PMI Manufaktur Indonesia Desember 2020 Tembus 51,3

0
365
Ilustrasi industri pengolahan FOTO: KEMENPERIN

(Vibizmedia-Nasional) Meski di tengah tekanan berat akibat pandemi Covid-19, geliat industri manufaktur di dalam negeri bangkit menembus fase ekspansif. Terbukti, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2020 tercatat di level 51,3 atau naik dibanding capaian bulan sebelumnya yang berada di posisi 50,6.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menjelaskan bahwa peningkatan indeks tersebut didukung adanya pertumbuhan pesanan baru, yang mengacu ekspansi solid pada output. Menurutnya, kenaikan ini merupakan tercepat kedua dalam sejarah survei selama hampir sepuluh tahun.

“Ini capaian yang luar biasa, saya berterima kasih kepada para pelaku industri yang tetap berusaha semaksimal mungkin mengoptimalkan sumber daya yang ada di tengah keterbatasan yang ada. Hal ini juga menunjukkan bahwa langkah-langkah kebijakan Kementerian Perindustrian mampu mendorong hal ini,” tegas Agus Gumiwang dalam keterangannya, Senin, 4 Januari 2021.

Agus menegaskan Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk bisa memasuki tahap pemulihan ekonomi.

“Pemerintah optimistis seluruh rangkaian strategi dan kebijakan yang telah dilakukan mampu memanfaatkan peluang pemulihan ekonomi yang ada ke depan,” jelasnya.

Apa saja indikator menuju pemulihan di 2021? Lanjutnya. Ini bisa terlihat dari perjalanan perekonomian nasional selama 2020. Perekonomian Indonesia pernah mengalami titik terendahnya atau rock bottom di triwulan II/2020, terutama ketika pertama kali negara ini dinyatakan mengalami serangan wabah pandemi.

Namun, pada triwulan III/2020 mulai mengalami perbaikan meski masih kontraksi di -3,4 persen (yoy). “Kondisi ini masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara lain, seperti Jerman, Singapura, Filipina, Spanyol, dan Meksiko yang rata-rata mengalami kontraksi rata-rata di -4 persen,” ungkap Agus.

Makro ekonomi lainnya yang mendukung adalah permintaan domestik dan keyakinan konsumen yang membaik.

“Hal tersebut diyakini akan mendorong produksi atau supply side. Lalu, IHSG dan nilai tukar rupiah yang terus menguat dan kembali ke level pre-Covid-19,” ucapnya.

Terdapat tiga subsektor yang diproyeki mampu mencatatkan akselerasi pertumbuhan ciamik pada 2021, tambahnya, yakni industri makanan, minuman, serta kertas dan barang dari kertas. Pihaknya, mencatat, industri minuman misalnya, dapat tumbuh 4,39% secara tahunan pada 2021.

Selain itu, Agus menyatakan, pihaknya akan memberikan perhatian khusus pada beberapa sektor manufaktur, seperti industri farmasi, produk obat, kimia, obat tradisional, bahan kimia, barang dari bahan kimia, logam dasar, dan makanan.

Untuk tahun ini, pertumbuhan industri tersebut diperkirakan kembali ke jalur positif. Seluruh subsektor manufaktur digadang-gadang kembali bergairah.

“Dengan asumsi pandemi sudah bisa dikendalikan dan aktivitas ekonomi sudah bisa kembali pulih, kami memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur pada 2021 akan tumbuh 3,95%,” imbuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here