Socio Economic Prediction Mengunggulkan Donald Trump Mengalahkan Biden

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. DOK: WHITE HOUSE

(Vibizmedia-Kolom) Donald Trump akan memenangkan pemilihan presiden AS 2020, menurut sosio economic prediction model, yang dengan tepat memprediksi hasil dari tiga pemilihan terakhir AS. Model ini dibuat oleh Phillipe Jacquart, Profesor Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi di Emlyon business school Perancis, bekerja sama dengan John Antonakis, Profesor Perilaku Organisasi dari Universitas Lausanne Swiss. Model tersebut menggunakan makroekonomi dan mengkaji jabatan, serta perbedaan karisma antar kandidat, untuk memperkirakan siapa yang akan memenangkan pemilu. Ini berarti mengamati siapa yang berkuasa, berapa lama mereka berkuasa, partai politik apa yang terkait dengan mereka dan bagaimana perekonomian berjalan, serta seberapa menarik mereka. Dilihat dari data incumbency, jika seorang kandidat mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, maka mereka memiliki keunggulan dibandingkan dengan mitranya (dari wajah yang sudah akrab), namun jika partainya telah berkuasa untuk dua periode mereka dirugikan (biasanya pemilih sudah jenuh dan butuh pembaharuan) – berdasarkan faktor-faktor ini, Trump memiliki keunggulan atas Joe Biden.

Biasanya, sebagian besar model prediksi pemilu mengandalkan data obyektif, seperti jajak pendapat, dan tidak memperhitungkan siapa kandidatnya karena mereka berasumsi bahwa salah satu partai telah memilih kandidat yang paling optimal. Model-model ini cenderung berfokus pada faktor-faktor ekonomi: seberapa besar PDB tumbuh dan berapa banyak kuartal yang baik selama setahun terakhir. Namun pada model yang didasari oleh model Raymond Fair dari Yale University ini, mereka menggabungkan statistik tersebut dengan sosok karisma Trump. Menurut Profesor Jacquart, alasan untuk ini adalah karena dalam situasi di mana orang tidak yakin, mereka melihat siapa yang lebih karismatik, dan orang itulah yang mereka percayai. Dengan jumlah orang yang saat ini ragu-ragu tentang siapa yang akan mereka pilih untuk duduk di antara 10-15 persen, maka swing vote-lah yang akan menentukan pemilihan.

Para peneliti menganalisis pidato penerimaan Trump dan Biden di konferensi partai mereka untuk menentukan siapa yang lebih karismatik – pidato ini paling banyak ditonton oleh orang-orang yang akan memberikan suara, dan memainkan peran besar dalam menentukan apakah mereka karismatik. Menganalisis setiap kalimat pidato, para peneliti mengungkapkan bahwa Trump memang lebih karismatik, mencetak 55,58 persen per kalimat, di atas Biden, dengan 52,01 persen per kalimat. Menggabungkan faktor incumbency, ekonomi dan karisma, model tersebut memprediksi bahwa Trump akan memiliki keunggulan yang sangat kuat pada pemilu 2020. Ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 2015, model tersebut secara retrospektif membuat prediksi yang berhasil untuk 21 dari 24 pemilihan presiden AS yang ditelusuri kembali ke tahun 1916. Model ini telah mempertahankan tingkat prediksi yang benar sejak saat itu.

“Menurut angka yang kami masukkan, bagi kami sepertinya Trump akan memenangkan Gedung Putih,” kata Antonakis. “Tapi semua akan tergantung pada apa yang terjadi pada pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga ini,” tambahnya. Lonjakan ekonomi AS pada kuartal ketiga menguatkan opini Antonakis yang memperkirakan Trump mengalahkan Biden. Departemen Perdagangan AS melaporkan produk domestik bruto riil meroket 33,1 persen pada kuartal ketiga setelah jatuh 31,4 persen pada kuartal kedua. Sebelumnya para ekonom memperkirakan PDB negeri tersebut melonjak 31,0 persen. Kenaikan PDB terjadi karena belanja konsumen bangkit kembali dengan tajam, melonjak sebesar 40,7 persen pada kuartal ketiga setelah anjlok hingga 33,2 persen pada kuartal kedua.

Pencapaian Trump yang Bersejarah

Victor Williams, seorang pengacara dan profesor hukum lama di Washington, D.C., memprediksi terpilihnya kembali Donald J. Trump. Pada 2016, Williams adalah salah satu dari sedikit yang memprediksi kemenangan tak terduga pertama Trump.Prof Williams menyatakan: “Trump harus dinilai berdasarkan pencapaian bersejarah periode pertamanya untuk Amerika”.

