Rekam Jejak Indonesia Menghadapi Pandemi

3
418
Presiden Joko Widodo menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga di Istana Kepresidenan Bogor, pada Selasa, 20 Oktober 2020. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Kolom) “Jangan biarkan krisis membuahkan kemunduran. Krisis ini harus kita manfaatkan sebagai momentum untuk melakukan lompatan besar.” Begitu disampaikan presiden Jokowi saat menyampaikan pidato kenegaraan, 14 Agustus 2020. Sejak pelantikannya hingga saat ini, sebagian besar perjalanan Presiden diisi dengan terpaan pandemi yang membuat Indonesia menghadapi kontraksi dalam perekonomian namun Jokowi mengatakan justru pakai apa yang dihadapi ini sebagai momentum untuk lompatan yang besar. COVID-19 memaksa Indonesia juga ratusan negara di dunia melakukan segala upaya agar bisa mengatasi dampak pandemi yang luar biasa. Jutaan orang meninggal, puluhan juta orang terinfeksi. Ekonomi global di ambang resesi. Indonesia bertekad, pandemi menjadi momentum kebangkitan baru. Pemerintah pusat hingga daerah harus melakukan reformasi, transformasi dan kolaborasi.

Pandemi menuntut pemerintah bekerja cepat juga berakrobat dalam situasi darurat. Aneka beleid diterbitkan sebagai payung hukum. Anggaran dihitung ulang menyesuaikan kondisi pandemi. Kesehatan dan ekonomi adalah seperti gas dan rem yang harus dijaga kesimbangannya. Keselamatan dan kesehatan menjadi prioritas utama, berbarengan dengan pemulihan ekonomi. Indonesia memberi apresiasi tinggi bagi tenaga kesehatan. Dari dokter, perawat hingga petugas pendukung lainnya. Kondisi yang terbatas, tidak menghentikan semangat mereka untuk berjuang di garis depan dan bertaruh nyawa menolong mereka yang sedang menderita karena covid 19.

200 orang tenaga kesehatan harus berpulang ditengah perjuangan untuk menyelamatkan bangsa dari wabah yang mematikan ini. Kisah para pejuang ini membuat bangsa Indonesia berusaha, berjuang, melakukan segala upaya agar pandemi ini dapat berhenti. Gotong royong masyarakat menghasilkan kreatifitas dan inovasi yang membuat pemerintah dapat terbantu menghadapi pandemi ini. Solidaritas inilah yang terbukti membuat negara-negara dapat mengatasi pandemi.

Pemerintah kemudian membuat perubahan alokasi anggaran secara besar-besaran. APBN 2020 yang disusun dilakukan perubahan agar bisa menjawab kebutuhan darurat penanganan situasi. Payung hukum pun disiapkan dari Perpu No. 1 Tahun 2020 yang kemudian menjadi UU No. 2 tahun 2020. UU ini berisi bagaimana Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan COVID-19.

APBN 2020 mengalami perubahan sebanyak dua kali semula defisit sebesar 5,07% kemudian menjadi 6,34% PDB. Alokasi penanganan COVID-19 menjadi Rp 695,2 triliun dengan Rp 87,55 triliun di antaranya difokuskan untuk kesehatan. RP 169,7 triliun dari APBN juga dialokasi untuk mengatasi pandemi yang diperkirakan masih akan ada hingga tahun 2021.

Sejarah negeri terus bercerita tentang kentalnya persaudaraan yang telah teruji berabad lamanya di Indonesia. Kesatuan inilah yan mengenyampingkan berbagai sekat halangan perbedaan agama, suku, ras dan status sosial, serta mengedepankan usaha untuk dapat lepas dari kondisi yang sulit ini bersama-sama.

Ide-ide bermunculah di berbagai tempat, dari kampanye hidup sehat, memberikan makanan gratis, membuat dapur umum, membantu tetangga dengan membeli dagangan mereka yang terkena PHK, bahkan ada kelompok masyarakat yang menyediakan diri untuk menjahit alat pelindung diri (APD) yang sangat langka saat ini. Tidak sedikit yang membagikan secara gratis masker, memberikan rumah, gedung, hotel untuk dipakai sebagai rumah sakit darurat. Seniman turut melakukan kebaikan dengan pertunjukan dan menghimpun dana. Semuanya menggembirakan dan bagian kecil dari jutaan kebaikan bangsa Indonesia. Pemerintah memang harus bergerak cepat, namun pada akhirnya kemampuan Indonesia untuk melalui pandemi ini adalah berkat kesatuan, gotong royong, dan kebersamaan yang tidak pernah kekang oleh apa pun.

Perekonomian dunia mengalami kontraksi karena pandemi ini. Negara-negara maju banyak yang terburuk karena kondisi ini. Indonesia juga terdampak, namun tidak sedalam kondisi negara lain, Indonesia terkontraksi 5,3 persen. meski dangkal. COVID-19 mengakibatkan 3,5 juta pekerja dirumahkan. Pengangguran meningkat menjadi 10,4 juta orang. Angka kemiskinan melonjak hingga 26,42 juta orang, terutama di perkotaan.

Sinyal Perbaikan Ekonomi

Sinyal perbaikan kondisi ekonomi kedepan mulai tampak dari perbaikan indikator Purchasing Manager Index di bidang manufaktur dan Indeks Keyakinan Konsumen. Pemerintah memberi perhatian besar pada usaha kecil dan menengah (UMKM) untuk bertahan ditengah krisis. Insentif ditujukan pada UMKM diutamkan untuk menolong masyarakat, pengentasan kemiskinan, pemerataan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah mengalokasikan Rp 4,2 triliun untuk program UMKM Go Digital. UU Cipta Kerja diajukan untuk menciptakan iklim investasi yang kompetitif dan membuka lapangan kerja. Regulasi ini memberikan kemudahan bagi UMKM dalam hal perizinan. Lembaga pangan dunia (FAO) memperingatkan adanya potensi akan cadangan pangan yang berkurang akibat pandemi. Pemerintah bergegas menyiapkan produksi pangan untuk menhadapi kondisi ini. Pemerintah membenahi kondisi pangan menambah Areal Tanam Baru, dan Inisiasi Food Estate.

Kehadiran Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga memberikan sinyal positif bagi Indonesia. Indonesia adalah negara yang pertama yang dikunjungi oleh Yoshihide Suga, terlepas dari apa alasannya, namun menguatkan Indonesia bahwa ada dukungan Internasional untuk tetap percaya kepada Indonesia, sebagai partner. Dengan kata lain negara-negara dunia memang melihat Indonesia mampu mengatasi pandemi dan tetap layak sebagai negara tujuan investasi sekaligus pasar yang besar dan ekonomis.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here