TRUMP 2020 : Masihkah Polling Akurat?

2
1475
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. DOK: WHITE HOUSE

(Vibizmedia-Kolom) Pemilihan umum di Amerika Serikat akan berlangsung sebentar lagi, dimana pada tanggal 3 November akan dilakukan pemilihan umum, dimana Donald Trump sebagai petahana akan berhadapan dengan Joe Biden pada pemilihan yang sangat bersejarah pada tahun 2020 ini. Keduanya memiliki platform ekonomi yang sangat berbeda, dimana Donald Trump menjanjikan iklim ekonomi yang lebih pro-bisnis, sedangkan Joe Biden menjanjikan iklim ekonomi yang lebih menekankan kepada kesetaraan pendapatan, yang mungkin saja mengurangi efisiensi ekonomi Amerika Serikat.

Siapakah yang akan menang?

Siapakah yang akan menang? Merupakan pertanyaan yang sangat penting bagi para analis dan ekonom secara global, karena apakah White House akan diduduki oleh Joe Biden atau Donald Trump akan sangat mengubah ekonomi secara global. Kemenangan Donald Trump akan meningkatkan proteksionisme di Amerika Serikat, sedangkan kemenangan Joe Biden dapat membawa dampak negatif di pasar modal karena kebijakannya yang seringkali tidak sesuai dengan iklim bisnis.

Pertanyaan siapakah yang akan menang dalam suatu pemilihan umum biasanya dilihat dari pemilihan secara polling.

Polling pada 2020
Situs statistik Five Thirty Eight mensimulasikan bahwa kemungkinan Joe Biden menang ialah 90%.

Angka ini dihasilkan dari berbagai polling yang telah dilakukan, dimana situs ini sendiri melakukan pengolahan data terhadap berbagai badan polling yang telah dilakukan selama ini di Amerika Serikat. Sampai kepada berita ini dirilis, Joe Biden juga unggul dalam berbagai poling, dimana data polling terakhir pada tanggal Oktober 31 menunjukkan keunggulan Biden sebanyak 8.5 persen diatas Donald Trump.

Namun apakah polling tersebut benar-benar menunjukkan hasilnya? Apakah sudah pasti Donald Trump akan dikalahkan oleh Joe Biden?

Tentu tidak.

Dalam pemilu tahun 2016, Hillary Clinton juga diprediksikan menang dengan angka yang cukup fantastis, dimana pada bulan November 2016 Hillary Clinton diprediksikan akan unggul sebanyak 5.3%, namun ternyata dalam pemilu tahun 2016 kita mengetahui bahwa Donald Trump mengalahkan Hillary Clinton secara telak, dengan angka kemenangan yang cukup hebat.

Dalam malam penghitungan suara, banyak daripada media massa di Amerika Serikat juga sudah memprediksikan kemenangan Hillary Clinton, dimana misalnya Huffington Post, memperkirakan kemungkinan kemenangan Hillary Clinton sebanyak 91%.

Media lainnya, New York Times, memperkirakan kemenangan Hillary Clinton sebanyak 85%.

Namun, seperti kita ketahui, Trump memperoleh kemenangan pada malam tersebut. Dari pada pemilu tahun 2016, dapat kita lihat bahwa walaupun Trump tidak diunggulkan secara statistik, Trump tetap dapat melakukan kejutan dengan memperoleh kemenangan.

Voter enthusiasm

Dapatkah Trump meraih kemenangan dan melakukan kejutan seperti pada tahun 2016? Tentu saja Trump dapat meraih kemenangan seperti pada tahun 2016. Salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan pada tahun 2020 ini adalah tingginya voter enthusiasm untuk Trump, dan rendahnya semangat voter untuk Joe Biden.

Dari polling yang dilakukan oleh ABC News terhadap para pemilih, 53% dari pendukung Trump menyatakan “sangat semangat” untuk mendukung akan Trump, dibandingkan dengan 24% pendukung Joe Biden yang menyatakan “sangat semangat” untuk mendukung Biden. Meningkatnya semangat untuk memilih dapat juga mengubah keadaan, karena voter yang sudah sangat mendukung salah satu calon akan lebih semangat dalam melakukan aktivitas yang mendukung pasangan calon yang dipilihnya, misalnya dengan datang ke acara kampanye dari pasangan calon tersebut atau melakukan kampanye mendukung pasangan calon tersebut.

Saat kampanye pun berlangsung, jelas bahwa kampanye Trump mampu mengundang lebih banyak orang dibandingkan dengan kampanye daripada Joe Biden. Selama masa kampanye Trump dapat mendatangkan banyak massa dalam setiap pidatonya, sedangkan Joe Biden kurang dapat mendatangkan massa saat kampanyenya. Dalam berbagai kesempatan pun pendukung Trump pun melakukan banyak aktivitas kampanye, seperti boat parade untuk Trump, yang saat ini sedang dinominasikan untuk memecahkan rekor dunia untuk parade boat terbesar.

Single Issue Voter

Salah satu kunci kemenangan Trump adalah memenangkan single-issue voter, yaitu pemilih yang hanya mempunyai satu isu utama untuk menentukan calon mana yang harus dipilih dalam pemilihan umum.

Salah satu isu yang menjadi penting bagi Trump adalah isu aborsi, dimana Trump adalah presiden yang menentang akan aborsi, sedangkan Joe Biden, sesuai dengan platform partai Demokrat, adalah presiden yang setuju akan aborsi, bahkan akan melebarkan jangkauan dari aborsi itu sendiri. Bagi banyak orang Amerika, terutama orang-orang yang beragama, termasuk diantaranya kaum Evangelicals, isu aborsi merupakan salah satu isu kunci yang memastikan bahwa mereka akan memilih Trump dibandingkan dengan Biden.

