Nona Evita Widjanarko: Keseimbangan Hidup Seorang Dosen dan Ibu

0
179
Nona Evita Widjanarko (Foto: Courtesy)

(Vibizmedia – Gaya Hidup) Cantik dan kreatif. Itulah kesan yang bisa dilihat dari Nona Evita Widjanarko. Wanita yang pernah menjadi Putri Indonesia Favorit 2007 ini, memang bisa dikatakan cerdas. Bukan hanya pintar mengajar mahasiswa, tetapi ia juga bisa menjadi ibu yang baik bagi Keana, putri semata wayangnya.

Kepada Vibizmedia, wanita yang berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas swasta ini, juga menuliskan pandangannya sendiri mengenai online learning dan kiat menjadi orangtua yang sukses.

Online Learning = Komitmen Pribadi

Menurut Nona, tahun 2021, adalah tahun dimana orang mau tak mau akan bersahabat dengan teknologi, dan itu juga berlaku di dunia pendidikan. “Pemanfaatan teknologi menjadi hal yang utama di tahun ini dan juga tahun 2021”, ungkapnya.

Untuk dunia pendidikan, teknologi digunakan dalam online learning. Baginya, online learning berbeda dengan pembelajaran dalam kelas. Dikatakan berbeda, karena online learning sangat bergantung penuh pada peran dari wali murid maupun mahasiswa sendiri. “Di satu sisi, mereka jadi terbiasa membangun komitmen pribadi.” katanya.

Work From Home dan Mengurus Anak

Work from home, tentunya membuat tak ada jam kerja. Jadi, untuk mendisiplinkan diri, dan membagi waktu dengan anaknya, Nona punya cara tersendiri.

“Selama bangun itulah kerja. Cara membagi waktunya tentu untuk jadwal mengajar tidak bisa dipindah. Namun setelah mengajar, saya fokus ke anak.” Dengan cara itulah, Nona tetap menjamin anak perempuannya mendapat perhatian yang cukup, termasuk untuk pertumbuhannya.

Baginya, seorang ibu yang sukses, bukan hanya yang bisa mencari nafkah bagi anaknya, tapi yang bisa mendidik anak menjadi anak yang baik dan benar, dan bisa menjadi teman anak sehingga anak nyaman dan anak bahagia.

Sukses, Dimulai Dari Pemikiran Positif

Mengenai kesuksesan, Nona punya pendapat tersendiri. “Sukses itu mencapai target lewat proses. Mulanya dari positive mindset.” katanya.

“Dari situ kita isi gelas ilmu, ibarat mau perang, harus punya peluru. Kemudian kita action, lakukan sesuatu. Kalau gagal kita evaluasi, pakai cara lain, pakai metode lain. Kalau berhasil, kita inovasi terus. Dan sesudah kita capai target, kita ulang lagi prosesnya.” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here