Gugus Tugas Nasional: Positivity Rate Juni 2020 Capai 12%, Turun dari Mei 13%

0
74
Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah. FOTO: BNPB

(Vibizmedia-Nasional) Epidemiolog Gugus Tugas Nasional Dewi Nur Aisyah menerangkan positivity rate tidak hanya dilihat dari angkanya saja, melainkan dari jumlah orang yang diperiksa.

Menurutnya, secara nasional positivity rate Indonesia mencapai 12% yang masih di atas standar positivity rate yang ditetapkan WHO yaitu sebesar 5%. Namun jika dibandingkan bulan Mei lalu positivity rate saat ini lebih rendah.

“Di pertengahan Mei ada 3,448 orang positif dalam waktu satu minggu. Orang yang diperiksa itu ada 26,000. Jadi dari 26,000 orang ada 3,000 yang positif. Sehingga, angka positivity nya adalah 13%,” jelas Dewi dalam keterangannya di Graha BNPB, Rabu 1 Juli 2020.
Dewi juga menjelaskan data di bulan Juni dengan rata-rata 8.000 kasus baru dalam satu minggu dan orang yang diperiksa mencapai 55.000 sehingga saat ini positivity rate nya 12%.

Dengan demikian dapat dikatakan kecepatan penularan melambat dari bulan sebelumnya. Dewi menambahkan jika angka nasional 12%, maka setiap kabupaten-kota memiliki cerita yang berbeda, jika ditelaah dari jumlah orang positif dibandingkan dengan jumlah orang yang diperiksa.

“Jumlah kasus terbanyak memang dari Surabaya, tapi begitu dilihat dari dengan perbandingan 100.000 penduduk, ceritanya jadi berbeda. Walaupun Surabaya masuk lima besar, tapi kalo dari provinsi tidak masuk ke 5 besar,” terangnya.
Kepadatan memang jadi salah satu faktor risiko dalam penularan Covid-19. Untuk saat ini, laju insidensi terkait dengan rumusnya berdasarkan padatnya jumlah penduduk.

“Kita bisa melihat bahwa Jawa Timur merupakan zona titik merah, padahal kalo saya melihat Jawa Timur dengan seluruh kabupaten kotanya, ternyata dari semua kabupaten kotanya itu tidak semua itu angkanya tinggi,” katanya.
Perbandingan positivity rate juga dapat dilihat dari jauhnya perbandingan jumlah penduduk dengan jumlah kasusnya.

“Peringkat pertama Kota Surabaya dengan jumlah kasus 5.700, tapi ternyata peringkat keduanya Kabupaten Sidoarjo dengan 1.387 kasus yaitu seperempat kasus dari Surabaya, peringkat ketiganya Gresik itu sepersepuluh dari kasus Surabaya, apalagi yang terkecil di Ngawi hanya sekitar 23 kasus,” tegasnya.

Jadi ketika berbicara Indonesia, bahkan Jawa Timur saja dengan 30 lebih kabupaten-kota itu tidak bisa disamakan seluruhnya memasuki zona merah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here