Menanti Titik Balik Perekonomian Indonesia, Suatu Optimisme

Ilustrasi Perekonomian Indonesia. FOTO: KEMENKEU

(Vibizmedia-Kolom) Banyak orang mengkuatirkan akan kondisi perekonomian Indonesia, memasuki kuartal III. Hal ini disebabkan karena Indonesia pada kuartal II tahun 2020 Indonesia mengalami kontraksi sebesar minus 5,3 persen. Ini merupakan kontraksi terdalam selama 5 tahun terakhir, data BPS 2015-2020, Indonesia selama ini rata-rata tumbuh sebesar 5 persen.

Sumber: BPS 2020

Kontraksi yang terjadi dalam perekonomian Indonesia masih lebih baik dibandingkan kontraksi yang terjadi pada negara lain yang mencapai dua digit minusnya. Singapura terkontraksi hingga minus 13,2 persen. Kondisi Malaysia lebih dalam lagi hingga minus 17,1 persen. Filipina terkontraksi minus 16,5 persen dan Thailand minus 12,2 persen.

Analis Vibiz Research Center melihat kebijakan cepat tanggap yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia sudah sangat tepat. Pemerintah Indonesia dengan cepat mengeluarkan sederet kebijakan program perlindungan kesehatan masyarakat dan pengamanan sosial, disertai dengan sejumlah stimulus kebijakan pelonggaran fiskal dan moneter dengan dana tambahan APBN 2020 senilai Rp 695.2 Triliun.

Hal tersebut diakui lembaga internasional, termasuk analisis riset Morgan Stanley. Indonesia disebut-sebut dalam riset Morgan Stanley yang bertajuk “Which Economy Emerges First on the Path to Recovery?” sebagai salah satu negara di Asia dengan peluang pemulihan ekonomi tercepat paska pandemi Covid-19 ini.

Baca Juga: Indonesia Termasuk Negara Berpeluang Pemulihan Ekonomi Cepat: Riset Morgan Stanley

Kontraksi Ekonomi Kuartal II Tahun 2020 (year on year)
Indonesia Dibandingkan Negara-Negara di Dunia

Sumber : The Eurostat ‘flash estimates’ for GDP & OECD

Disebutkan juga bahwa negara yang menerapkan kebijakan lockdown ekonominya cenderung lebih terpukul, double hit, bahkan. Mempelajari apa yang terjadi selama lockdown yang diterapkan di Perancis, Italia, Spanyol, dan negara lainnya: aktivitas ekonomi turun lebih tajam dari pada yang pernah dialami. Semakin ketat lockdown semakin terkontraksi ekonominya, seperti dalam grafik berikut ini.

Karenanya kita patut mensyukuri ketika Pemerintah tidak menerapkan lockdown melainkan PSBB pada sejumlah kota dan wilayah. Dengan PSBB setidaknya masih ada sejumlah lapangan pekerjaan yang tetap bertahan di tengah pandemi, tidak sepenuhnya semua terkunci.

Industri manufaktur adalah salah satu segmen yang terdampak tetapi tidak termasuk dikunci. Ketika BPS merilis laporan ekspor impor Juli 2020, berita yang menggembirakan adalah kinerja neraca perdagangan Indonesia, dimana lebih besar ekspor dari pada impor. Dalam pertemuan dengan komisi 10 DPR, Menteri perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita beberapa waktu lalu menyatakan bahwa ekspor manufaktur pada bulan Juli 2020 lalu naik hingga 15 persen yang memberikan kontribusi besar bagi neraca perdagangan Indonesia.

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Agustus dirilis berada di level 50,8, naik dari level pada bulan sebelumnya di 46.9. Angka di bawah 50.0 menandakan sedang kontraksi sedangkan angka di atas 50.0 menandakan sedang ekspansif, karena melampaui ambang netral 50.0. Pada bulan sebelumnya kondisi masih kontraksi tetapi pada bulan Agustus sudah berhasil melewati kondisi kontraksi, sudah memasuki kondisi ekspansif.

Ini adalah pertama kalinya, indeks manufaktur Indonesia kembali ke level ekspansif sejak merebaknya wabah penyakit yang disebabkan oleh virus corona, atau sejak bulan Februari 2020. Berita ini memberi sinyal bahwa ada pergerakan positif pada ekonomi Indonesia, khususnya industri manufaktur yang menyumbangkan 60 persen dari total ekspor Indonesia.

