Sektor Konsumsi Topang Ekonomi Indonesia

0
171
Ilustrasi konsumsi rumah tangga. FOTO: KEMENDAG

(Vibizmedia-Kolom) Pandemi menjadi momentum bagi Industri Kecil Menengah (IKM) Indonesia untuk naik kelas, dengan syarat perlu ditopang dengan terbentuknya ekosistem di lingkungan pelaku bisnis dalam menyambut Industri 4.0.

Kita perlu sepakat, satu hal yang pasti di dunia ini, adalah perubahan itu sendiri. Sekarang itu terjadi, hampir seluruh umat manusia di dunia, bukan saja selama masa pandemi tetapi juga pasca pandemi, mengubah cara konsumsi kita dari yang sebelumnya offline menjadi online.

Mengapa dikatakan momentum dan perlu diterapkan secara menyeluruh? Karena tingginya konsumsi domestik terjadi lewat usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan IKM, ini berkah di tengah tantangan pandemi yang dihadapi bangsa Indonesia.

Kenapa dikatakan berkah? kita punya pasar domestik yang sangat besar, yang merupakan potensi bagi kita. Pasar dengan populasi 270 juta orang. Produk industri unggulan kita juga kompetitif dengan produk dari impor. Belum lagi ditambah negara-negara tetangga yang menjadi sumber ekspor kita. Beberapa waktu yang lalu, di tengah pandemi, Uni Emirat Arab (UEA) membeli buah-buahan dan sayur mayur dari para petani dan UMKM kita.

Meski aktivitas ekonomi mulai membaik pada kuartal pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencatatkan positif, 2,97 persen. Sementara untuk kuartal II-2020 ini, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia sekalipun mengalami kontraksi berkisar di 0,9-1,9%. Kontraksi disebabkan kinerja ekspor pada kuartal II turun, sejalan dengan kontraksi perekonomian global. Sementara, konsumsi rumah tangga dan investasi juga turun akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mengurangi akitivitas ekonomi masyarakat.

Kondisi ini berpeluang meningkatkan jumlah pengangguran dan angka kemisikinan, serta menurunkan daya beli masyarakat. Untuk itu, pemerintah fokus pada sektor konsumsi dan investasi, agar pertumbuhan perekonomian di kuartal II dan seterusnya dapat terjaga.

Sebab kita tahu. ekonomi digerakkan oleh 2 kekuatan, demand dan supply. Pandemi cukup memukul keras ekonomi Indonesia pada kedua sisi tersebut, dari sisi supply produksi barang dan jasa bisa di atas 70 persen.

Bukan saja di dunia usaha (supply), seperti manufaktur, perdagangan, transportasi, akomodasi dan industri makanan dan minuman, pertanian, pertambangan, serta kontruksi juga tak bisa menghindar dari dampak dahsyat Covid-19. Melihat kondisi, pilar-pilar pertumbuhan kita berasal dari konsumsi dan investasi. Oleh karena itu, agar growth terjaga, pemerintah fokus pada konsumsi dan investasi.

Untuk itulah, pemerintah memberikan perhatian khusus untuk mendorong UMKM dan IKM agar bisa punya jaringan bisnis online lewat e-Commerce atau program e-Smart industri kecil dan menengah (IKM) dengan memanfaatkan platform digital melalui kerja sama dengan perusahaan startup di Indonesia agar pengembangan kapasitas sektor ini mendominasi populasi industri di Indonesia. UMKM Penyangga Ekonomi Nasional di Saat Pandemi

IKM punya sistem database menyajikan profil industri. Sentra dan produknya diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada melalui ekonomi berbasis digital, peningkatan ekspor IKM, serta perluasan akses pasar dan akses pendanaan dengan tujuan dapat menjadi showcase produk sendiri yang didukung oleh infrastruktur digital dengan backbonenya Palapa Ring, Satelit BRI, dan PLN.

Pengaruh Sektor Konsumsi dalam Perekonomian
Pertumbuhan ekonomi di Indonesia hampir 90% berasal dari sektor konsumsi rumah tangga dan investasi. Dalam upaya menjaga ekonomi bisa tetap tumbuh, pemerintah akan fokus di dua sektor tersebut. Konsumsi (pengeluaran rumah tangga) dan investasi (sektor usaha). Berpengaruh kepada perekonomian karena PDB adalah hasil pengabungan dari konsumsi, investasi dan pengeluaran pemerintah (ekspor dikurangi impor).

