Harga Batubara Dunia Naik Tertinggi 2020, Prospek Sahamnya Dapatkah Membara?

0
178

(Vibizmedia – IDX Stocks) – Harga batubara ICE Newcastle untuk pengiriman Januari 2021 berada di level US$ 65,50 per ton pada penutupan Jumat (20/11). Level ini merupakan level tertinggi yang berhasil dicapai oleh batubara sepanjang tahun 2020.

Sejumlah analis menilai, harga komoditas emas hitam ini memiliki potensi untuk pulih seiring membaiknya kondisi perekonomian global. Dalam jangka pendek, pemerintah China diperkirakan akan secara bertahap memberikan kuota baru ke provinsi pesisir untuk  mendatangkan batubara thermal asal Indonesia. Hal ini karena pembatasan China atas impor batubara asal Australia telah menyebabkan kekurangan pasokan batubara domestik. Di sisi lain, harga spot batubara naik jauh melampaui batas atas yang ditetapkan pemerintah, yakni 600 yuan per ton atau setara dengan US$ 90,7 per ton yang dianggap terlalu tinggi.

Untuk jangka menengah, grup raksasa industri sektor kelistrikan China telah menyatakan bahwa kapasitas pembangkit listrik batubara akan mencapai 1.300 gigawat (GW) pada 2030 akhir, naik dari 1.050 GW saat ini. Hampir sebanyak 250 GW pembangkit listrik tenaga batubara sedang dikembangkan di China yang dinilai cukup untuk menggerakkan ekonomi terbesar di Benua Eropa, yakni Jerman.

“Sementara dalam jangka panjang, kenaikan harga batubara berasal dari penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang kuat di seluruh dunia dengan konsumsi listrik yang besar yang mendorong lebih banyak permintaan batubara.

Menurut Bank of America, penjualan mobil listrik terhadap seluruh penjualan kendaraan secara global diperkirakan akan naik, dari 5% pada akhir 2021 menjadi 40% pada akhir tahun 2030, dan menjadi  95% pada akhir tahun 2050.

Selain itu, pada kuartal kedua 2021, permintaan dari Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia kemungkinan mulai meningkat secara signifikan. Ketiga negara ini memiliki peran penting bagi emiten batubara lokal karena ketiga negara tersebut merupakan pengimpor batubara dari Indonesia. Negara-negara ini memiliki sistem pengendalian yang cukup baik untuk menjaga tingkat infeksi Covid-19 tetap rendah sembari menunggu adanya vaksin.

Hanya saja, hingga paruh pertama 2021, permintaan batubara dari India diyakini mungkin masih rendah. Tingkat infeksi Covid-19 di India merupakan yang terbesar kedua di dunia. Pada bulan September, infeksi harian di sana mencapai 85.000 infeksi per hari. Perekonomian India termasuk salah satu yang terburuk di dunia, dengan kontraksi mencapai 23,9% pada kuartal kedua tahun 2020. Diperkirakan, perekonomian India membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.

Di sisi lain, jika harga batubara China menyentuh level 630 yuan, maka pemerintah China berpotensi melonggarkan pembatasan impor. Kondisi ini akan menjadi keuntungan bagi eksportir batubara Indonesia untuk meningkatkan penjualannya. Untuk saat ini, Indonesia berkontribusi terhadap 47,5% impor batubara ke China.

Batubara juga akan terus memberikan kontribusi yang signifikan bagi energi terbarukan Indonesia. Berdasarkan rapat usaha penyediaan listrik (RUPTL) 2019, batubara masih akan menyumbang 54,4% dari energi terbarukan Indonesia hingga tahun 2028 dari yang saat ini sekitar 60%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat hingga akhir perdagangan sesi I hari ini. Selasa (24/11), lebih tinggi 35,99 poin atau 0,64% ke 5.688,76 pada pukul 11.30 WIB.

Sejumlah saham emiten batubara bergerak naik pada perdagangan hari ini (24/11). Saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menguat 2.33% atau 30 poin ke level Rp 1.320. Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menguat 1.75% atau 40 poin ke level Rp 2.320, sementara saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) melompat 4.52% ke harga Rp 10.975 per lembarnya.

Saham PT Indika Energy Tbk dengan kode INDY naik 2.94% ke level Rp 1.400. Saham PT Bumi Resources Tbk  (BUMI) yang biasanya anteng di zona gocap (Rp 50), hari ini naik 5.66% atau 3 poin ke harga Rp. 56 per saham.