Strategi Indonesia

Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu menyampaikan agar berhati-hati mengelola kesehatan beriringan dengan ekonomi, “gas dan remnya betul-betul diatur” kata Presiden. Jangan sampai melonggarkan tanpa sebuah kendali rem, sehingga ekonomi bagus namun juga Covid 19 akan naik, bukan itu yang kita inginkan. Covid 19 terkendali namun juga ekonomi tidak menganggu kesejahteraan masyarakat. Kalau kita bisa mengatur antara gas dan rem, antara kesehatan dan ekonomi, inilah yang kita harapkan dan menjadi tanggung jawab kita semuanya. Dengan prinsip gas dan rem tersebut, Presiden membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional pada 20 Juli 2020. Tujuannya agar ada keseimbangan penangangan pandemi Covid 19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Presiden dalam pidato kenegaraan Sidang Tahunan MPR 2020, di Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2020, menyatakan, “ketika krisis kesehatan berdampak kepada perekonomian nasional, kita juga harus cepat bergerak.” Dalam pidato tersebut Presiden juga menyatakan, “Bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan kemajuan: reformasi di segala sektor dan pembenahan diri secara fundamental, reformasi fundamental. Itulah strategi kita di masa krisis ini, meraih kemajuan di segala bidang, dan mencegah resesi di bidang perekonomian, lalu mempercepat pertumbuhan ekonomi pada 2021 dengan perkiraan 4,5 – 5,5 persen.”

Keseimbangan antara kesehatan dan ekonomi, antara gas dan rem, cepat bergerak dan justru melakukan lompatan kemajuan, merupakan strategi Indonesia dan memberikan optimisme, arah yang jelas untuk apa yang dilakukan bagi Indonesia ke depannya.

Trend Positif Indonesia

Dalam sebuah wawancara, Erick Thohir, Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional membagi proses kerja komite berdasarkan tiga hal, yaitu: “Indonesia Sehat, Indonesia Kerja dan Indonesia Tumbuh”.

“Indonesia sehat” ditunjukan dengan adanya tren kesehatan yang semakin baik. Kondisi per 7 September 2020, angka total yang sembuh adalah 140.652 orang. Ini menunjukkan bahwa prosentase jumlah kasus sembuh semakin meningkat, yaitu sejumlah 71,4 persen jika dibandingkan kasus positif akumulatif yang sejumlah 196.989 orang. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dari rata-rata dunia sebesar 69 persen.

Tingkat fatality rate bisa ditekan sampai 4,35 persen, walaupun masih sedikit di atas rata-rata global, namun sudah jauh menurun dibandingkan dengan tingkat pada bulan-bulan sebelumnya.

“Indonesia kerja”, memiliki tren yang lebih baik, dimana dari pagu anggaran sebesar Rp 695 triliun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional ini, 30 persen dari total anggaran ini ditujukan untuk perlindungan sosial masyarakat yang terdampak pandemi, dengan angka hingga Rp. 203,9 triliun. Realisasinya sudah meningkat mencapai 25%.

Sumber: LPEM FEUI

Baca Juga: Belanja Pemerintah akan Selamatkan Ekonomi Indonesia dari Resesi

“Indonesia kerja” tentu juga disertai dengan program stimulus di bidang moneter. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 16 Juli 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 3,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Keputusan tersebut sebagai langkah lanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi masa pandemi.

“Indonesia tumbuh”, merupakan program kerja komite selanjutnya. Setelah “Indonesia sehat, Indonesia kerja” maka selanjutnya bagaimana memacu agar ekonomi Indonesia bisa bertumbuh. Selama ini hal yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi, baik konsumsi masyarakat maupun konsumsi pemerintah. Konsumsi masyarakat terdiri dari konsumsi bahan makanan sehari-hari, sandang, juga konsumsi untuk perjalanan wisata, kuliner yang berkaitan dengan gaya hidup. Ketika pandemi terjadi maka sisi konsumsi ini yang mengalami penurunan. Masyarakat mengurangi konsumsi karena alasan kesehatan, dan turunnya daya beli masyarakat karena berkurangnya pendapatan.

Untuk masyarakat yang berkurang pendapatannya, pemerintah memberikan bantuan langsung tunai untuk menguatkan daya beli masyarakat dan membuat konsumsi bergerak. Selain itu, masyarakat yang enggan berkonsumsi karena alasan kesehatan, harus diyakinkan dengan keamanan kesehatan di masyarakat. Faktor yang mendorong keamanan kesehatan adalah tingkat kesembuhan yang meningkat, penemuan obat, penemuan vaksin merah putih, kedisiplinan protokol kesehatan masyarakat itu sendiri.

