

Apa itu Rapid Test, Permasalahan dan Keuntungannya

Dalam penjelasannya di hari Rabu (18/3), dr. Yuri menyatakan bahwa Rapid Test memiliki cara berbeda dengan tes Covid-19 yang selama ini dilakukan. Rapid Test akan menggunakan spesimen darah, yang diperiksa adalah  immunoglobulin dan  tidak menggunakan apusan tenggorokan atau apusan kerongkongan.

Salah satu keuntungan dari Rapid Test adalah tidak perlu dilakukan di Laboratorium Bio Safety Level (BSL) 2, jadi bisa dilaksanakan di hampir semua Lab kesehatan yang ada di rumah sakit di Indonesia.

Hanya saja permasalahannya adalah reaksi immunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi corona dibutuhkan jangka waktu paling tidak satu minggu. Kalau belum terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu kemungkinan pembacaan imunoglobulinnya akan memberikan gambaran negatif.

Itu sebabnya Rapid Test harus diiringi dengan isolasi diri. Karena pada kasus positif Covid-19 dengan pemeriksaan Rapid Test dan kemudian tanpa gejala atau memiliki gejala yang minimal indikasinya maka harus melaksanakan isolasi diri di rumah dengan monitoring yang dilaksanakan Puskesmas atau Fasyankes terdekat yang sudah disepakati bersama.

Yuri mengatakan bahwa pemeriksaan Rapid Test harus dipahami dengan pengertian bahwa yang bersangkutan memiliki potensi untuk menularkan penyakitnya kepada orang lain. Itulah sebabnya paling penting adalah melakukan isolasi diri sesudahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here