Williams menawarkan tujuh alasan untuk memprediksi kemenangan Trump tahun 2020:

1.Trump adalah “a promise keeper”

Trump memegang dan menepati janji dalam hal: Menciptakan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, deregulasi, pengurangan pajak, kemandirian energi, Fair Trade, dan Pertumbuhan Upah. Salah satu slogan kampanye Trump ialah “Promise Made Promise Kept” yang artinya ialah Janji yang Dibuat, Janji yang Ditepati.

Salah satu janji Trump yang terbesar pada tahun 2016 ialah pengurangan pajak, dan ini dipenuhi secara tuntas oleh Donald Trump. Walaupun partai Demokrat dan Joe Biden menyerang kebijakan Trump ini sebagai kebijakan yang hanya untuk pro orang kaya, pada kenyataannya pengurangan pajak ini diberlakukan untuk semua warga Amerika Serikat, baik yang berpendapatan rendah maupun memiliki pendapatan tinggi.

Janji kampanye Trump lainnya yang cukup monumental adalah menciptakan lapangan kerja, dan dari data pada tahun 2019 Amerika Serikat memiliki tingkat pengangguran yang rendah, bahkan bagi orang kulit hitam Amerika, serta orang Latin di Amerika Serikat, pengangguran pada tahun 2019 merupakan pengangguran terendah dalam sejarah Amerika Serikat.

Satu lagi janji kampanye Trump yang sangat dipenuhi adalah membela akan kehidupan bayi dalam kandungan. Janji ini dibuat terutama untuk menyenangkan kaum konservatif di Amerika Serikat, dan janji ini pun dipenuhi dengan sangat baik, dan menurut kaum konservatif, dipenuhi dengan lebih baik dari perkiraan semua orang. Trump menempatkan 3 hakim agung Amerika Serikat, yang semuanya merupakan hakim-hakim agung yang beraliran konservatif dan tidak beraliran progresif.

2. Trump Is A “Warp Speed” Virus Fighter

Trump adalah akselerator dalam memfasilitasi dan mempercepat pengembangan, pembuatan, dan pendistribusian vaksin COVID-19, dengan berbagai tindakan: Menutup China Travel. Memproduksi APD secara nasional. Melakukan kebijakan lockdown dengan seimbang antara kebutuhan kesehatan dan empati. Menerapkan “Operation Warp Speed” untuk menghadirkan terapi dan vaksin “enam kali lebih cepat dari yang pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah umat manusia”.

3. Trump adalah seorang “political disruptor”

Trump melakukan perubahan politik yang mengguncangkan dunia. Seeking Unity through Success; Memenangkan Dukungan Kulit Hitam & Hispanik; Melembagakan Reformasi Peradilan Pidana; dan Menghadapi Secara Langsung China, Iran, dan Korea Utara.

4. Trump is “a peacemaker”

Trump seorang pembawa damai, tidak suka perang. Dalam sejarah kepresidenan Amerika Serikat, Trump adalah satu-satunya presiden dalam dekade belakangan ini yang tidak memulai perang apapun juga. Trump melakukan pengurangan pasukan perang Amerika Serikat di Syria, Irak, serta daerah-daerah konflik lainnya. Hal ini tentu merupakan daya tarik sendiri bagi pemilih di Amerika Serikat, terutama di kalangan militer, karena dengan tidak adanya perang di Timur Tengah maupun daerah lain maka militer Amerika Serikat pun bisa ada pada masa kedamaian.

Selain itu, Trump juga merupakan salah satu pendorong berhentinya ketegangan di Semenanjung Korea, sehingga mendorong terjadinya perdamaian antara Korea Utara dan Selatan. Trump sendiri berkunjung ke Korea Utara di perbatasan Korea Utara dan Selatan, dan mengambil langkah-langkah yang lebih mengedepankan negosiasi daripada Obama maupun Bush.

Di Timur Tengah, Trump juga memprakarsai perdamaian antara Israel dengan berbagai negara Arab, sehingga menurunkan ketegangan di Timur Tengah, dan juga meningkatkan potensi ekonomi negara-negara di kawasan Timur Tengah dengan adanya Abraham Accords. Saat ini sudah ada tiga negara, yaitu UAE, Bahrain, dan Sudan.

