Distribusi Vàksin, Pemerintah Sudah Miliki Standar Secara Aman

0
582
Juru Bicara Pemerintah dr Reisa Brotoasmoro. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibizmedia-Nasional) Juru Bicara Pemerintah dr Reisa Brotoasmoro kembali mengedukasi masyarakat tentang proses pendistribusian, pemberian, hingga penyuntikan vaksin.

Penjelasan Reisa itu disampaikan melalui dialog singkat bersama seorang Pakar Imunisasi dr Elizabeth Jane Soepardi “Bagaimana sebenarnya proses distribusi vaksin sampai bisa ke seluruh pelosok di Indonesia?” tanya Reisa mengawali dialog, sebagaimana ditayangkan Kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 30 November 2020.

Menurut Jane, PT Bio Farma selaku badan usaha milik negara (BUMN) yang bertugas untuk memproduksi vaksin Covid-19 sudah berpengalaman dalam mendistribusikan vaksin hingga ke pelosok Indonesia. Melalui pabrik vaksin Bio Farma yang di Bandung itu, sudah mempunyai armadanya berikut jejaring yang akan mendistribusikan vaksin untuk penerimanya.

“Nah, jadi kita sudah punya depo-depo vaksin. Provinsi sudah punya cold room , itu lemari es yang besar sekali yang bisa menyimpan vaksinnya untuk 3 bulan sampai 6 bulan,” jelasnya. Cold room tersebut menyimpan vaksin pada suhu terjaga, berkisar 2 derajat sampai dengan 8 derajat Celcius untuk vaksin sensitif beku (tidak boleh beku). Lalu, untuk penyimpanan vaksin yang sensitif panas, dijaga pada suhu minus, yaitu berkisar antara -15 derajat hingga -25 derajat.

Selanjutnya secara bertahap akan dikirim ke tingkat kabupaten, dan terus didistribusikan ke hingga ke rumah sakit hingga puskesmas.

Untuk menjamin kualitas vaksin saat pendistribusian, Jane menambahkan bahwa vaksin yang dikeluarkan dari lemari es vaksin, akan dibawa menggunakan tempat sementara yang disebut vaccine carrier. Yaitu alat untuk mengirim atau membawa vaksin dari puskesmas ke posyandu atau tempat pelayanan imunisasi lainnya.

Alat ini, dapat mempertahankan suhu yang dibutuhkan vaksin saat dalam perjalanan. “Itu (tempat sementara) ada seperti box-box. Lemari es vaksin, tidak sama dengan lemari es makanan yang biasa,” katanya.

Ketika vaksin sudah siap untuk diberikan ke masyarakat, lanjutnya, pemberian layanan sebaiknya sudah dijadwalkan. Jadwal tersebut baiknya sudah mengatur tanggal, waktu, dan tempat pelaksanaan imunisasi. “Sehingga pada waktunya nanti, pemberi layanan dan yang dilayani itu ketemu. Teratur, tempatnya dimana, waktunya kapan dan siapa yang bekerja disitu, dan siapa yang datang. Itu yang ideal,” lanjut Jane.

Sehingga nanti, pada saat pelaksanaannya, berlangsung cepat mulai dari pelayanan hingga saat petugas memberikan layanan. Maksimum, dalam memberikan layanan itu untuk 1 orang selama 10 menit. Dari mulai penerima vaksin itu datang, mendaftarkan diri, pelayanan hingga saat meninggalkan tempat imunisasi.

Untuk itu, masyarakat diminta untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam menghadirkan vaksin Covid-19 yang terjangkau dan berdaya manfaat tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here