Kemenperin Jaga Demand Pasar Ekspor IKM Furnitur dan Kerajinan

0
358

(Vibizmedia-Nasional) Sektor Industri Kecil Menengah (IKM) furnitur dan kerajinan menjadi salah satu sektor yang punya orientasi ekspor dan berpotensi memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan pihaknya akan menugaskan petugas Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (Indonesian Trade Promotion Center/ITPC) dan atase perdagangan untuk memberikan pengumuman kepada para buyers yang mengimpor furnitur dan craft dari Indonesia agar ordernya tidak dibatalkan.

Hal tersebut dilakukan Kementerian Perindustrian untuk menjaga pasar-pasar tujuan ekspor para pelaku IKM agar tetap melanjutkan pemesanannya dari Indonesia.

Kondisi di tengah pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah wilayah saat ini, menurut Gati, pihaknya akan mengawal pelaku IKM furnitur dan kerajinan dalam negeri agar tetap produktif hingga lancar proses pengapalan produknya.

“Menurut pantauan kami, pelaku IKM kerajinan turut merasakan dampak dari mewabahnya COVID-19 di Indonesia, salah satunya adalah pembatalan pemesanan dari beberapa buyer di luar negeri yang mencapai 3-5 persen”, ungkapnya di Jakarta, Rabu 16 April 2020.

Selain itu, terjadi penangguhan pembelian hingga 70 persen. Berhentinya aktivitas operasional pelabuhan di negara tujuan ekspor juga menjadi salah satu kendala IKM tanah air di sektor furnitur dan kerajinan. Akibatnya, aktivitas ekspor menurun siginifikan yang membuat cashflow perusahaan terganggu hingga mengakibatkan kredit yang dibayarkan berpotensi mengalami kemacetan.

Sejauh ini, ekspor IKM furnitur dan kerajinan telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.

Terbukti pada neraca perdagangan industri furnitur bulan Januari 2019 mengalami surplus, dengan nilai ekspor sebesar USD113,36 juta. Jumlah tersebut naik 8,2 persen dibanding capaian pada Desember tahun 2018. Sedangkan nilai ekspor furnitur nasional sepanjang tahun lalu menembus hingga USD1,69 miliar atau naik 4 persen dibanding raihan 2017.

Selanjutnya, nilai ekspor dari produk kerajinan nasional pada Januari-November 2018 mencapai USD823 juta, naik sebesar USD820 juta dari periode yang sama tahun sebelumnya. Saat ini, industri kerajinan di Indonesia sudah mencapai lebih dari 700 ribu unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,32 juta orang.

Pandemi Covid-19 ini, tambah Gati, juga memberikan dampak terhadap ketersediaan dan harga bahan baku bagi pelaku IKM furnitur dan kerajinan mengalami kenaikan akibat volume impor yang menurun. Sementara itu, perusahaan IKM mematuhi protokol kesehatan dengan menerapkan pembatasan sosial atau social distancing. Hal ini kemudian mengakibatkan perusahaan memangkas produksinya dan membatasi jumlah karyawan yang bekerja.

Berdasarkan kondisi tersebut, Gati sampaikan IKM furnitur dan kerajinan meminta adanya penjadwalan ulang (reschedule) pembayaran kredit bank selama satu tahun, dan reschedule bunga kredit hingga enam bulan dan pembayaran dilakukan setelah enam bulan dengan bunga nol persen.

Selanjutnya, IKM meminta pemberian pinjaman lunak bagi IKM dengan bunga lebih rendah dari Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kemudian, untuk mengatasi persoalan ketersediaan bahan baku, IKM meminta agar program ‘Material Center’ direalisasikan, kemudahan mendapatkan bahan baku dan penolong dari pabrik, hingga pembebasan bea impor bahan baku dan penunjang untuk sektor IKM furnitur dan kerajinan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here