5. Trump is a “law enforcer”/ penegak hukum

Trump dilihat sebagai calon presiden yang mempertahankan “law and order” di Amerika Serikat. Trump didukung oleh sebagian besar kepolisian di Amerika Serikat, dan telah mendapatkan endorsement dari kepolisian-kepolisian di Amerika Serikat, sementara Joe Biden gagal mendapatkan endorsement dari kepolisian manapun. Dalam menangani berbagai kerusuhan di Amerika pasca penembakan George Floyd, Trump dilihat sebagai calon yang mampu mengatasi keadaan, dibandingkan dengan Joe Biden yang cenderung terlihat sebagai pembela kerusuhan daripada pembela keteraturan.

Trump juga dilihat sebagai calon presiden yang mampu mempertahankan supremasi hukum di Amerika Serikat, karena berbagai tindakan tegasnya yang dilakukan terhadap para perusuh dalam demonstrasi beberapa minggu yang lalu.

6. Trump adalah pembela konstitusi

Amerika Serikat adalah negara yang sangat menjunjung tinggi kebebasan yang diberikan oleh konstitusi Amerika Serikat, dan yang paling sering menjadi perdebatan ialah First Amendment (kebebasan berbicara dan berpendapat) serta Second Amendment (kebebasan untuk memiliki senjata api).

Dalam hal kebebasan berbicara, Trump dikenal sebagai orang yang menjunjung tinggi kebebasan berbicara. Meskipun kubu Demokrat berusaha untuk menggambarkan Trump sebagai orang yang fasis, jelas bahwa Trump tidak mempermasalahkan segala kritik dan penghinaan yang ditujukan kepadanya, baik lewat media sosial maupun secara langsung. Trump juga menjunjung kebebasan berpendapat mengenai apapun juga, sementara kubu Joe Biden dilihat sebagai kubu yang mengekang kebebasan berpendapat karena seringnya partai Demokrat melarang diskusi mengenai hal-hal tertentu karena takut berdiskusi mengenai hal-hal yang sensitif.

Dalam hal kebebasan memiliki senjata api, Donald Trump dilihat sebagai calon yang mampu mempertahankan kebebasan rakyat untuk memiliki senjata api untuk mempertahankan diri, sedangkan kubu Joe Biden dilihat sebagai kubu yang melemahkan kemampuan rakyat untuk mempertahankan diri sendiri dan hanya memberikan persenjataan kepada kaum elite yang mempunyai kekayaan yang cukup untuk memiliki persenjataan. Hak untuk memiliki senjata api, baik untuk mempertahankan keluarga dan harta milik dari kriminal, maupun untuk melawan kekuatan tentara asing, maupun untuk melawan pemerintahan yang bersikap tirani, merupakan hak yang sangat bernilai historis bagi banyak warga Amerika Serikat.

7. Trump Memiliki Paduan Dua Kekuatan

Trump memiliki kekuatan dari dua sisi, antara seorang pengusaha yang energik, inovatif dan seorang politisi yang sudah berpengalaman 47 tahun di dunia politik.

Ekspektasi Ekonomi Sebagai Keunggulan Trump

Dari tinjauan Socio Economic Prediction ini, memang kekuatan Trump dibandingkan dengan Biden adalah ekspektasi ekonomi, dimana masyarakat lebih memiliki ekspektasi bahwa ekonomi akan lebih baik pada pemerintah Trump dibanding dengan Joe Biden, diantaranya:

– Kepastian usaha, strategi pengurangan pajak adalah sangat pro dunia usaha, sehingga dunia lebih memiliki ekpektsi untuk terjadi recovery dibanding rancangan Joe Biden yang akan menaikkan pajak.

– Kestabilan pasar tenaga kerja, dengan penciptaan lapangan kerja dan mengurangi angka pengangguran, menjadikan masalah tenaga kerja lebih stabil dari gejolak para buruh dan tenaga kerja.

– Pertumbuhan ekonomi pasca Covid-19, kebijakan lebih membuka ekonomi dibanding menutup, disertai dengan stimulus untuk membuat ekonomi lebih likuid, merupakan ekspektasi yang lebih baik dengan bukti pertumbuhan produk domestik bruto riil meroket 33,1 persen pada kuartal ketiga. Kemandirian ekonomi, dimana Trump cenderung melindungi pelaku usaha AS terhadap tekanan China, memberi harapan bahwa dunia usaha AS memiliki peran baik domestik maupun di pasar global.

Kekuatan ekspektasi ekonomi ini yang menjadi keunggulan dari Trump dibanding dengan Joe Biden, serta di sisi lain Trump masih memiliki keunggulan di bidang penegakan hukum “law and order”, serta peran internasionalnya sebagai “peacemaker”, sehingga lebih memperkuat ekspektasi keunggulan di bidang ekonominya.

