Dirgahayu RI : Bangkitkan Solidaritas Kebangsaan!

3
581
DOK: SETNEG

(Vibizmedia-Kolom) Menghindari kerumunan yang menjadi ciri khas perayaan upacara peringatan 75 tahun kemerdekaan Indonesia ini jadi gambaran betapa sederhananya perayaan hari jadi Republik Indonesia pasukan dan petugas upacara tidak akan sebanyak biasanya. Penonton yang senantiasa ramai memamerkan pakaian adat nasional tidak ada kali ini. Upacara di Istana Merdeka digelar dengan kehadiran sesedikit mungkin orang.

Pandemi Covid-19 mengubah drastis wajah perayaan kemerdekaan biasanya gegap-gempita namun kini diliputi keprihatinan dan kesederhanaan. Akankah kita lolos ujian solidaritas demi bersama-sama segera keluar dari kesulitan? Kita merayakan peringatan ulang tahun ke-75 kemerdekaan Republik Indonesia, alih-alih gegap gempita perayaan penuh kesederhanaan karena pandemi memaksa semua orang menjadi bijaksana.

Meminta banyak pejabat negara untuk upacara secara daring di rumah saja. Pandemi Covid-19 memaksa kita semua bijaksana untuk tidak melakukan kegiatan yang kerap diiringi kerumunan demi mengedepankan kesehatan dan keselamatan bersama. Kewajiban untuk menjaga kebersihan jaga jarak dan mengenakan masker selama acara berlangsung.

Pengibar benderanya sangat minimal yaitu hanya 3 orang saat pengibaran penurunan dan ini akan menjadi pedoman daerah upacara kemerdekaan yang bertugas itu nanti untuk peserta upacara itu orang setiap angkatan jadi dari TNI dan polisi itu hanya 5 orang setiap orang yang sangat minimalis. Diutamakan dengan menggunakan masker dan juga sarung tangan kita tetap mengutamakan kesehatan.

Bersama seluruh negara di dunia, Indonesia di usianya yang ke-75 tengah menghadapi ujian berupa pandemi. Kesabaran dan kebesaran hati kita diuji kita berhasil menjaga sesama agar segera keluar dari pandemi. Penderitaan dan kekurangan saudara kita adalah juga penderitaan kita, karena itulah mengapa kita sama sama lahir dibumi tercinta ini yaitu untuk saling sepenanggungan. Solidaritas menjadi konsep penting saat perayaan kemerdekaan di tengah masa sulit. Sama dengan 75 tahun yang lalu solidaritas jadi kunci kita bisa bersatu memproklamasikan kemerdekaan kini solidaritas kembali jadi kunci untuk bisa segera keluar dari pandemi.

Tidak ada moment yang terbaik bagi bangsa kita yang sudah berusia 75 tahun untuk menunjukkan Solidaritas kita dari pada moment dimana bangsa kita juga seluruh bangsa sedang mengalami pandemi Covid-19. Pertanyaannya sudahkah kita menghargai sesama warga negara sebesar kita menghargai diri sendiri? Penghargaan terhadap sesama ini penting di tengah mewabahnya Covid-19.

Perilaku kita bisa jadi berdampak pada keselamatan orang lain, kelalaian kita bisa jadi petaka buat tetangga atau kolega. Kita bisa tunjukkan solidaritas kita dengan membagi sebagian dari apa yang kita miliki untuk meringankan beban saudara kita yang kekurangan, mungkin bantuan sandang pangan bagi yang terdampak PHK, atau mereka yang penghasilannya menjadi turun karena dampak pandemi ini, para sopir-sopir ojol, yang keluarganya dirumah menantikan kepulangan mereka dengan membawa rezeki pada hari itu. Solidaritas kita juga dapat kita tunjukkan dengan memberikan semangat bagi para Medis yang sementara melakukan tugas kemanusiaan tapi juga mengandung resiko tinggi pada dirinya sendiri yaitu membantu menyediakan APD dan obat obatan supaya imunitas mereka tetap terjaga.

Cara kita berjuang tidak lagi dengan memanggul senjata, kini di tengah penularan Covid-19 yang belum kunjung terkendali cara kita berjuang adalah dengan taat menjalankan protokol kesehatan. Sebagai senjata kita menekan penyebaran Covid-19 adalah menjaga jarak mencuci tangan sesering mungkin dan selalu mengenakan masker.

Paling sederhana solidaritas kita ialah kita sendiri mematuhi himbauan pemerintah untuk tetap memakai masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak, dengan demikian jika semua melakukannya maka itu sudah merupakan solidaritas kita bersama. Sesederhana itu, disiplin diri tidak hanya akan menjaga diri sendiri tetapi juga bisa menghindarkan orang lain dengan kondisi fisik tidak sekuat kita untuk terhindar dari virus yang sudah merebut ribuan nyawa. Inilah pertanyaan yang harus kita jawab : ”Sudahkah kita punya Solidaritas tinggi terhadap mereka yang secara fisik lebih lemah dengan cara menjaga kedisiplinan diri sendiri atau jangan-jangan kita masuk golongan manusia egois hanya memikirkan kenyamanan dan kesenangan sendiri tanpa berpikir panjang apa dampak perilaku kita terhadap sesama.”

Karena itu marilah kita tunjukkan kedewasaan solidaritas kita dengan memegang prinsip bahwa kita yang ada di bumi Nusantara ini semua adalah saudara dalam sebangsa dan setanah air sehingga dalam menunjukkan solidaritas kita, kita tidak dibatasi oleh tembok tembok latar belakang suku, agama, bahasa, ekonomi dan kebudayaan. Merdeka!

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here