Rapid Test atau Pemeriksaan Swab? Mana Lebih Baik?

0
413

Masyarakat kini berbondong-bondong ingin melakukan rapid test begitu pemerintah umumkan bahwa rapid test sudah tersedia di Indonesia. Dikatakan Indonesia sudah membeli sebanyak 150.000 unit dari beberapa negara. Bahkan sekelompok orang di media sosial menyatakan ketertarikannya membeli sendiri rapid test untuk melakukan tes mandiri sebagai orang awam. Penjualnya? Tentu ada saja yang menawarkan. Rapid test menjadi pembicaraan dimana-mana seolah-olah bagaikan emas yang dicari. Pertanyaannya apakah perlu membeli sendiri rapid test?

Mari kita perhatikan apa yang dikatakan pemerintah mengenai rapid test. Perlu diketahui bahwa pemerintah mengatakan bahwa rapid test tidak mendapatkan ijin edar. Achmad Yurianto mengatakan bahwa ini adalah hak monopoli pemerintah dan jangan sampai muncul mafia-mafia seperti masker dan sebagainya yang memanfaatkan kondisi ini untuk keuntungan pribadi semata. Rakyat akan mendapatkannya dengan gratis. Jadi jelas sudah, apabila ada yang mendapatkannya dari penjual tertentu berarti itu gelap dan tidak punya ijin edar..

Apa sih Sebetulnya Rapid Test COVID-19?

Rapid test COVID-19 adalah alat pemeriksaan untuk tujuan deteksi dini atau skrining. Cara pemeriksaannya sederhana yaitu dengan memeriksa darah yang diambil dari kapiler, yaitu dari pembuluh darah kecil pada jari tangan. Darah diteteskan ke alat tes dan dapat langsung dilihat positif atau negatifnya. Tes ini akan mendeteksi antibodi IgM/IgG (penanda awal dan akhir) yang ada pada sampel darah.

Berdasarkan informasi dari Press Release Perhimpunan Dokter Specialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia, berikut ini adalah hal-hal yang dapat memperluas wawasan kita mengenai Rapid Test COVID-19. Pertama perlu kita ketahui bahwa dalam mendeteksi suatu patogen ada urutan tingkat kepercayaan (Confidence Level). Berikut ini adalah urutannya mulai dari yang tertinggi ke terendah:

  1. Kultur
  2. Molekular (DNA atau RNA)
  3. Antigen
  4. Antibodi (IgM/IgG/IgA anti pathogen tersebut)

Pemeriksaan kultur virus SARS-CoV-2 saat ini belum bisa dilakukan. Sehingga dengan demikian dalam mendeteksi COVID-19 yang tertinggi saat ini, yang menjadi gold standard adalah pemeriksaan molekular yang diambil dari hasil usap tenggorok, hidung atau sputum pasien. Metode yang digunakan adalah real-time Polymerase Chain Reaction (PCR) dan setelah itu adalah metode Genome Sequencing (Pengurutan DNA). Inilah yang selama ini dilakukan pemerintah di Balitbangkes Jakarta dan telah diperluas di beberapa titik lainnya. Rapid test sendiri ada di urutan terendah.

Apakah Ada Kekurangan dan Kelebihan Rapid Test COVID-19?

Kelebihannya adalah kepraktisannya yang membuatnya tidak memerlukan laboratorium dengan Biosafety Level 2. Dapat dilakukan dimana saja dan hanya memerlukan waktu 15 menit saja.  Kekurangannya tentunya juga ada, antara lain:

  1. Belum ada penjelasan kinetika antibodinya. Sebagaimana kita tahu, antibodi baru terbentuk setelah virus masuk ke dalam tubuh. Dan dalam penelitian terhadap virus baru ini, belum jelas sebenarnya dalam berapa harikah antibodi itu akan terbentuk. Salah satu referensi penelitian yang telah dipublikasi menyatakan bahwa antibodi dapat terdeteksi mulai dari hari ke-6 hingga hari ke-12 sejak timbulnya gejala.
  2. Antibodi yang terdeteksi belum terbukti dapat menentukan infeksi akut saat ini, sehingga belum direkomendasikan untuk diagnostik.
  3. Belum diketahui validitas, antigen, prinsip pemeriksaan, variasi waktu pengambilan spesimen, limit deteksi masing-masing rapid test, interferens dan berbagai kondisi lainnya yang dapat menyebabkan hasil positif palsu dan negatif palsu

Maksudnya positif palsu dan negatif palsu adalah bisa terlihat positif padahal sebenarnya negatif ataupun sebaliknya. Dan hal ini bisa terjadi pada rapid test COVID-19. Sehingga kalau seseorang itu negatif belum tentu ia benar-benar negatif sehingga tetap berpotensi menularkan pada orang lain.

 Penyebabnya positif palsu dan negatif palsu antara lain:

  • Kemungkinan reaksi silang antibodi dengan virus lain. Misalnya virus dengue penyebab demam berdarah.
  • Adanya riwayat infeksi masa lalu dengan coronavirus jenis lainnya
  • Pasien masih dalam masa inkubasi saat sampel diambil
  • Pasien mengalami immunocompromised yaitu mengalami gangguan pembentukan antibodi.

Sehingga hasil positif tidak berarti langsung pasti terinfeksi COVID-19. Dan sebaliknya hasil negatif tidak berarti menyingkirkan adanya infeksi COVID-19 pada ODP atau PDP. Walau metodenya sederhana namun hasil pemeriksaan harus diinterpretasi dengan hati-hati.

Lalu Bagaimana Memastikannya?

Untuk memastikan seseorang positif COVID-19 maka orang tersebut harus diperiksa lagi dengan pemeriksaan PCR. Apabila ditemukan hasil negatif, harus dilakukan pengambilan sampel ulang 7 – 10 hari kemudian.

Semoga informasi ini berguna bagi  kita semua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here