Menurut penelitian Universitas Indonesia, masyarakat tidak mengalami resistensi yang kuat dalam penerapan protokol kesehatan seperti terjadi di beberapa negara, meskipun rasio kesadaran masyarakat yang rendah memang tetap perlu didorong.

Daya beli yang dikuatkan, dan keyakinan masyarakat untuk melakukan konsumsi, diimbangi juga dengan insentif pemerintah pada UMKM dan korporasi, untuk tetap berproduksi, dan berjualan seperti biasa, sehingga ekonomi masyarakat bergerak kembali dan dapat berjalan penuh.

Sekali lagi peran pemerintah untuk kendali gas dan rem memang tetap harus dilakukan, bila indikator kesehatan sudah membaik, maka pembukaan kegiatan ekonomi yang mendorong konsumsi dapat dilakukan, dan siap melaju. Untuk daerah yang indikator kesehatannya menurun, kegiatan ekonomi yang berisiko dihentikan sementara.

Di samping itu, penyebab lain dari turunnya tingkat konsumsi masyarakat adalah terbatasnya mobilitas saat ini. Hal ini memerlukan pengembangan less contact business, dimana masyarakat dapat melakukan konsumsi tanpa harus bertemu satu dengan yang lain. Mobilitas dan komunikasi yang terbatas, perlu digantikan dengan dengan hyper connectivity dengan perilaku komunikasi berubah menjadi komunikasi digital.

Baca juga : Less Contact Business dan Produktifitas Work From Home

Indonesia memahami pentingnya hyper connectivity untuk ekonomi bertumbuh. Kebutuhan komunikasi digital menuntut ketersediaan infrastruktur digital. Pemerintah sebenarnya sudah bersiap melakukan transformasi digital sejak sebelum pandemi. Trend positif dapat terlihat saat ini dengan hanya tinggal 15,07 persen desa dan kelurahan dari total 83.218 desa dan kelurahan yang belum memiliki infrastruktur 4G sebagai syarat terlaksananya komunikasi digital.

Sejumlah 12.548 desa dan kelurahan menjadi prioritas untuk pembangunan infrastruktur digital. Daerah ini terdiri dari 9.113 desa di wilayah 3T yang merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia. Serta 3.435 desa kelurahan di wilayah komersial atau non 3T. Diharapkan pada tahun 2022 seluruh Indonesia telah dilengkapi infrastruktur digital 4G.

Baca juga : Percepatan Transformasi Digital Nasional

Tren-tren positif ini kita harapkan menjadi titik balik perekonomian di kuartal III untuk melakukan lompatan kemajuan selanjutnya. Tidak ada formula pasti untuk mengatasi pandemi ini, semua negara di dunia masih belajar saat ini. Tetapi dengan tren positif yang terjadi, ini meneguhkan bahwa Indonesia optimis bisa keluar sebagai pemenang saat seluruh komponen bangsa bekerja sama sekuat tenaga.

Apakah yang bisa terus dilakukan sekarang oleh segenap masyarakat Indonesia untuk melewati pandemi bersama-sama? Ada empat hal yang bisa dilakukan: Pembenahan Supply and Demand Chain, Subtitusi Produk-Produk Impor, Vaksin Merah Putih, Obat Covid-19 Karya Anak Bangsa, serta Gotong Royong, Inovasi dan Kreativitas Masyarakat.

1. Pembenahan Supply and Demand Chain

Akibat dari pandemi covid-19, maka banyak terjadi gangguan pada Supply and Demand Chain, oleh sebab itu selain dari stimulus fiskal dan moneter, maka perlu juga perbaikan secara mikro pada tingkat retail akibat kerusakan rantai perdagangan retail ini.

Kerusakan rantai ini terjadi karena:

a. Lockdown dan social distancing: penutupan toko dan pabrik, juga pembatasan karyawan yang sangat memukul aktivitas perdagangan.

b. Kendala arus barang: akibat keterbatasan transportasi, maka terjadi keterlambatan arus barang dan terjadi pemilihan pengiriman barang.

c. Pergeseran permintaan: masyarakat cenderung membelanjakan pada barang konsumsi pokok dan kebutuhan kesehatan, sementara barang fashion dan mewah cenderung turun.

d. Meningkatnya belanja online atau e-commerce: kebutuhan belanja yang tanpa pertemuan fisik meningkat secara drastis pada masa pandemi ini atau less contact economy.

