Tatanan Kehidupan Baru Merubah Peradaban Bangsa

0
193
Pedagang di Pasar Pagi Salatiga. FOTO: PEMKOT SALATIGA

(Vibizmedia-Nasional) Sekitar 2 minggu yang lalu, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu kedepan. Artinya masyarakat harus hidup berdampingan dengan Covid-19, karena virus itu tidak akan hilang.

Ditegaskan berdampingan itu bukan berarti menyerah, tetapi menyesuaikan diri. Melawan Covid-19 dengan mengedepankan dan mewajibkan protokol kesehatan yang ketat.

Sampai dengan hari ini, Jumat 22 Mei 2021, jumlah kasus terinfeksi positif mencapai 20.796 kasus, yang meninggal 1.326 orang dan sembuh 5.057 orang. Sebagai gambaran kasus Covid-19 belum menunjukkan penurunan.

Setiap negara yang hendak mencabut karantina wilayah, harus berupaya agar angka reproduksi di bawah satu (1), menurut Kepala Bappenas. Angka reproduksi ini, adalah ukuran tingkat penularan suatu penyakit. Para ahli mengungkapkan angka reproduksi Covid-19 sekitar angka 3, artinya satu penderita bisa menularkan kepada tiga orang. Kriteria pertama ini, menjadi syarat mutlak adalah jumlah kasus baru yang menurun selama dua pekan.

Kemudian di ikuti, sistem pelayanan kesehatan harus berkapasitas maksimal, jumlah tempat tidur rumah sakit maupun instalasi gawat darurat untuk perawatan Covid-19 harus lebih banyak dari jumlah kasus baru, pengawasan dan kapasitas tes swab yang cukup, serta penerapan protokol new normal atau normal baru secara ketat.

Mulai Mengubah Tradisi/Kebiasaan
Pandemi ini memiliki dampak yang luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Selama 2 bulan lebih telah mengubah pola hidup masyarakat tidak hanya Indonesia, tetapi juga dunia. New normal memicu efisiensi dan memacu efektifitas dari cara kita bekerja serta perubahan di berbagai bidang.

Lalu apa sebenarnya new normal itu? Perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Hidup bersih dan sehat. Mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer secara rutin, pemakaian masker dan jaga jarak (physical distancing).

Tidak ada yang tahu kapan virus ini akan hilang dan sulitnya mendapatkan vaksin yang efektif dan aman, sebab virus terus melakukan mutasi.

Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh dan kesehatan ekonomi. Selain angka pengangguran yang makin tinggi, efek ekonomi pandemi corona semakin terasa dengan turunnya pendapatan negara, dan pertumbuhan ekonomi tidak mencapai target.

Jawa Tengah dianggap sebagai salah satu daerah yang proaktif dalam menjaga masyarakat dari penyebaran virus dan mendapat apresiasi dari Presiden. Terbukti kurang lebih 90% dari 868 pedagang di pasar pagi Salatiga menaati protokol kesehatan, menerapkan physical distancing, pedagang yang tidak mengenakan masker tidak diperbolehkan menggelar lapak dagangannya. Jaga jarak ketat dan ekonomi tetap berjalan.

Ricky Ferlianto, Managing Partner Vibiz Consulting menyatakan New normal economy terdiri dari 2 bagian besar. Masalah ekonomi dan hal mengenai perilaku hidup sehat. Untuk masalah ekonomi sebenarnya sudah sesuai dengan visi misi Jokowi dalam soal Unicorn dan sekarang didorong lebih kencang lagi. Jadi kesiapan sudah ada tetapi tetap akan ada kegoncangan dimana akan ada perusahaan-perusahaan yang lambat atau sulit berubah yang akan tumbang, sementara akan banyak tumbuh perusahaan-perusahaan baru yang mengambil kesempatan yang baru muncul. Untuk masalah perilaku hidup sehat, kelihatannya masih baru berlaku di kota-kota besar, belum di kampung-kampung dan di kota besarpun untuk social distancing akan berhadapan dengan kendala antrian transportasi yang tidak dapat tidak tetap akan berjejal.

Peran Serta Semua Pihak
Mengambil bagian untuk menjaga agar protokol kesehatan adalah tugas bersama, bukan hanya pemerintah pusat maupun daerah, tetapi kolaborasi pentahelix. Kesadaran kolektif dari lima komponen, yakni pemerintah, akademisi (pakar), pengusaha, komunitas (kelompok masyarakat), dan media untuk terlibat aktif mengedukasi dan mengawasi warga agar terjaga kesehatan dan ekonominya.

Selain itu, peran penting sektor jasa dengan mengadopsi teknologi tinggi, pada sektor informasi dan komunikasi, jasa keuangan, serta jasa perdagangan ritel mampu merubah paradigma ekonomi. Kinerja perekonomian nasional diharapkan dapat normal kembali melalui konsumsi domestik (konsumsi rumah tangga dan lembaga non profit yang melayani rumah tangga). Konsumsi akan berubah secara total, ekonomi akan berbasis economy of needs, bukan economy of wants, dan ini menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II-2021 (prediksi Kementerian Keuangan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here