Memahami Apa yang Harus Dilakukan Sesuai Gejala COVID-19

0
337

COVID-19 merupakan suatu penyakit yang belum sepenuhnya dapat dipahami oleh medis seluruh dunia. Dunia bergerak melakukan pertolongan bagi yang sakit namun sambil terus mempelajari tanda, gejala dan therapi terbaik untuk pasien COVID-19. Sebulan terakhir ini, beberapa pasien suspect COVID-19 yang saya temui memiliki gejala yang hampir mirip dengan sakit Typhus. Pola demam yang cenderung sore menjelang pagi adalah gejala Demam Typhoid.   Ada orang yang mengalami mual, ada juga yang tidak. Demam berkisar antara 37,8 C – 40 C. Beberapa hari setelah demam barulah timbul batuk. Ada yang mengalami batuk kering, ada yang memiliki gejala batuk berdahak. Ada juga yang sempat mengalami diare. Gejala pada setiap orang sangat bervariasi. Satu kesamaan saja yang saya temui dari 5 orang suspect adalah pola demam yang menyerupai Demam Typhoid ini. Mereka semua adalah typhus negatif setelah dilakukan pemeriksaan darah pada hari ke-7. Beberapa teman sejawat juga mendapatkan pasien dengan gejala serupa dan laporan dari berbagai tempat ditemukan ada juga komorbiditas dengan demam berdarah dan typhoid.

Gejala COVID-19 memang sangat bervariasi dan gejala ini dibagi menurut tingkat keparahannya menjadi:

  1. Asimptomatik (tidak bergejala)
  2. Gejala ringan
  3. Gejala sedang
  4. Gejala berat/parah

Untuk kondisi asimptomatik, pemerintah memperkenalkan istilah OTG (Orang Tanpa Gejala). OTG adalah yang paling berbahaya karena merasa diri sehat namun menjadi “super spreader” atau penyebar virus di lingkungannya.

Mari kita lihat, gejala umum apakah yang paling sering dialami berdasarkan summary dari berbagai sumber:

  1. Demam (44%-99%)
  2. Rasa lelah lesu (70%)
  3. Hilangnya selera makan (40%)
  4. Mialgia atau nyeri otot (35%)
  5. Sakit kepala (<10%)

Sedangkan gejala pada saluran pernafasan juga tidak selalu hanya batuk kering. Berikut ini gejala yang dapat terjadi pada saluran nafas.

  1. Batuk kering (59%)
  2. Tenggorokan kering (< 20%)
  3. Sesak atau shortness of breath (31%)
  4. Berdahak (27%)
  5. Silent Hypoxemia-tanpa sesak. Hypoxemia adalah keadaan dimana supply oksigen di arteri menurun.
  6. Hypoxemia dengan sesak
  7. Hilangnya penciuman di hidung (40%)
  8. Pilek (<5%)

Gejala pada saluran pencernaan dapat terjadi mual, muntah dan diare. Biasanya terjadi pada 3-10% pasien. Sedangkan gejala lain yang agak jarang juga dapat terjadi misalnya gagal ginjal akut, gejala pada saraf dan lainnya. Masih ada gejala yang dapat dilihat masih lumayan, karena dapat terdeteksi dan dilakukan pengobatan serta pencegahan penularan ke lingkungan sekitar. Melihat pada gejala-gejala di atas maka dapat disimpulkan bahwa dokter harus waspada terhadap semua gejala dan sebaiknya segera melakukan rapid test untuk skrining agar tidak kecolongan atau missdiagnosed.

Untuk saat ini, physical distancing dan rajin cuci tangan serta tidak memegang wajah tetap adalah cara yang terbaik untuk menjaga agar terhindar dari COVID-19. Bila di lingkungan Anda ada orang dekat yang terkena COVID-19 jangan panik. Bila Anda tidak bergejala, Anda adalah OTG. Namun pastikan diri Anda sendiri menjaga imunitas dan monitor diri Anda sendiri selama 14 hari apakah ada gejala yang timbul.

Berikut ini adalah patokan tindakan dan isolasi sesuai dengan panduan dari Kemenkes yang harus dilakukan:

  1. Jika gejala ringan, dapat dilakukan isolasi diri di rumah
  2. Jika gejala sedang, dilakukan isolasi di RS darurat
  3. Jika gejala berat, dilakukan isolasi di RS rujukan

Gejala ringan: Demam >38C, Batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, letih lesu (tanpa pneumonia, tanpa penyakit lain yang menyertai (komorbid)

Pada gejala ringan ini usahakan tidak ke dokter atau puskesmas bila gejala ringan dan manfaatkan jasa online para dokter untuk mendapat obat sesuai gejala. Lakukan saja isolasi mandiri.

Gejala sedang: Demam >38C, sesak napas, batuk menetap dan sakit tenggorokan. Pada anak: batuk dan nafas cepat.   Anak dengan Pneumonia ringan mengalami batuk atau kesulitan bernapas + napas cepat,

Pada gejala sedang, jangan menunda ke dokter bila gejala Anda termasuk gejala sedang agar segera mendapatkan pertolongan medis dan dapat dirawat di RS Darurat.

Gejala berat: Demam >38C yang menetap, ISPA berat/ Pneumonia berat: Pasien remaja atau dewasa dengan demam, bernafas cepat atau sesak nafas berat.

Pasien anak dengan batuk atau kesulitan bernapas, ditambah setidaknya satu dari berikut ini: adanya bibir atau wajah yang membiru, pernafasan berat terdengar seperti mendengkur atau terlihat tarikan dinding dada yang berat , adanya tanda pneumonia berat seperti tidak mampu menyusu, minum, penurunan kesadaran atau kejang.

Pada gejala berat ini maka pasien harus dibawa ke RS Rujukan dan diisolasi di sana.

Semoga dengan memahami gejala ini lebih baik, kita dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap COVID-19.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here