Terbukti Efektif! Plasma Terapi untuk  COVID-19

0
248
Ilustrasi terapi Plasma Konvalesen. FOTO: DINKES BALI

(Vibizmedia – Health) Vaksin adalah untuk pencegahan agar tidak tertular COVID-19. Namun untuk orang yang telah tertular tetap memerlukan pengobatan.  Pemerintah sendiri menaruh perhatian pada  terapi dengan plasma darah. Dan saat ini telah dibentuk unit-unit pendonoran darah di berbagai kota di Indonesia. Jika Anda pernah menderita COVID-19 dan kini telah sembuh, informasi ini mungkin berguna untuk Anda dapat menolong orang lain.

Terapi Plasma Konvalesen (TPK) COVID-19

Plasma yang dimaksud adalah plasma darah. Saat ini terapi plasma dibagi menjadi dua yaitu:

  • Plasma Konvalesen
  • Plasma IVIG (human immunoglobulin)

Dari sisi biaya, plasma IVIG yang diberikan melalui suntikan intravena jauh lebih mahal daripada plasma konvalesen dan tidak terjangkau oleh kebanyakan masyarakat. Itu sebabnya pada artikel kali ini kita lebih membahas kepada plasma konvalesen yang telah dimulai sejak 100 tahun yang lalu.   Sejarah penggunaan plasma ketika ilmuwan Jerman Emil von Behring pada tahun 1890 dengan sengaja memaparkan kuda ke bakteri beracun yang menyebabkan difteri.  Setelah hewan itu sembuh, Behring menggunakan darah kuda yang kaya antibodi untuk mengimunisasi manusia terhadap penyakit mematikan itu dan percobaan itu berhasil!  Pada tahun 1901 Behring memenangkan Hadiah Nobel pertama di bidang Fisiologi atau Kedokteran atas prestasinya.  Kini teknologi telah semakin maju dan plasma darah dapat dipisahkan dari komponen lainnya.

Apa itu Plasma Konvalesen?

Plasma konvalesen disebut juga plasma penyembuhan atau plasma pemulihan. Plasma konvalesen adalah plasma darah yang berasal dari donor yang telah terkena COVID-19 dan memiliki antibody terhadap COVID-19. Plasma darah ini akan membantu untuk menekan perkembangan virus dan mengubah respons peradangan akibat infeksi virus.

Sebenarnya plasma konvalesen merupakan strategi imunisasi pasif untuk mencegah infeksi sama halnya seperti cara kerja vaksin dan sebagai terapi untuk mengobati yang sudah terinfeksi.   Jadi plasma konvalesen berguna baik untuk menyembuhkan yang telah sakit karena COVID-19 ataupun untuk pencegahan (profilaksis).

Cara Kerja Plasma Konvalesen

Plasma adalah bagian cairan kuning darah yang mengandung protein dan antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk menangkis virus yang masuk. Kebanyakan orang yang pulih dari COVID-19 mengembangkan antibody, yaitu protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap infeksi.

Plasma dikumpulkan dari donor yang telah pulih dari COVID-19 melalui proses yang disebut apheresis dengan menggunakan mesin khusus untuk memisahkan darah menjadi beberapa komponen. Yang dikeluarkan dari mesin hanyalah Plasma  darah sedangkan komponen darah lainnya yaitu sel darah merah, sel darah putih dan trombosit dikembalikan ke tubuh donor. Setelah itu plasma konvalesen diberikan melalui infus kepada orang yang membutuhkan.  Plasma ditransfusikan menjadi penyedia  antibodi SARS-CoV-2 yang mengikat virus corona yang ditargetkan, menghentikannya untuk menempel ke sel baru sehingga menghentikan berkembangnya  partikel virus.

Studi Tentang Plasma Konvalesen

Studi Mayo Clinic telah dilakukan terhadap 35.000 orang yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19. Studi ini mempelajari dua hal. Yaitu keamanan (safety) dari plasma konvalesen dan yang kedua kapankah tranfusi sebaiknya diberikan.  Dalam studi ini ditemukan bahwa tingkat kematian menurun  jika diberikan transfusi selama seminggu mulai dari hari ketiga setelah didiagnosis dengan COVID-19  (8,7%)  daripada diberikan pada hari keempat setelah didiagnosis COVID-19 (11,9%).

Selain Mayo Clinic, National Institue of Health Amerika juga mengadakan percobaan dan juga negara-negara lain termasuk Indonesia. Indonesia mengadakan penelitian di RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) yang telah dimulai April 2020. Ratri Anindya, yang merupakan salah satu dari pasien pertama COVID-19 di Indonesia, yang telah sembuh  menyumbangkan plasma darahnya di RSPAD pada 18 April 2020.  Setelah itu  juga   Pusat Litbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan, Badan Litbangkes bekerjasama dengan Lembaga Eijkman, Kemenristek/BRIN, Palang Merah Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan, serta seluruh rumah sakit yang terlibat melakukan penelitian terhadap TPK sejak September 2020.

Kini gerakan untuk mendonorkan plasma semakin gencar di Indonesia.  Indonesia telah memiliki 15 provinsi dengan 30 titik lokasi pendonoran plasma baik di RS maupun di PMI setempat.

Vera Herlina/Journalist/VM
Editor: Emy Trimahanani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here