Peran konsumsi rumah tangga saat ini secara langsung akan berdampak pada peningkatan PDB Indonesia. Dengan adanya konsumsi rumah tangga diharapkan dapat membantu mengurangi beban belanja pemerintah. Hal ini terjadi sebagai akibat dari kondisi perekonomian luar negeri yang masih tetap tidak mendukung dan terlebih dengan lemahnya daya beli masyarakat membebani konsumsi rumah tangga.

Sehingga pemerintah sangat mengandalkan kenaikan investasi publik dan belanja pemerintah, oleh karena itu peran konsumsi rumah tangga sangat dibutuhkan. Dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga akan mengurangi risiko ekonomi yang kini sedang dihadapi oleh Indonesia. Ini sangatlah penting karena dapat meningkatkan PDB Indonesia.

Berdasar survei IHS markit menunjukan Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada bulan Mei 2020 sebesar 28,6 meningkat dari bulan April sebesar 27,5. IHS markit memprediksi pelemahan masih akan terjadi di kuartal II tahun ini.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang seperti konsumsi, kesehatan, dan komunikasi yang diharapkan dapat mengurangi volatilitas. Penyaluran stimulus perlindungan sosial dan bantuan untuk dunia usaha mesti dipercepat agar lebih optimal mendorong pertumbuhan konsumsi. Jika konsumsi dan daya beli masyarakat kembali tumbuh, Indonesia bisa terhindar dari resesi ekonomi.

Pandemi membuat konsumsi makanan minuman masyarakat meningkat drastis karena merupakan salah satu kebutuhan prioritas. Sektor ini, diperkirakan relatif tahan banting (resilient) dibandingkan sektor usaha yang lain porsi konsumsi rumah tangga untuk makanan dan minuman terhadap total pengeluaran terus meningkat setiap tahun.

Porsi konsumsi rumah tangga berdasarkan kelompok pengeluaran untuk makanan dan minuman, selain restoran, menyumbang 40,81% hingga kuartal I-2020. Angka ini meningkat dibanding kuartal I-2019 sebesar 39,22%.

Selain itu, konsumsi rumah tangga terhadap perumahan dan perlengkapan rumah tangga juga meningkat pada kuartal I-2020 menjadi 12,94%, dibanding kuartal I-2019 yang masih sebesar 12,87%.

Sektor industri barang dan konsumsi merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat pada umumnya, diantaranya makanan, minuman, produsen tembakau, farmasi, kosmetik, peralatan rumah tangga dan lainnya. Secara umum, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami koreksi, namun masih cukup wajar dibandingkan negara-negara lain. Stabilitas makro dan confidence market terus dipertahankan di dalam momentum mengembalikan pemulihan ekonomi terutama pada kuartal ketiga (Q3) ini.

Berdasarkan perkiraan Kementerian Keuangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan sangat ditentukan oleh capaian di kuartal III (Q3). Memang belum dapat dipastikan, apakah lebih baik dari Q2 dan Q4. Paling tidak, recovery yang mulai muncul dan menguat.

Proyeksi APBN tahun 2020 masih menggunakan asumsi antara -0,4% hingga 2,3%. Namun berdasarkan hasil asessment terkini, terdapat indikasi bahwa kinerja di Q2 lebih baik dibanding hasil asessment Mei 2020 dan itu memberikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh positif di 2020.

Realisasi pendapatan negara sampai dengan 31 Mei 2020 mencapai Rp664,3 triliun atau 37% dari target penerimaan sesuai ketentuan Perpres 54 Tahun 2020, tetapi terkontraksi 9% jika dibandingkan dengan tahun lalu. Belanja negara mencapai Rp843,9 triliun atau mencapai 32,3%, tapi terkontraksi 1,4%. Dengan demikian, realisasi defisit mencapai Rp179,6 triliun atau 1,1% dari PDB.

Indonesia dapat melalui pandemi ini dengan solidaritas antar sesama anak bangsa dan berbagai pihak, saling menjaga satu sama lain, dan juga saling membantu yang sedang kesulitan. Dengan tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan sebagai kuncinya, serta memprioritaskan membeli karya dan produk dari pelaku UMKM dalam negeri. Sehingga terciptalah momentum berupa perubahan yang besar dan baik bagi industri dalam negeri agar menjadi tuan di negerinya sendiri dan menopang perekonomian bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here