Isu kunci lainnya yang menjadi potensi untuk menjadi kunci kemenangan Trump adalah isu keamanan domestik, atau yang seperti slogan Trump katakan “Law and Order”. Banyak dari masyarakat Amerika Serikat sudah cukup jenuh dengan berbagai kekerasan, perusakan, serta demonstrasi yang dilakukan oleh berbagai elemen di Amerika Serikat, dimana kerusuhan dan pengrusakan bisa berlangsung selama berbulan-bulan, karena dibiarkan oleh gubernur setempat yang biasanya berafiliasi dengan Partai Demokrat. Calon presiden Joe Biden gagal untuk menenangkan warga Amerika Serikat, karena tidak adanya komunikasi yang koheren dalam kampanye Partai Demokrat, dimana sebagian Partai Demokrat ingin mengurangi polisi sesuai dengan slogan “Defund the Police” sementara sebagian dari Partai Demokrat, termasuk Joe Biden sendiri, menginginkan pembiayaan kepada polisi.

Kekhawatiran warga Amerika Serikat terhadap masalah keamanan domestik dapat terlihat dari tingginya pembelian akan senjata api di Amerika Serikat, pada level yang tidak pernah tercapai sebelumnya.

Voter Shyness

Salah satu fenomena yang menarik yang dapat membuat Trump kembali meraih kemenangan adalah fenomena voter shyness di Amerika Serikat. Penelitian dari Bloomberg pada Agustus 2020 menunjukkan bahwa lebih dari 10% pendukung partai Republican tidak mau terus terang kepada badan polling, dibandingkan dengan 5% pendukung partai Demokrat. Hal ini menunjukkan bahwa hasil polling sangat mungkin tidak reliabel, karena adanya pemilih, terutama dari partai Republican, yang tidak terus terang dengan pilihannya sendiri.

Voter Suppression

Pembahasan mengenai voter suppression atau aktivitas-aktivitas menakut-nakuti pemilih pasangan calon yang lain juga menjadi issue yang penting di Amerika Serikat. Kubu Partai Demokrat menuding bahwa dengan melakukan verifikasi ID pada saat pemilihan umum pada tempat pemungutan suara, partai Republican melakukan penekanan terhadap warga Amerika Serikat. Namun di lain sisi, tuduhan dari Partai Demokrat ini tidak bisa diterima karena memiliki ID merupakan salah satu hal yang mudah di Amerika Serikat, dimana biaya untuk memiliki ID di Amerika Serikat adalah rendah, dan ID tersebut pasti dikirimkan ke alamat warga tersebut dalam waktu maksimal 2 minggu setelah proses dimulai.

Di sisi lain, dari berbagai kerusuhan yang ada, di kota-kota yang dikuasai Demokrat seperti Minneapolis, Philadelphia, Chicago, New York, Seattle, Portland, Atlanta, dan lainnya sekarang akan terus mengalami penurunan ekonomi. Banyak protes disertai dengan kekerasan dengan beberapa kota besar menyaksikan kerusuhan skala besar, penjarahan, dan pembakaran bisnis dan mobil polisi. Dari berbagai video yang muncul, nampak bahwa banyak peserta protes memaksa pengunjung restoran ataupun warga sekitar juga menunjukkan dukungan. Bagi warga yang tidak mendukung, jelas ini juga merupakan suatu tekanan bagi mereka, sehingga mereka juga bisa jadi tidak mengutarakan keinginan mereka bila mereka di sample oleh badan polling. Namun pilihan masyarakat sesungguhnya beralih ke Trump karena alasan keamanan yang lebih terjamin bila Trump menang.

Dari faktor-faktor yang ada, serta gagalnya badan polling memperkirakan kemenangan Trump pada tahun 2016, Trump sangat mungkin mengalahkan seluruh ekspektasi dan meraih kemenangan pada tahun 2020.

 

Kemenangan Trump Di Medan Pertempuran Utama

Profesor Wesley Widmaier, seorang ahli urusan internasional di Universitas Nasional Australia, mengatakan gambaran polling itu tampak berbeda ketika meneliti jajak pendapat negara bagian mikro dibandingkan di medan pertempuran utama. “Donald Trump masih memiliki jalur elektoral yang jelas ke kursi kepresidenan, “Profesor Widmaier berkata tentang Presiden Trump.

“Pennsylvania masih mengudara, Florida masih mengudara, dan bahkan Arizona bukanlah hal yang pasti bagi Biden.” Posisi Trump kuat untuk merebut Pennsylvania dan Florida, Profesor Widmaier mengatakan presiden dapat menemukan jalan menuju kemenangan.

Profesor Widmaier mengatakan para pendukung Trump memiliki hak untuk merasakan “optimisme yang memenuhi syarat”, karena presiden mengejar kemenangan yang tidak terduga. Menurut serangkaian jajak pendapat terbaru, hanya 48 jam dari pemungutan suara, Biden memimpin Trump di Wisconsin, Michigan dan Pennsylvania.Tetapi Profesor Widmaier mengatakan beberapa dari hasil jajak pendapat negara bagian itu berada dalam margin of error. Sebagian besar pakar melihat Wisconsin, Pennsylvania, Michigan, Carolina Utara, Florida, dan Arizona memainkan peran yang membentuk Gedung Putih dalam pemilu.

“Jajak pendapat hanya akan sebaik model yang mereka gunakan,” Profesor Widmaier menjelaskan. Gelombang pendaftaran pemilih baru, tingkat antusiasme yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan aturan pengiriman baru merupakan variabel yang dapat membatalkan polling, katanya.

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here