Ekonomi Amerika Lebih Baik Dari Empat Tahun Lalu

Salah satu faktor utama dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat adalah ekonomi, dan Gallup melakukan penelitian bagaimana persepsi warga negara Amerika terhadap kemakmuran ekonomi di negaranya? Penelitian Gallup menemukan 55 persen orang Amerika menyatakan dibawah kepemimpinan Presiden Donald J Trump Amerika lebih makmur. Sekalipun dalam kondisi pandemi Covid 19 yang membuat ekonomi Amerika mengalami kontraksi, mereka mengatakan kondisi ekonomi Amerika lebih baik dibandingkan kondisi empat tahun yang lalu.

Tinjauan jajak pendapat terbaru Gallup tentang ekonomi – semua dilakukan sebelum debat presiden pertama – menemukan orang Amerika mengekspresikan pandangan yang positif tentang ekonomi AS dan sikap yang positif terhadap penanganan Trump terhadapnya. Beberapa orang Amerika (9 persen) menganggap aspek ekonomi apapun sebagai masalah utama negara. Mayoritas (54 persen) menilai Trump secara positif atas kinerja pekerjaannya di bidang ekonomi. Mayoritas (55 persen) juga menganggap diri mereka dan keluarga mereka lebih baik daripada empat tahun lalu.

Trump Berhasil Mendapatkan The Most Searches

Christoph Glauser, seorang ilmuwan media massa dan politik mengembangkan API’s (application programming interfaces) untuk mengevaluasi kandidat berdasarkan penelusuran internet dan jumlah reach dari media sosial. Ini adalah paket perangkat lunak kecil yang menganalisis, misalnya, apa yang benar-benar dicari orang di Google, Twitter, dan Facebook.

Glauser mengatakan bahwa data untuk analisis pemilu 2020 berasal dari 367 channels, termasuk search engines, media sosial, dan situs eCommerce, di Amerika Serikat serta 14.103 channels di luar negeri. Mereka menemukan bahwa Trump memiliki sekitar 70 juta searches dari rata-rata monthly searches di semua channels AS. Reachnya mencapai lebih dari 100 juta dengan tweetnya ketia Trump mengungkapan telah dites positif dan terkena virus corona. Sedangkan Biden hanya mencapai 26,6 juta di bulan September.Trump dan timnya mampu mengirim 43 tweet per hari dibandingkan dengan 11 tweet per hari untuk Biden. Trump juga mengungguli Biden secara signifikan dalam jumlah pengikut, dengan 87 juta pengikut dibandingkan dengan sekitar 11 juta untuk Biden.

Memperhatikan model charismometer yang sudah terbukti, catatan pencapaian bersejarah Tump, ekspektasi ekonomi Trump, bagaimana Trump berhasil mendapatkan The Most Searches dan jajak pendapat terbaru juga menyatakan 55 persen orang Amerika menyatakan dibawah kepemimpinan Presiden Donald J Trump Amerika lebih makmur. Menguatkan jalan untuk Presiden Trump akan terpilih kembali mengalahkan Joe Biden.

Keunggulan-keunggulan ini memberikan dorongan pada masyarakat Amerika untuk memilih Trump. Salah satu isu yang menjadi penting bagi Trump adalah isu aborsi, dimana Trump adalah presiden yang menentang akan aborsi, sedangkan Joe Biden, sesuai dengan platform partai Demokrat, adalah presiden yang setuju akan aborsi, bahkan akan melebarkan jangkauan dari aborsi itu sendiri. Bagi banyak orang Amerika, terutama orang-orang yang beragama, termasuk diantaranya kaum Evangelicals, isu aborsi merupakan salah satu isu kunci yang memastikan bahwa mereka akan memilih Trump dibandingkan dengan Biden. Masyarakat diperkuat untuk beralih memilih Trump karena semasa pemilihan presiden ini menjadi tidak tenang oleh protes yang terjadi pada 550 tempat di seluruh negeri. Di beberapa tempat dilakukan juga penjarahan yang merugikan. Minneapolis, Philadelphia, Chicago, New York, Seattle, Portland, Atlanta, dan lainnya mengalami kerugian besar karena penjarahan dan sekarang akan terus mengalami penurunan ekonomi. Kota-kota dan negara bagian ini dikuasai Demokrat. Sehingga beresiko berada di kota yang tidak akan melindungi keamanan properti bisnis dan karyawannya. Kondisi ini diprediksi akan membuat masyarakat beralih mendukung Trump.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here