Tim Pakar Covid-19: Tekan Angka Pertumbuhan Covid-19, Ekonomi Berjalan

0
187
Ilustrasi ekonomi Indonesia. FOTO: VIBIZMEDIA.COM|SURYATI

(Vibizmedia-Nasional) Tim Pakar Ekonomi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Dr. Beta Yulianita Gitaharie mengatakan bahwa menyelamatkan nyawa dan menekan angka pertumbuhan penularan Covid-19 adalah hal yang penting. Tetapi kegiatan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat juga harus tetap berjalan.

“Memang kalau kita amati, Covid-19 ini telah membawa pengaruh juga perubahan terhadap sendi-sendi kehidupan ekonomi dan masyarakat,” ungkap Beta, Selasa 12 Mei 2020.

Berbicara mengenai Covid-19, maka hal itu tidak hanya soal medis (kesehatan) saja, dampak dari pandemi ini juga membuat ekonomi menjadi lesu. Sebab kegiatan perekonomian harus terhenti dan dibatasi sesuai protokol kesehatan dari pemerintah untuk mencegah semakin meluasnya Covid-19.

Menurutnya, hal itu tentunya juga memperburuk keadaan suatu kehidupan ekonomi masyarakat apabila hanya berpaku pada pengendalian kesehatan saja. Dua hal antara kesehatan dan ekonomi masyarakat harus berimbang.

Selama pandemi, kemerosotan ekonomi dapat dibilang gamblang di depan mata. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan per tanggal 20 April 2020, sedikitnya ada 2 juta pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sebanyak 62 persen ada di sektor formal dan sisanya yakni 26 persen berada di sektor informal dan UMKM.

Untuk itu, masyarakat harus tetap dapat melakukan aktivitasnya dalam menggerakkan roda perekonomian di tengah pandemi Covid-19, kata Beta. Tentu solusinya adalah dengan tetap menerapkan disiplin “New Normal” sebagai fase yang sudah mulai dijalani oleh masyarakat sekarang ini.

“Masyarakat masih tetap bisa melakukan aktifitas, gitu ya. Tetap melakukan aktifitas, juga tetap disiplin dalam memperhatikan atau melakukan protokol pencegahan Covid-19,” ucapnya.

Beta pun menyoroti data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, yang menyebutkan bahwa resiko kematian pasien usia 60 tahun ke atas itu mencapai 45 persen. Data tersebut kemudian diikuti kelompok usia 46-59 tahun dengan resiko kematian 40 persen.

Selain itu, data Gugus Tugas juga meyatakan bahwa ada faktor penyakit penyerta atau komorbiditas hipertensi, diabetes, jantung dan penyakit paru-paru, yang memperburuk kondisi pasien hingga meninggal dunia.

Artinya usia di bawah 45 tahun menjadi lebih stabil dan aman apabila dibanding dengan mereka yang menginjak usia di atasnya. Kemudian kasus kematian Covid-19 sudah jelas dipengaruhi faktor komobiditas.

Lebih lanjut, ketika menengok data Badan Pusat Statistik (BPS), Beta menemukan fakta bahwa sebanyak 130 jiwa dengan usia produktif di bawah 45 tahun menyumbang kontribusi yang tinggi terhadap perekonomian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here