Peranan Perusahaan Farmasi Dalam Masa Pandemi Covid-19

0
132

(Vibizmedia – IDX Stocks) – Sejumlah perusahaan farmasi dalam negeri baik itu milik pemerintah maupun swasta terus mendukung usaha pemerintah didalam penanggulangan pandemi Covid-19 seperti penyediaan obat Covid-19.

PT Kalbe Farma Tbk pemilik saham dengan kode KLBF bersama PT Amarox Global Pharma (Amarox) melakukan perjanjian pemasaran dan distribusi obat Covifor (Remdesivir).

Sebagai informasi, Emergency Use Authorization (EUA) menyatakan bahwa produk Covifor (Remdesivir) adalah produk untuk pengobatan pasien penyakit Covid-19 yang telah terkonfirmasi di laboratorium terutama untuk orang dewasa atau remaja (berusia 12 tahun ke atas dengan berat badan minimal 40 kg) yang dirawat di rumah sakit.

Jadi produk Covifor tidak dijual bebas, hanya digunakan di rumah sakit dengan rekomendasi dan pengawasan dokter.

Direktur Utama Kalbe Farma, Vidjongtius mengatakan kerjasama pemasaran dan distribusi bersama Amarox selama satu tahun dengan perpanjangan otomatis. Adapun kerjasama ini juga melibatkan PT Enseval Putera Megatrading Tbk , pemilik saham dengan kode EPMT sebagai perusahaan logistik milik Kalbe Farma.

Adapun distribusinya akan diprioritaskan ke Rumah Sakit di Indonesia melalui seluruh cabang Enseval demikian pernyataan Kalbe Farma kepada media belum lama ini.

Obat Cofivor ini sudah dipasarkan pada 1 Oktober 2020 lalu. Untuk harganya, awalnya Kalbe Farma mematok  Rp 3 juta per vial, namun KLBF menurunkan harganya menjadi Rp 1,5 juta per vial karena ada masukan dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan pasien. Di sisi lain, juga karena kebutuhan obat ini yang sangat besar di Indonesia.

Vidjongtius mengatakan kontribusinya ke KLBF belum besar karena produknya baru dan masih di tahap awal.

Kemudian dua anggota holding BUMN Farmasi, PT Kimia Farma Tbk dan PT Indofarma Tbk juga sudah mampu memproduksi dan memasarkan produk Covid-19.

Sebelumnya Indofarma sudah memasarkan obat untuk membantu penyembuhan Covid-19 yakni Oseltamivir 75gr Caps. Obat ini sudah memiliki sertifikat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) senilai 40.06% ini. Oseltamivir  telah diproduksi sendiri oleh INAF dengan kapasitas produksi sebesar 4,9 juta kapsul per-bulan.

Kemudian, INAF menambah portofolio produk obat Covid-19 yaitu Remdesivir dengan nama dagang Desrem™.  Remdesivir Inj 100 mg ini merupakan produk antiviral hasil produksi Mylan Laboratories Ltd atas lisensi dari Gilead Sciences Inc, Foster City, di Amerika Serikat.

Direktur Keuangan Indofarma, Herry Triyatno menjelaskan obat Remdesivir ini diimpor dari Mylan yakni perusahaan USA yang memproduksinya di India.

Remdesivir dengan nama dagang Desrem™ ini sudah di pasarkan dan sudah tersedia 20.000 vial. Adapun untuk ketersediaan stock untuk bulan Oktober sudah ada sebanyak +/- 400.000 vial. Dan harga obat Desrem™ Remdesivir Inj 100mg ini lebih terjangkau yakni Rp 1,3 juta/vial.

Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto memaparkan Desrem™ Remdesivir Inj 100mg telah mendapatkan persetujuan Emergency Use Authorization (EUA) di Indonesia dan telah disetujui oleh BPOM melalui penerbitan Nomor Izin Edar yang sudah diterbitkan pada tanggal 30 September 2020. Dan Obat ini digunakan pada pasien rawat inap Covid-19 dalam kondisi sedang-berat.

Mengenai kontribusinya ke pendapatan, Herry belum bisa memerinci seberapa besar kontribusi penjualan obat Covid-19 ke pendapatan INAF hingga akhir tahun nanti, katanya untuk angka masih dinamis. Namun yang pasti, Herry mengatakan komposisi segmen Pharma akan lebih besar dibandingkan segmen lainnya.

Selain obat – obatan, Indofarma juga telah memproduksi alat kesehatan seperti Medical Face Mask 3Play (Inamask), Hand Sanitizer (Clind), Rapid Test (Smart Diagnostic Covid19) hingga Mobile Diagnostic Real Time PCR, Produk Isolation Transport hingga Virus Transport Media (VTM).

Kemudian, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) juga sudah memproduksi obat untuk  untuk terapi Covid–19, yaitu Chloroquine, Hydroxychloroquine, Azithromycin, dan Favipiravir.

Direktur Utama Kimia Farma, Verdi Budidarmo mengatakan untuk jenis obat Favipiravir yang dapat dipergunakan untuk terapi Covid–19, sudah dapat diproduksi sendiri oleh Kimia Farma dan merupakan produk pertama di Indonesia yang dikembangkan sendiri oleh Badan Usaha Milik Negera (BUMN).

Favipiravir hasil produksi dari Kimia Farma telah mendapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta akan didistribusikan ke seluruh layanan kesehatan sesuai dengan regulasi Pemerintah.

Adapun Kimia Farma bersama dengan anak usahanya, PT Phapros Tbk (PEHA)  telah memproduksi beberapa obat untuk penanganan Covid-19 antara lain  Dexamethasone dan Methylprednisolon.