Pergeseran ini perlu ditanggapi oleh pemerintah seiring dengan stimulus yang digelontorkan pemerintah untuk mendorong konsumsi domestik dan perputaran perdagangan.

Pemerintah perlu mendorong dan memberi peluang sebesar-besarnya bagi pelaku usaha untuk melakukan transaksi e-commerce, dan juga pengembangan teknologi yang mendukung perdagangan online ini. Pemerintah juga perlu memanfaatkan momentum kenaikan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur dengan terus mendorong pergerakan industri manufaktur ini mengingat industri manufaktur ini menyumbangkan 60 persen dari total ekspor Indonesia dan memberikan kontribusi sebesar 20 persen terhadap Produk Domestik Bruto per kuartal II 2020.

2. Subtitusi Produk-produk Impor

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) terjadi penurunan impor pada Juli 2020 hingga 32,55 persen, terdiri dari penurunan impor bahan baku dan bahan penolong sebesar 34,46 persen, juga impor barang modal turun sebesar 29,25 persen, dan penurunan impor barang konsumsi turun 24,11 persen. Kondisi ini merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat subtitusi impor. Pemerintah sendiri memang mau melakukan substitusi impor hingga 35 persen pada tahun 2022. Menperin belum lama ini juga mengatakan bahwa pandemi menyadarkan semua pihak untuk melakukan pendalaman pada struktur industri untuk mengurangi ketergantungan impor.

Menperin Agus Gumiwang menyatakan bahwa pandemi adalah kesempatan agar semua industri cepat bergerak menggantikan produk-produk yang kosong di pasar. Agar tumbuh dengan cepat, industri penghasil subtitusi impor didorong untuk tumbuh, ini akan menarik investasi baru di sektor-sektor yang ada. Subtitusi impor dilakukan lebih cepat juga pada barang konsumsi yang dapat dihasilkan dengan produk-produk dalam negeri. Menperin sendiri memiliki program “Beli Produk Rakyat” yang bisa mengisi kekosongan pasar karena turunnya produk-produk impor.

Tenaga kerja yang bertambah adalah dampak dari bangkitnya produksi dalam negeri. Peningkatan daya beli dalam negeri serta tingkat komponen dalam negeri (TKDN) akan semakin besar untuk produk dalam negeri.

Baca Juga: Optimisme Sektor Industri Menghadapi Dampak Virus Korona

3. Vaksin Merah Putih dan Obat Covid-19 Karya Anak Bangsa

Dalam dialog Vibizmedia dengan Menristek Bambang Brodjo, dikatakan bahwa Indonesia telah menyiapkan vaksin buatan anak bangsa sendiri, bukan dari negara lain. Vaksin ini sedang dikerjakan oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang disebut “Vaksin Merah Putih”. Kelebihan Vaksin Merah Putih ini adalah menggunakan isolate virus yang beredar di Indonesia, sehingga lebih cocok untuk orang Indonesia. Platform yang digunakan adalah Protein Rekombinan Sub-Unit Virus SARS-CoV-2, yang paling aman dibandingkan dengan platform lainnya, bahkan dibandingkan dari vaksin Sinovac yang sedang diuji coba secara sekarang ini.

Baca juga: Menristek Prof. Bambang P. S. Brodjonegoro: Vaksin Merah Putih, Solusi Pamungkas Atasi Pandemi Covid-19

Nama Merah Putih ini melekat karena negara melakukan penelitian ini dengan anggaran negara, dan menunjukkan kita tidak bergantung pada negara lain penghasil vaksin. Indonesia memiliki pengalaman yang bagus dalam pembuatan vaksin. Biofarma, perusahaan Indonesia, untuk vaksin folio sudah melakukan ekspor ke lebih dari 100 negara. Pengalaman ini meyakinkan Indonesia memiliki kemampuan dan kemandirian di dalam pengembangan vaksin.

Selain dari vaksin, Indonesia juga terus berusaha menemukan obat untuk Covid 19. Universitas Airlangga, bersama Badan Intelijen Negara dan Gugus Tugas Nasional terus melakukan penelitian untuk memutakhirkan resep penyembuhan Covid-19 dengan regimen kombinasi obat dan juga jenis stem cell yang efektif. Selain obat kombinasi, Unair juga dalam proses penelitian Obat Pengembangan Baru (OPB) untuk Covid-19 yang sedang dalam proses dipatenkan.

