Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dan Pemulihan Sektor Industri

0
694
Ilustrasi industri di Indonesia. FOTO: VIBIZMEDIA.COM|MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Kolom) Per 28 Juli total kasus di dunia mencapai 16,6 juta. AS, Brazil, India, Rusia, dan Afrika Selatan menjadi negara-negara dengan kasus terbanyak. Kebijakan pembatasan sosial atau lockdown dilakukan untuk menahan laju penyebaran. Pembatasan sosial/lockdown pada April dan Mei menyebabkan turunnya mobilitas masyarakat. Sejak pertengahan Mei, sebagian negara mulai merelaksasi dan mobilitas masyarakat meningkat meski belum kembali sepenuhnya normal.

Sumber: Bappenas

Kontraksi ekonomi yang dalam terjadi hampir di semua negara. Negara dengan penanganan Covid-19 yang baik, mengalami penurunan mobilitas dan kontraksi ekonomi yang lebih rendah. Aktivitas perekonomian dunia mulai membaik seiring dengan relaksasi pembatasan sosial/lockdown sejak pertengahan Mei. Aktivitas perdagangan dan sektor industri meningkat. Harga komoditas mulai membaik seiring dengan pulihnya permintaan. Volatilitas sektor keuangan dunia mereda. Ekonomi dunia diperkirakan mengalami resesi dengan risiko memburuk jika terjadi second wave. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan mengalami rebound pada tahun 2021.

Sumber: Bappenas

Risiko second wave mulai terlihat di beberapa negara dunia. Australia merespon second wave dengan menerapkan kembali pembatasan sosial yang ketat/lockdown. Risiko second wave dan penerapan kembali pembatasan sosial akan menyebabkan pemulihan ekonomi berjalan lambat.

Sumber: Bappenas

Ekonomi diperkirakan mengalami kontraksi cukup dalam pada Q2 2020. Ekonomi akan pulih pada Q3 dan Q4 didorong oleh pemulihan ekonomi global, relaksasi pembatasan sosial, dan percepatan realisasi program PEN serta belanja pemerintah. Pemulihan bergantung pada penanganan kasus Covid-19 dan efektivitas penerapan new normal. Apabila tidak berhasil, pemulihan ekonomi akan berjalan lambat dan ekonomi dapat menuju resesi.

Sektor industri terkontraksi tetapi mulai pulih, PMI Sektor Manufaktur Indonesia di bulan Juni 2020 berada di level 39,1—naik signifikan selama masa Covid-19 sebesar 37 persen dibandingkan situasi di bulan Mei 2020. Ekspektasi bisnis mulai membaik signifikan selama 5 bulan terakhir (Jan-Mei 2020) di tengah pelonggaran PSBB di Indonesia.

Perbaikan nilai PMI cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya terjadi pada beberapa subkomponen, yaitu: (i) Subkomponen Output, (ii) Subkomponen New Export Orders, (iii) Subkomponen New Orders. Perbaikan di 3 subkomponen ini menunjukkan bahwa permintaan pasar sudah mulai pulih dan utilisasi produksi mulai meningkat. Penyerapan tenaga kerja mulai berangsur pulih yang ditunjukkan pada nilai sub komponen Employment meningkat 24 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang menunjukkan pertumbuhan negatif (m-o-m).

Harga input relatif masih tinggi karena kenaikan harga bahan baku, kekurangan pasokan dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sementara, kemampuan perusahaan untuk meningkatkan harga jual masih terbatas di tengah tren penjualan yang melemah. Utilisasi kapasitas produksi sektor industri menurun drastis, Hanya sektor berbasis konsumsi domestik dan terkait kesehatan yang mampu tumbuh tinggi.

Sumber: Kementerian Perindustrian, 2020

Estimasi yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian melalui komunikasi dengan dunia usaha menunjukkan sekitar 5,5 juta tenaga kerja industri sudah dalam status tidak bekerja, baik karena PHK ataupun dirumahkan. Jumlah pengurangan tenaga kerja sejumlah 5,5 juta orang tersebut setara dengan kurang lebih 30 persen dari total tenaga kerja industri besar dan sedang yang secara keseluruhan mencapai 18,5 juta tenaga kerja. Pengurangan tenaga kerja sebesar 5,5 juta orang tersebut diperkirakan menghapus hampir keseluruhan penciptaan lapangan kerja industri yang telah dilakukan selama 10 tahun terakhir. Indonesia kehilangan 1 dekade penciptaan tenaga kerja industri.

Periode pemulihan didefinisikan sebagai periode pada saat nilai output produksi kembali pada tingkat output pada periode 2019-TW4 sebelum terjadi pandemic Covid-19. Secara global, mayoritas dampak terbesar diproyeksikan terjadi pada 2020-TW2 dengan penurunan tingkat output dapat melebihi -20 persen dibandingkan dengan nilai output sebelum pandemi Covid-19 terjadi di 2019-TW4.

Negara-negara industri diperkirakan baru dapat pulih dengan membutuhkan waktu paling tidak 12 bulan (dari periode terburuk). Tergantung tingkat keparahan pandemi, kebijakan pembatasan sosial dan struktur ekonomi, periode pemulihan dapat mencapai lebih dari 3 tahun pada skenario terburuk.

Sumber: Bappenas

Program pemulihan sektor industri yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu Maret-Desember 2020 sudah dipersiapkan oleh Kementerian Perindustrian. Memastikan alur alir bahan baku untuk produksi alat kesehatan, makanan minuman, dan kebutuhan masyarakat lainnya. Restrukturasi mesin dan peralatan pada perusahaan dan IKM yang terdampak Covid-19. Penyelenggaraan teaching factory yang bekerja sama dengan SMK dan Politeknik dalam pengembangan produk untuk kesehatan (e.g handsanitizer). Pengembangan wirausaha IKM dengan fokus pada tenaga kerja yang terkena PHK pada masa Covid-19.Penelitian dan pengembangan pada produk kesehatan yang bekerja sama dengan universitas dan lembaga litbang lainnya. Pelaksanaan Diklat-Sertifikasi-Penempatan (Diklat 3-in-1) untuk mendorong penyerapan tenaga kerja industri. Monitoring berkala penerapan Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) untuk mengetahui kelangsungan produksi dan memantau potensi gelombang kedua pandemik. Implementasi Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) pada program pemerintah dan Percepatan Investasi Industri yang tertunda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here