Wamendag: Jaga Pasar Ekspor Minyak Sawit, Sumber Penghidupan Jutaan Petani di Tanah Air

0
379
kelapa sawit
Ilustrasi kelapa sawit. FOTO: PTPN

(Vibizmedia-Nasional) Kementerian Perdagangan mengajak seluruh pemangku kepentingan industri minyak kelapa sawit bersama-sama menjaga keberlangsungan kinerja ekspor minyak kelapa sawit yang mengalami tantangan dan hambatan perdagangan, terutama di masa pandemi Covid-19.

Menurut Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, keberlangsungan pasar ekspor industri minyak kelapa sawit penting dijaga agar tetap menjadi sumber penghidupan yang layak, khususnya bagi jutaan petani sawit di tanah air.

Sampai dengan saat ini, minyak sawit masih merupakan pilihan paling ekonomis sumber minyak nabati dunia sehingga minyak sawit menjadi pilihan utama substitusi minyak nabati lainnya,” ungkap Jerry Hal saat menjadi pembicara kunci pada Webinar Ngeriung Bareng Sawit dengan tema “Menjaga Pasar Ekspor Sawit di Kala Pandemi”, Senin 15 Juni 2020.

Jerry mengungkapkan hambatan bagi kinerja ekspor sawit saat ini datang dari situasi pandemi Covid-19 dan dari pasar ekspor beberapa negara di dunia. Dampak pandemi bagi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya ditandai dengan penurunan ekspor bulanan sejak awal 2020 setelah sebelumnya mengalami kenaikan ekspor secara nilai dan volume pada akhir 2019.

“Pada Januari-April 2020, kontribusi ekspor CPO dan produk turunannya mencapai 12,4 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai USD6,3 miliar. Kinerja ekspor di beberapa pasar utama sawit juga cukup bervariasi. Meskipun demikian, kita perlu mewaspadai adanya tren penurunan pangsa ekspor sawit dalam ekspor nonmigas kita dalam tiga tahun belakangan ini,” terang Jerry.

Kinerja ekspor sawit Indonesia di pasar India masih menunjukkan peningkatan baik secara nilai maupun volume. Volume ekspor sawit ke India meningkat 11,2 persen (YoY) menjadi 1,64 juta ton dan nilainya tumbuh 55,3 persen (YoY) menjadi USD1,09 miliar.

Nilai ekspor sawit ke Pakistan juga meningkat cukup besar sebesar 22,3 persen (yoy) menjadi USD452,7 juta, meskipun secara volume turun 3,0 persen menjadi 691,5 ribu ton. Sebaliknya, pasar utama lain seperti Tiongkok dan Belanda mengalami penurunan.

Ekspor sawit ke Tiongkok secara volume turun 54,3 persen (yoy) menjadi 879 ribu ton dan secara nilai turun 48,5 persen (yoy) menjadi USD497,4 juta. Begitu pula ekspor sawit ke Belanda volumenya turun 27,9 persen (yoy) menjadi 895,4 ribu ton dan nilainya turun 9,3 persen (yoy) menjadi USD348,3 juta.

Guna menyikapi tantangan pelemahan kinerja ekspor, Jerry mengatakan Pemerintah Indonesia salah satunya telah menerapkan kebijakan B-30. Program MandatoriB-30 adalah program pemerintah yang mewajibkan pencampuran 30 persen biodiesel dengan 70 persen bahan bakar minyak jenis solar.

Program ini dilakukan sebagai langkah strategis memenuhi sumber energi terbarukan Indonesia. Selain itu, program B-30 diharapkan dapat meningkatkan permintaan produk turunan sawit (FAME) di dalam negeri secara efektif.

Upaya meningkatkan konsumsi domestik ini diharapkan dapat mengimbangi penurunan permintaan sawit di tingkat global sehingga turut menjaga stabilitas harga sawit dunia. Kebijakan lainnya yang diharapkan mampu menjaga stabilitas harga CPO yaitu kebijakan pungutan ekspor sawit dan produk turunannya melalui Peraturan Menteri Keuangan No.Tahun 2020.

Untuk itu, pemerintah memutuskan menghapus threshold harga dalam mekanisme pungutan ekspor dan menaikkan besaran pungutan ekspor rata-rata USD5. Pungutan ekspor ini diharapkan mampu mempertahankan momentum hilirisasi industri turunan sawit di dalam negeri sekaligus menjaga daya saing produk agar tetap kompetitif dibandingkan negara pesaing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here