Baca juga: Peneliti Unair Mutakhirkan Pengobatan Covid-19 Berbasis Isolat Virus Indonesia

Terkait pandemi Covid-19, maka solusi pamungkas dari pandemi ini mau tidak mau akan ada pada vaksin dan obat. Ini adalah solusi pamungkas dari sisi kesehatan maupun ekonomi sekaligus. Maksudnya, kalau semua orang sudah mendapatkan vaksinasi maka tidak ada kekuatiran mengenai penyebaran karena masyarakat sudah memiliki daya tahan tubuh yang diperkuat dengan vaksin. Demikian juga obat untuk Covid 19 memberikan keyakinan kepada masyarakat akan keamanan kesehatan yang ada.

4. Gotong Royong, Inovasi dan Kreativitas Indonesia Menghadapi Pandemi

Bangsa Indonesia dikenal semangat untuk saling tolong-menolong, bergotong-royong. Terlihat misalnya dari berita di media bahwa hingga akhir Maret 2020 lalu terdapat 15.000 mahasiswa kedokteran dari 185 universitas yang bersedia mendaftarkan diri sebagai relawan di tengah pandemi.

Sementara itu, pada tahun 2018 CAF World Giving Index, menuliskan laporan bahwa Indonesia disebutkan yang terbaik untuk partisipasi sipil dan sosial, dengan tingkat relawan yang tertinggi dibandingkan negara mana pun di dunia. Indonesia disebutkan adalah bangsa yang paling murah hati di dunia, menolong orang asing, memberikan sumbangan kepada yang kesusahan dan menjadi relawan yang memberikan waktu dan tenaga tanpa dibayar.

Hal lain adalah tentang tingkat inovasi dan kreatifitas di Indonesia yang sering kali dipersepsikan rendah. Namun saat ini sejumlah universitas dan perusahaan teknologi bekerja sama untuk berkontribusi besar terhadap perjuangan dalam melawan Covid-19. Sebagai contoh, dapat disebutkan di sini, Universitas Indonesia telah mengembangkan disinfectants booths berbasis ultraviolet untuk peralatan medis, dan sedang melanjutkan penelitian dan pengembangannya kepada Personal Protective Equipment (PPE) dan alat rapid test Covid-19.

Baca juga: Gotong Royong Indonesia Menghadapi Pandemi Covid-19

Institut Teknologi Surabaya (ITS) diberitakan telah bekerja sama dengan Rumah Sakit Universitas Airlangga untuk mengembangkan ruang desinfektan yang menggunakan ozon (O3) daripada disinfektan kimia yang tidak aman, dan robot yang dapat digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan pasien untuk memantau kondisi mereka, serta mengirimkan barang-barang seperti makanan dan pakaian. Banyak perusahaan manufaktur juga mulai memproduksi APD dan pembersih tangan, sementara sejumlah perusahaan lain bermitra dengan universitas untuk memproduksi ventilator.

Telemedicine juga terpantau semakin meningkat. “Alodokter”, salah satu aplikasi telemedicine paling populer di Indonesia, memiliki 900.000 pengguna untuk layanan konsultasi COVID-19, hanya dalam waktu seminggu sesudah peluncurannya di bulan Maret. Selain mencari konsultasi online reguler, aplikasi “Halodoc” juga telah berkolaborasi dengan lebih dari 20 rumah sakit di Jabodetabek dan Karawang, Jawa Barat, untuk memungkinkan orang memesan janji untuk rapid test Covid-19 atau real-time polymerase chain reaction (PCR) test. Resep dari konsultasi online juga dapat dibeli dan dikirim melalui ojek online.

Bila sejumlah inisiatif dan kreatifitas di atas dapat dijalankan dan menghasilkan, tentunya dengan kerja sama baik antara pemerintah, masyarakat umum, dunia akademis, serta sektor bisnis, diharapkan kegiatan ekonomi dapat mulai kembali berada dalam jalur yang normal. Masyarakat bisa melakukan kegiatan ekonomi secara intensif dibandingkan ketika masa pandemi. Namun perlu diingat juga, untuk melawan Covid-19, masyarakat harus tetap ikuti anjuran pemerintah dengan disiplin menggunakan masker saat keluar rumah, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak saat bertemu dengan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here