Merintis Hadirnya Kuning Padi di Tepi Sungai Barito Kalimantan Tengah

2
228
Presiden Joko Widodo meninjau program padat karya tunai di lokasi lumbung pangan baru di Kabupaaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Kolom) Pembangunan food estate menggunakan lahan Pengembangan Lahan Gambut (PLG) yang dahulu berjumlah sejuta hektar ini, menjadi mimpi Jokowi saat ini. Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan PLG adalah tanah aluvial berlokasi di sebelah sungai Barito. Diperkirakan luas lahan adalah 165.000 hektar dengan 85.500 hektar sudah fungsional dengan 28.300 hektar memiliki irigasi baik,dan sisanya 79.500 adalah semak belukar.

Presiden Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia memerlukan cadangan pangan untuk menghadapi kondisi krisis pangan akibat pandemi, mengantisipasi perubahan iklim dan mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan. Lokasi sudah ditetapkan, pertama Kalimantan Tengah di kabupaten Pulang Pisau dan Sumatera Utara di kabupaten Humbang Hasudutan. Rencana juga akan dilakukan di Papua, NTT, Sumatera Selatan. Sudah ada sejumlah progres, dan perlu diselesaikan kepemilikan lahan dan perlu ada perumusan master plan dari food estate. Kalimantan Tengah memiliki lahan irigasi dan lahan non irigasi seluas untuk tanaman singkong, jagung dan lainnya serta perternakan. Diperlukan infrastruktur pendukung seperti akses jalan, untuk penggunaan alat-alat berat pertanian. Siapakah yang mengelola, tanaman apa yang akan ditanam, teknologi yang digunakan dan model bisnis yang harus digunakan merupakan gagasan Presiden untuk disiapkan dalam food estate.

Keputusan strategis ini memang diperlukan oleh Indonesia, dengan adanya food estate ini maka Indonesia dapat menghadapi tantangan kedepan. Organisasi pangan dunia atau FAO memprediksi akan terjadi krisis pangan menyusul pandemi Covid-19 dan kemarau berkepanjangan. Kalau kita lihat volume padi, produksi padi Indonesia terus menurun dari tahun 2018 ke 2019 dan juga tahun 2020 karena kondisi pandemi. Apa sebenarnya yang terjadi dengan sumber daya alam Indonesia atau dari sisi lahan? Di pulau Jawa terjadi konversi lahan sawah yang relatif pesat. Padahal Di Pulau Jawa 1 hektar lahan sawah harus tergantikan sekitar tiga sampai empat kali luasan lahan di luar Jawa atau bahkan lebih bisa sampai 5 kali luasan. Di kawasan eks PLG ini produksi rata-rata padi dikisaran 3 ton gabah kering panen per hektar. Di Jawa ini sekitar 6,5 ton gabah kering panen per hektar.

Perbandingan Luas Panen dan Produksi di Indonesia, 2018 dan 2019

Sumber : BPS

Apa yang hilang di Jawa harus digantikan 3-4 kali lipat di luar Jawa. Sudah barang tentu untuk melakukan itu, bukan hal yang mudah dan sekarang ini ada program pemerintah mengembangkan kembali lahan sawah. Semua negara melakukan langkah antisipatif dan dalam bayang krisis pangan tersebut pemerintah Indonesia menentukan Kalimantan Tengah untuk dijadikan sebagai proyek atau lahan untuk memproduksi atau menjadi sentra produksi pangan yang baru dan terbesar.

Seperti kita ketahui pembangunan sentra produksi pangan di Kalimantan adalah kebijakan di masa lalu, ada yang berhasil dan ada yang gagal total. Di Kalimantan, penyebaran gambut cukup luas terdapat di sepanjang pantai barat wilayah Provinsi Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Mempawah, Ketapang, Sambas, Kubu Raya, dan Pontianak. Sebagian merupakan gambut pedalaman, ditemukan di daerah rawa pada hulu sungai Kapuas, di sekitar Putu Sibau. Di Pantai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, gambut luas terdapat di wilayah antara sungai Sebangau, Kahayan, Kapuas, dan Barito. Wilayah ini pada tahun 1996– 1998 menjadi terkenal, karena merupakan lokasi proyek pengembangan lahan gambut (PLG) satu juta hektar. Pemanfaatan lahan gambut di Indonesia secara berencana untuk pertanian pertama kali dimulai dengan proyek P4S (Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut). Selanjutnya pada dekade 1990an, reklamasi lahan gambut di Indonesia secara besar-besaran utamanya dilakukan untuk mendukung pengembangan padi, yang dikenal sebagai proyek pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektar di Kalimantan Tengah.

