Optimis IHSG Indonesia Tahun 2021, Akan Tembus Level 7000

0
102

(Vibizmedia – Column) – Pemulihan ekonomi global dan domestik akan mengangkat bursa saham Indonesia pada 2021. Bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mencapai level 6450 pada kuartal pertama tahun 2021 dan akan terus berlanjut sampai pertengahan tahun ke level 7000 dan akan mencapai level 7700 di akhir tahun 2021, demikian prediksi Analis Vibiz Research Center.

Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 diperkirakan akan kembali ke 5% dalam sentimen optimisme pemulihan, dengan adanya vaksinasi, SWF, UU Cipta Kerja, dan kelanjutan PCPEN.

Masuknya dana asing dan membaiknya kinerja emiten akan menjadi katalis positif bagi IHSG. Namun peranan investor ritel di bursa saham domestik yang saat ini semakin meningkat dan mulai menguasai transaksi di pasar modal, juga dapat diperhitungkan karena bursa saham Indonesia akan tidak lagi tergantung investor asing. Tren ini diyakini akan terus berlanjut di tahun depan.

Salah satu sentimen positif yang mendorong laju bursa saham menguat signifikan di tahun depan adalah mengenai vaksinasi massal. Bila secara timeline distribusi vaksin Corona bisa dipercepat, bisa memberikan kepastian bagi investor sehingga ekonomi domestik bisa berangsur pulih.

Adapun, beberapa sektor yang menjadi pilihan Analis Vibiz Research Center di tahun depan antara lain sektor-sektor yang berkenaan dengan domestic siclical recovery, seperti infrastruktur, saham-saham perbankan, properti dan ritel. Termasuk saham telekomunikasi dan kesehatan/farmasi.

Sektor property dinilai akan cukup positif di tahun depan sejalan dengan dampak dari Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) yang membolehkan warga non residen membeli apartemen di Indonesia.

Kinerja emiten konstruksi, termasuk BUMN karya terlihat mulai bergeliat pada akhir tahun seiring dengan kontrak baru yang menebal. Analis pun memperkirakan pemulihan bertahap sektor konstruksi bakal berlanjut hingga 2021, dipicu pengesahan Undang-undang Cipta Kerja. Dan keputusan pemerintah yang akan menggelontorkan belanja infrastruktur senilai Rp414 triliun pada 2021 atau naik sekitar 47 persen dari anggaran pada 2020.

Selanjutnya, katalis positif juga datang dari pembentukan Sovereign Wealth Fund bernama Nusantara Investment Authority (NIA) sebagai produk turunan dari UU Cipta Kerja.

SWF ini diharapkan bakal memberi kejelasan dalam divestasi aset infrastruktur di masa depan. Dengan demikian, perusahaan kontraktor pelat merah khususnya PT Waskita Karya (Persero) Tbk. bakal diuntungkan karena memiliki aset jalan tol terbanyak.

Ada juga realisasi penyerapan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) menjadi faktor yang penting, perbaikan data ekonomi seperti inflasi, purchasing manager’s index (PMI), dan juga data penjualan ritel. Selain SWF, sejumlah aturan turunan dari Omnibus Law seperti prosedur pembelian tanah, agensi land bank, hingga kemudahan berusaha juga akan mendorong performa perusahaan konstruksi.

Kemudian sektor yang masih akan cenderung stabil adalah emiten konsumer seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Meskipun ada risiko penurunan daya beli dengan tidak dinaikkannya Upah Minimum Regional (UMR) di mayoritas propinsi di Indonesia mengingat faktor Covid-19 yang masih melanda terutama di sisi pengusaha.

Saham-saham farmasi khususnya duo BUMN, Kimia Farma (KAEF) dan Indo Farma (INAF) akan terus menjadi perhatian investor karena keduanya tergabung menjadi anak usaha Holding BUMN Farmasi, PT Bio Farma (Persero).

Satu sentimen terbaik bagi saham farmasi ialah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memutuskan untuk menggratiskan vaksin Covid-19 kepada masyarakat. Hal itu disampaikan Presiden dalam keterangan pers via Youtube Sekretariat Presiden, Jakarta, Rabu (16/12/2020).

Selasti Panjaitan/Vibizmedia
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here