Kemenperin Dukungan Regulasi Proses Produksi Ventilator Karya Perguruan Tinggi

0
505
Ventilator buatan PT Pindad kerja sama dengan Universitas Indonesia. FOTO: PT PINDAD

(Vibizmedia-Nasional) Ketersediaan ventilator untuk membangun penanganan pasien Covid-19 saat ini menjadi kebutuhan. Untuk itu, Kementerian Perindustrian memberikan dukungannya kepada perguruan tinggi yang sedang melakukan produksi alat pernapasan tersebut.

“Pada prinsipnya, Kemenperin sangat terbuka dan mendukung tim perguruan tinggi yang saat ini sedang melakukan proses produksi ventilator. Kami akan mendukung dari sisi regulasi maupun pemberian alat bantu uji sehingga ventilator dapat dengan segera diproduksi,” ungkap Plt. Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier dalam keterangaannya, Rabu 29 April 2020.

Taufiek menekankan agar ventilator yang nantinya diproduksi dapat sesuai dengan ketentuan Kementerian Kesehatan.

“Hal terpenting dalam produksi ventilator ini adalah kesesuaian dengan standar dan parameter yang ditentukan oleh Badan Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kemenkes,” jelasnya.

Dari laporan yang diterimanya, kendala yang sedang dihadapi oleh tim saat ini adalah ketersediaan komponen yang sebagian besar masih harus diimpor.

Terkait dengan hal ini, Taufiek mengatakan pemerintah telah mengeluarkan Perpres No. 58 tahun 2020 tentang Penataan dan Penyederhanaan Izin Impor.

“Kami berharap regulasi ini dapat digunakan dan membantu tim dari perguruan tinggi dalam melakukan impor komponen-komponen yang dibutuhkan untuk memproduksi ventilator,” ungkapnya.

Menurutnya, perkembangan pembuatan ventilator yang dilakukan tim dari berbagai perguruan tinggi tersebut memperlihatkan hasil yang cukup positif. Salah satunya oleh Tim Jogja yang terdiri dari Universitas Gadjah Mada, PT Yogya Presisi Teknitama Industri, STECHOQ, dan Swayasa Prakarsa.

Tim Jogja ini, mengembangkan Ventilator Type-Rapid Deploy/ Ambu Conversion Kit yang akan mulai diproduksi massal pada minggu ketiga Mei 2020 dengan kapasitas produksi 30 unit per hari. Kemudian, Ventilator Type-High End ICU yang akan mulai diproduksi pada awal Juni sebanyak 15 unit per hari.

“Tim juga sedang melakukan pengembangan Ventilator Type-HFNC emergency dengan kapasitas produksi sebanyak 20 unit per hari,” jelas Taufiek.

Selain itu, tim tersebut juga sedang melakukan penjajakan kerjasama produksi dengan PT Pindad (Persero).

“Hal ini merupakan salah satu kolaborasi kerjasama strategis dalam mewujudkan percepatan hadirnya industri ventilator di dalam negeri,” terangnya.

Disamping itu, ada pula tim Universitas Indonesia (UI), yang juga sedang mempersiapkan uji klinis terhadap ventilator produksinya. Uji klinis akan dilakukan bekerja sama dengan Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran UI.
Tim ini juga sedang melakukan penjajakan dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta untuk memproduksi ventilator.

Selanjutnya, tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) sedang mengembangkan ventilator jenis stationary dan transportable ventilator. Kedua jenis ventilator tersebut sedang dalam persiapan akhir untuk pengujian di BPFK Surabaya. Saat ini, Tim ITS sedang mencari mitra industry untuk produksi massal dengan kapasitas produksi 30-40 unit sehari.

Sementara itu, ventilator Vent-I yang diproduksi tim Institut Teknologi Bandung (ITB) telah memperoleh perkembangan yang signifikan. Pada 22 April lalu, Vent-I telah lolos uji di BPFK Jakarta dan akan diuji klinis sebelum nantinya dapat diproduksi secara massal.

“Secara umum, perkembangan yang diperlihatkan tim pengembang ventilator di dalam negeri cukup positif. Kami dari Kemenperin akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai leading sector dalam penanganan Covid-19 untuk memetakan kebutuhan ventilator di Indonesia,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here