Meskipun saat ini mayoritas saham emiten tambang batubara sudah cukup mahal (overvalued). Hanya saja, sejumlah saham seperti PTBA dan ADRO masih tergolong murah. Dimana PER untuk PTBA adalah 10.32 kali sementara untuk saham ADRO adalah 19.18 kali. Untuk PBV nya, PTBA berada di 1.69 kali dan ADRO  berada di 0.77 kali.

Emiten PTBA membagikan dividen untuk tahun 2020 ini di bulan Juli 2020 yang lalu, sebesar Rp.326.46 per lembarnya sementara ADRO membagikan dividen pada tanggal 19 Juni 2020 yang lalu, sebesar USD 0.00313 per lembar sahamnya.

Alhasil, investor disarankan tetap berhati-hati karena saham di sektor ini sudah naik signifikan sebelum adanya potensi koreksi terlebih dahulu. Meskipun demikian, peluang untuk kembali menguat tetap ada.

Adapun penguatan yang terjadi pada harga batubara saat ini mencerminkan optimisme perkembangan vaksin yang mulai menunjukkan kemajuan yang baik. Optimisme vaksinasi tersebut dapat mengembalikan aktivitas bisnis dengan normal sehingga perekonomian bisa kembali pulih. Dan yang patut menjadi katalisator adalah wilayah empat musin memasuki musim dingin jadi pemicu permintaan batubara menjadi meningkat.

Sejumlah emiten batubara telah melaporkan kinerja  keuangan di kuartal ketiga 2020. Hasilnya, mayoritas emiten penambang batubara tersebut mengalami penurunan kinerja akibat harga jual yang menurun.

Perusahaan tambang batubara milik negara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga masih mencetak laba bersih senilai Rp 1,7 triliun pada kuartal III-2020. Meski demikian, raihan laba bersih ini turun 44% jika dibandingkan dengan capaian laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 3,10 triliun.

Penurunan laba bersih ini sejalan dengan penurunan pendapatan bersih Bukit Asam. Emiten yang berbasis di Sumatra Selatan ini membukukan pendapatan bersih senilai Rp 12,8 triliun, turun 20,94% dari realisasi pendapatan bersih di triwulan ketiga 2019 yang kala itu mencapai Rp 16,25 triliun.

Penurunan pendapatan ini juga seiring dengan menurunnya volume penjualan batubara Bukit Asam. Sepanjang 9 bulan pertama 2020, volume penjualan batubara Bukit Asam menurun 9% secara tahunan menjadi 18,6 juta ton.

Namun PTBA membukukan pemulihan kinerja pada kuartal ketiga 2020 dengan membukukan laba bersih Rp 439 miliar di periode kuartal ketiga. Realisasi  ini naik 14,0% secara kuartalan, tetapi masih menurun 59,8%  secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Pertumbuhan laba ini didorong oleh volume penjualan batubara yang lebih tinggi, yakni  naik 3,7%  dari kuartal kedua 2020 menyusul pelonggaran pembatasan sosial (PSBB) sejak Juni 2020 yang menyebabkan permintaan listrik domestik lebih tinggi.  Naiknya laba bersih juga didorong oleh beban umum dan administrasi yang lebih rendah 33,6% secara kuartalan dan normalisasi tarif pajak sebesar 21,3% di kuartal ketiga (berbanding dengan 34,9% di kuartal kedua 2020).

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), harga batubara acuan (HBA) merosot sekitar 24% dari US$ 65,93 per ton pada bulan Januari 2020 menjadi US$ 49,92 per ton pada bulan September 2020. Selama triwulan pertama dan kedua, banyak Negara-negara yang menerapkan lockdown. Selain itu, ada penurunan permintaan listrik dari PLN.

Hal yang sama juga dialami PT Adaro Energy Tbk, pemilik kode saham ADRO. Adaro membukukan penurunan pendapatan sebesar 26% secara tahunan menjadi US$ 1,95 miliar per kuartal III-2020. Penurunan pendapatan didorong oleh penurunan harga jual rerata atau average selling price (ASP) sebesar 18%. Hal ini lantas membuat laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 73,06% menjadi US$ 109,37 juta.

“Meskipun dibayangi oleh tantangan ekonomi makro, kami masih dapat mempertahankan operasi yang solid. Kondisi pasar batubara yang sulit akibat ekonomi global yang masih belum kondusif karena pandemi yang berkepanjangan terus menekan profitabilitas perusahaan,” ungkap Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi Thohir.

Dari sisi volume, penjualan batubara ADRO hingga September 2020 menurun 9%, dari 44,66 juta ton menjadi 40,76  juta ton.

Selasti Panjaitan/Vibizmedia
Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here