Untuk saat ini Phapros punya sediaan produk Dexamethasone dan Methylprednisolone baik tablet dan juga injeksi. Untuk Dexamethasone dan Methylprednisolone harganya di patok Rp 100-300 / tablet.

Dan produk Dexamethasone dan Methylprednisolone sudah didistribusikan ke banyak Rumah Sakit swasta, Rumah sakit pemerintah dan klinik di 34 provinsi di Indonesia. Mengenai permintaannya, pihak perusahaan mengungkapkan sejauh ini produk tersebut permintaannya positif dan tumbuh. Dan persediaan kedua obat tersebut sangat mencukupi, begitupun prognosa stock untuk bulan Oktober sampai dengan Desember 2020 masih  mencukupi untuk kebutuhan masyarakat.

Setelah mencermati berita di atas, kita dapat melihat peranan perusahaan farmasi di masa pandemi ini menjadi sangat penting didalam mendukung usaha pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19, mari kita lihat bagaimana kondisi fundamental emiten yang disebut-sebut didalam berita-berita penting terkait kemajuan usaha pemerintah didalam menangani pandemi Covid-19, di dalam bulan-bulan terakhir ini.

NO KODE SAHAM EMITEN IPO STATUS
1 INAF INDOFARMA 17-Apr-01 BUMN
2 KAEF KIMIA FARMA 04-Jul-01 BUMN
3 PEHA PHAPROS 01-Jan-11 BUMN
4 KLBF KALBE FARMA 30-Jul-91 SWASTA
5 EPMT ENSEVAL 01-Agu-94 SWASTA

 

Untuk pembagian dividen pada 2 tahun terakhir juga dapat dilihat sbb:

  KODE   Deviden Per Share
NO SAHAM EMITEN 2019 2020
1 INAF INDOFARMA  
2 KAEF KIMIA FARMA 14,98  
3 PEHA PHAPROS 110,26   85,03
4 KLBF KALBE FARMA 26   20
5 EPMT ENSEVAL 90   90

 

Sebelum masa pandemi, sektor farmasi adalah sektor yang kurang mendapat perhatian dari investor. Tidak seperti saham emiten tambang atau keuangan yang selalu berfluktuasi dengan tajam, saham farmasi cenderung kurang likuid. Berdasarkan data historis di BEI, saham emiten farmasi hanya bergerak aktif di saat tertentu saja.

 

  KODE   Kinerja Saham 2020 – Pergerakan Harga Saham
NO SAHAM EMITEN 6 bulan YTD
1 INAF INDOFARMA 182,73% 257,47%
2 KAEF KIMIA FARMA 136,92% 146.40%
3 PEHA PHAPROS 75,14% 40,93%
4 KLBF KALBE FARMA 65,26% -3,09%
5 EPMT ENSEVAL -3,14% -9,76%

 

Pada investasi yang dilakukan di pasar modal, penilaian perusahaan merupakan aspek yang sangat penting. Nilai perusahaan diartikan sebagai harga yang bersedia dibayar oleh calon investor seandainya suatu perusahaan akan dijual.

Nilai perusahaan tercermin dari harga saham yang stabil dan dalam jangka panjang mengalami kenaikan. Semakin tinggi harga saham maka semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi.

Salah satu indikator valuasi yang sering digunakan yaitu Price Earning Ratio (PE Ratio) yang menghitung berdasarkan pembagian antara harga saham dengan laba bersih per saham. Secara sederhana, PE Ratio 10 kali berarti harga pasar saat ini setara dengan 10 tahun laba bersih perusahaan. Perusahaan dengan PE Ratio 10 kali dikatakan “lebih murah” dibandingkan perusahaan dengan PE ratio 15 kali.

Semakin tinggi PE Ratio maka semakin mahal valuasi suatu perusahaan dan sebaliknya semakin rendah PE Ratio maka semakin murah valuasi suatu perusahaan.

Bagi para pemegang saham, harga pasar saham perusahaan menggambarkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan dapat diproksikan dengan price to book value (PBV). Price to book value merupakan pembagian nilai pasar saham dengan nilai buku per lembar saham.

Nilai PBV yang lebih dari 1 dikatakan sebagai overvalued yang dapat diartikan bahwa saham perusahaan dinilai lebih tinggi dibandingkan nilai bukunya. Nilai PBV yang kurang dari 1 dikatakan sebagai undervalued yang dapat diartikan bahwa saham perusahaan dinilai lebih rendah dibandingkan nilai bukunya. Nilai PBV yang sama dengan 1 dapat diartikan bahwa saham perusahaan dinilai sama dengan nilai bukunya. Memaksimumkan nilai pasar perusahaan sama dengan memaksimumkan harga pasar saham.

Analisis profitabilitas adalah rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Indikator yang digunakan adalah ROE, dimana ROE menggambarkan sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang bisa diperoleh oleh pemegang saham.

Mari kita perhatikan indikator setiap saham milik perusahaan-perusahaan farmasi yang saat ini sangat berperan di dalam mendukung pemerintah didalam menangani pandemi Covid-19.

  KODE   30-Jun-20
NO SAHAM EMITEN PER PBV ROE
1 INAF INDOFARMA -1033,85 19,27 -1,86%
2 KAEF KIMIA FARMA 176,08 2,51 1,42%
3 PEHA PHAPROS 23,67 1,88 7,92%
4 KLBF KALBE FARMA 26,52 4,5 16,98%
5 EPMT ENSEVAL 7,78 0,81 10,38%

 

Selain indikator yang di tampilkan di atas yang di hitung berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2020, para investor bisa lebih bijak menilai saham-saham emiten farmasi yang saat ini sedang berjuang bersama-sama pemerintah untuk menanggulangi pandemi Covid-19.

Selasti Panjaitan/Vibizmedia
Editor : Asido Situmorang

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here