Phapros (PEHA) Konfirmasi Ikut Dukung Pengembangan Vaksin Di Indonesia

0
384

(Vibizmedia – IDX Stocks) – Emiten farmasi PT Phapros Tbk. (PEHA) mengonfirmasi akan ikut mendukung pengembangan vaksin di dalam negeri. Sekretaris Perusahaan Phapros Zahmilia Akbar menyatakan sebagai anak usaha dari PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), perseroan juga akan ikut ambil bagian dalam program tersebut.

Direktur Utama Phapros Hadi Kardoko mengungkapkan bahwa produsen Antimo tersebut bisa memberikan sinergi baru bagi Kimia Farma Group dan holding pada umumnya.
Hadi menyatakan prospek industri farmasi kesehatan masih bagus karena kebutuhan akan kesehatan sangat penting. Dengan demikian, pihaknya tengah fokus pada produk ketahanan tubuh termasuk di dalamnya upaya pemerintah untuk mengatasi Covid-19.
Untuk diketahui, Hadi Kardoko adalah Direktur Utama Phapros yang baru disahkan atas keputusan RUPS Kamis (25/6//2020) lalu.

Hadi sebelumnya menjabat sebagai General Manager Transformation Management Office Kimia Farma dan diketahui sudah mengabdi untuk perusahaan tersebut selama 8 tahun lamanya.

Di lantai bursa, pada hari Selasa (09/09) pergerakan saham PEHA dibuka sama dengan harga kemarin yaitu di harga Rp.1515 per lembar dan pada akhir perdagangan di tutup turun 0.99% atau 15 poin ke harga Rp.1500 per lembar. Hari ini IHSG turun tajam sebesar 1.81 persen. Pada hari Kamis (23/7/2020) saham PEHA tercatat kembali terkena pemberlakuan auto reject atas atau ARA dengan kenaikan sebesar 24,92 persen atau 380 poin ke level Rp1.905 akibat dari sentimen vaksin. Praktis, ini adalah hari kedua saham PEHA terkena auto reject atas oleh otoritas.

Emiten farmasi PT Phapros Tbk. (PEHA) berharap masih bisa mencapai pertumbuhan kinerja keuangan hingga dua digit hingga akhir tahun 2020. Direktur Utama Phapros Hadi Kardoko mengatakan perseroan masih menargetkan pertumbuhan pendapatan hingga dua digit bahkan hingga tahun 2021 bercermin dari strategi perusahaan yang dijalankan semasa pandemi.

Hadi mengatakan bahwa penjualan segmen multivitamin dengan produk Becefort mencatatkan pertumbuhan yang signifikan pada periode semester pertama tahun ini yaitu sebesar 30 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Peningkatan ini setidaknya bisa menutupi sebagian penjualan dari segmen obat resep.

Untuk diketahui, anak usaha PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) itu mencatatkan penurunan penjualan 17,78 persen secara tahunan menjadi Rp.453,92 miliar pada semester pertama tahun ini. Dari situ, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga tergerus 43,71 persen secara tahunan menjadi Rp.26,88 miliar.

Penurunan pendapatan tidak dapat diimbangi dengan upaya efisiensi tercermin dari beban pokok penjualan yang hanya menurun 18,44 persen menjadi Rp.208,58 miliar.
Berdasarkan segmentasi, penjualan obat over the counter (OTC), obat generik bermerek dan ethical kompak mengalami penurunan yang mayoritas disebabkan oleh penurunan jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit.

Hadi juga menuturkan Phapros akan menggenjot penjualan ekspor yang saat ini masih berkontribusi 10 persen dari total penjualan perseroan dengan terus menjalin hubungan dengan distributor dari negara terkait. Adapun, fokus negara tujuan ekspor perseroan saat ini di antaranya Asia Tenggara dan Afrika.

Dalam beberapa tahun ke depan, perseroan juga akan berfokus pada pengembangan bisnis organik, melalui pengembangan produk obat atau alkes yang merupakan hasil kerjasama tim riset dan pengembangan serta lembaga penelitian dalam hal pengobatan penyakit jantung, diabetes, ortopedi, dan saluran pernapasan.

Produsen Antimo tersebut juga akan mengembangkan OMAI (obat modern asli Indonesia) dimana perseroan sudah memiliki 2 fitofarmaka. Perseroan juga berkomitmen untuk mengamankan persediaan bahan baku obat yang diakui mayoritas masih diimpor dengan memberlakukan kontrak jangka panjang dengan supplier dalam beberapa kali pengiriman.
Di sisi lain, Phapros juga mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah dengan memberlakukan lindung nilai atau natural hedging.

Emiten farmasi PT Phapros Tbk. (PEHA) menyatakan pandemi Covid-19 ternyata juga memukul kinerja penjualan perseroan kendati pendapatannya bertumbuh pada awal tahun 2020.

Direktur Pemasaran Phapros Chairani Harahap mengatakan produk perseroan yang awalnya menjadi kontributor utama penjualan berkurang drastis akibat dari pandemi. Sebaliknya, produk yang semula tidak berkontribusi banyak malah menjadi unggulan.
Chairani menjelaskan penjualan di segmen injeksi anestesi dan dental anestesi juga cukup tergerus akibat imbauan untuk tidak mengunjungi praktik pelayanan kesehatan gigi dan mulut selama masa pandemi.

Direktur Utama Phapros Hadi Kardoko menyatakan secara garis besar industri farmasi termasuk dalam sektor yang cukup terdampak mengingat produk yang dijajakan anak usaha PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) tersebut sebagian menyasar pada pasien rawat inap dan rawat jalan di rumah sakit. Tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit itu semakin kecil artinya banyak sekali pasien yang tidak berani ke rumah sakit. Hal ini membuat konsumsi obatnya pun semakin lebih kecil.

Dia juga mengakui kenaikan penjualan sebesar 28,97 persen secara tahunan menjadi Rp.229,37 miliar pada kuartal pertama tahun ini sebagian besar disumbangkan oleh produk yang bukan menjadi penopang bisnis utama perseroan sekaligus juga tidak memberikan margin yang cukup tinggi.

Selasti Panjaitan/Vibiznews
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here