Kolaborasi Pentahelix Kunci Keberhasilan Protokol Kesehatan

0
851
Presiden Joko Widodo meninjau kesiapan menuju tatanan normal baru di salah satu pusat niaga di Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa 26 Mei 2020. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Kolom) Menghadapi pandemi tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja. Kemunculan Covid-19 menunjukkan kerentanan Indonesia dalam penanganan situasi pandemi. Kondisi saat ini, menjadi pembelajaran, utamanya pada sistem koordinasi penanganan wabah, serta akomodasi berbagai kepentingan untuk masyarakat yang masih belum teratur di lapangan.

Perlu semangat kebersamaan. Kendati demikian, ada modal sosial yang kita miliki, yaitu solidaritas warga dalam menghadapi situasi krisis, karena akan terasa sangat berat bila dilakukan sendirian atau terkotak-kotak.

Bung Karno, Sang Proklamator pernah berkata “Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama. Dari semua untuk semua”.

Seperti budaya kita yang terbiasa gotong royong, begitu pun seharusnya kita dalam melawan virus corona, yang terwujud dalam tiga dimensi, yakni mencegah, membantu menghadapi pandemi, dan membantu sesama yang kehidupannya terdampak.

Disinilah letak kekuatan pembangunan suatu negara atau wilayah, dan itu perlu didukung oleh semua elemen untuk memutus mata rantainya. Momentum ini, menjadi titik awal untuk lebih mengikat kekuatan kita sebagai bangsa lewat kerja sama. Solidaritas sesama anak bangsa dibutuhkan di tengah masa sulit saat ini.

Membangun Kebersamaan dalam Pembangunan
Dengan ditetapkannya status bencana nasional di Indonesia, kehadiran konsep Pentahelix dalam kerangka kerja menjadi lebih maksimal, dimana unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan media bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan.

Stimulus berupa bantuan safety net kepada masyarakat kecil diberikan pemerintah untuk membantu masyarakat untuk bertahan hidup dan juga menjaga daya beli sehingga perekonomian tetap tumbuh, serta menyusun protokol menuju masyarakat produktif dan aman di tengah pandemi Covid-19, dengan mengacu pada tiga kriteria yang digunakan oleh WHO, yakni epidemologi (angka reproduksi dasar daya tular, harus dibawah satu), sistem kesehatan (suatu wilayah harus mampu memiliki kapasitas tempat tidur, nakes 20% lebih banyak dari adanya kasus baru) dan surveillance (jumlah pengawasan tes tercukupi, tes per 1 juta penduduk >3500).

Masyarakat pun berpartisipasi dengan swadaya melakukan penyemprotan disinfektan dilingkungannya, termasuk berdonasi baik berupa makanan maupun uang. Demi keselamatan murid, guru, dan tenaga pendidik lainnya, memberlakukan pembelajaran jarak jauh melalui daring dan luring hingga kondisi pandemi Covid-19 reda. Pelaku usaha memasarkan produk dari offline menjadi online, memberikan pelatihan dan pendampingan. Akademisi ciptakan inovasi produk alat kesehatan untuk penanggulangan virus corona.

Penyebaran informasi yang cepat, dengan memberikan stigma yang baik dan positif, berdasarkan data-data yang valid dari sumber-sumber terpercaya, termasuk kebijakan terkait protokol kesehatan yang harus dilakukan masyarakat untuk gerakan hidup sehat dengan melakukan cuci tangan pakai sabun, hand sanitizer, memakai masker saat beraktivitas diluar, dan jaga jarak, juga larangan mudik.

Untuk menyiasati berbagai keterbatasan, kolaborasi pentahelix berbasis komunitas menjadi penting agar rakyat ikut memerangi pandemi, sebut Doni Monardo, Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 beberapa waktu lalu. Kolaborasi menuntut adanya kesadaran kolektif, yang memiliki daya efektifitas lebih tinggi daripada koordinasi dan komunikasi serta mampu meruntuhkan dinding-dinding/sekat-sekat yang ada demi mencapai tujuan dan manfaat bersama. Ke depan masyarakat harus menjadi pengawas dari anggota masyarakat lainnya. Mereka yang tidak menjalankan protokol kesehatan harus “disadarkan” oleh masyarakat itu sendiri.

Di sinilah letak indahnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang sangat beragam dan beragama. Kita dapat bersatu demi menghadapi musuh bersama. Semangat persatuan menjadi mindset bersama, perubahan perilaku masyarakat sehingga lebih peduli terhadap kebersihan dan kesehatan diri, keluarga dan lingkungannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here