Lalu bagaimana saat membicarakan wilayah di Kalteng dengan luasnya 165.000 hektar ini? Bagaimanakah pemerintah memastikan dan juga menjamin proyek di lahan eks PLG atau proyek lahan gambut ini akan berhasil?

Dari angka 165.000 ada 28.300 hektar yang irigasinya masih baik, dalam arti pernah dibangun jaringan irigasi disana. Juga dalam membangun gambut sejuta hektar ini, sebaiknya kita pilih spot-spot tertentu saja yang menjadi titik sawah primer. Titik-titik yang akan dibangun itu perlu memenuhi empat persyaratan utama untuk berhasilnya sebuah food estate. Pertama adalah wilayah tanamnya cocok dengan tanaman yang akan dibudidayakan.

Kedua adalah perlu dipastikan infrastruktur pertanian, yang paling utama adalah tata kelola air, karena hanya dengan pengelolaan air yang baik akan membawa keberhasilan sebuah pertanian. Tidak hanya persyaratan infrastruktur irigasi, namun yang diperlukan juga adalah jalan pertanian sebagai lalu lintas input kebutuhan pertanian maupun output hasil-hasil pertanian.

Ketiga persyaratan teknologi dan budidaya, teknologi untuk mengendalikan tanah-tanah yang relatif sebagian besar adalah tanah asam, perlu menggunakan kapur dan sebagainya, apakah bahan-bahan itu tersedia? Yang penting bagaimana cara mengatasi serangan organisme pengganggu tanaman. Budidaya varietas-varietas padi yang sesuai tanah juga diperlukan sebagai syarat untuk keberhasilan.

Keempat adalah persyaratan sosial ekonomi, petani hanya mampu bertahan hidup bila lahan sawah menghasilkan 3 sampai 4 ton padi per hektar. Sedangkan lahan di tepi sungai Barito Kalimantan Tengah ini, saat ini hanya bisa menghasilkan dibawah 1 ton per hektar. Perlu sekali dukungan untuk petani penggarap bertahan hidup, karena bila tidak, maka petani pasti akan meninggalkan lahan. Menemukan titik persawahan yang memenuhi persyaratan ini adalah langkah yang harus dilakukan sebelum melebar ke seluruh target persawahan.

Peran pemerintah disini adalah bagaimana memulai titik-titik primer yang memenuhi empat persyaratan food estate. Pemerintah berfungsi sebagai agent of development untuk membuat pertanian dapat berjalan. Pola pengembangan titik-titik primer ini juga harus masuk dalam rencana besar pemerintah, dimana keseluruhan lahan akhirnya siap menjadi lahan pertanian yang produktif. Bila sudah kelihatan menghasilkan tentunya harapan yang lebih besar adalah keterlibatan swasta untuk bisa ikut masuk dengan inovasi dan permodalan dalam food estate ini.

Selain empat persyaratan tersebut, memang diperlukan bisnis model yang sesuai untuk membuat food estate ini dapat berkesinambungan. Pola perkebunan kelapa sawit bisa menjadi alternatif, yang melibatkan pemerintah, swasta dan petani untuk pengerjaannya. Mata rantai perdagangan beras juga menjadi satu proses yang harus dirapihkan untuk mengurangi adanya middle man, sehingga jalur perdagangan bisa dibuat singkat dari produsen sampai kepada pengguna terakhir.

Tentulah membayangkan padi yang menguning di tepi sungai Barito, sepanjang mata memandang tidak dapat sekejap mata dapat terjadi. Petani yang bangun pagi-pagi dan bekerja hingga petang hari menjadi tumpuan hidupnya persawahan. Pemerintah yang tidak berhenti untuk berinovasi dan menjadi saluran untuk membangun kesiapan lahan adalah harapan rakyat termasuk para petani. Hingga para pengusaha Indonesia yang bersih dan berwawasan maju kedepan merupakan rekan kerja yang sangat dibutuhkan untuk lumbung pangan Indonesia, lumbung pangan dunia yang menjadi bekal bagi generasi selanjutnya.

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here