Pemerintah Harapkan Stimulus Fiskal Jadi Bantalan Perekonomian Indonesia

0
171
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. FOTO: VIBIZMEDIA.COM|MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Nasional) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah tengah mengantisipasi skenario sangat berat, yakni ekonomi Indonesia tumbuh minus 0,4 persen bila di kuartal III dan IV-2020 tidak terjadi perbaikan.

“Sehingga kemungkinan masuk skenario sangat berat mungkin terjadi dari 2,3 persen menjadi minus 0,4 persen. Kalau kuartal III dan IV tidak mampu recover atau pandemi menimbulkan dampak lebih panjang di kuartal II dan IV, dan PSBB belum ada pengurangan, kalau itu dilakukan kita masuki skenario sangat berat,” ungkap Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI melalui telekonferensi, Rabu 6 Mei 2020.

Sri Mulyani menjelaskan konsumsi rumah tangga sebagai pendorong utama perekonomian juga merosot menjadi hanya 2,84 persen secara tahunan (year on year/yoy) di kuartal I-2020.

Sementara, jika bercermin dari data tahun lalu, konsumsi rumah tangga senilai Rp 9.000 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, dan 55 persennya atau lebih dari Rp5.000 triliun berada di Pulau Jawa.

“Kalau dari Rp9.000 triliun, Rp 5.000 triliun di Jawa dan mereka mengalami kontraksi, maka kalau pun ada bansos Rp110 triliun tidak bisa subtitusi penurunan konsumsi dari Rp5.000 triliun tersebut,” jelasnya.

Kendati demikian, Sri Mulyani berharap stimulus fiskal yang diberikan pemerintah bisa memberikan bantalan yang cukup bagi perekonomian.

“Dari sisi percepatan penggunaan dalam rangka menjaga masyarakat, social safety net, bansos meluas, pemerintah cover minimal 3 bulan, bahkan sampai 6 bulan dan 9 bulan sampai Desember. Kita harap ini cukup beri bantalan sosial, tidak berarti substitusi angka konsumsi yang Rp5.000 triliun di Jawa dan Jabodetabek, namun bisa kurangi mereka yang terdampak PHK dan kehilangan pekerjaan,” terangnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here