Awas, Lansia Rentan COVID-19!

0
226
Ilustrasi vaksinasi. FOTO: KEMENKES

(Vibizmedia – Health)  Perkembangan COVID-19 di Indonesia  pada 8 Januari 2021 adalah pertambahan sebanyak 10.167 orang terkonfirmasi positif COVID-19 dengan kasus meninggal tercatat 233 orang.  Pada COVID -19, populasi usia lanjut di Indonesia menjadi konsen tersendiri. Sebagaimana kita ketahui, lansia adalah populasi beresiko tinggi. Kebanyakan lansia  sudah memiliki penyakit seperti Hipertensi, Diabetes, Jantung atau lainnya dan sangat berbahaya bila terinfeksi virus SARS-COV2.  Sedangkan tingkat Populasi usia lanjut di Indonesia menurut data Kementerian Sosial pada 21 September 2020 kemarin adalah dari 10% dari populasi penduduk pada 2020. Jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah  269,9 juta orang. Hal ini berarti  jumlah penduduk usia di atas 60 tahun mencapai 28,7 juta orang atau lebih dari 10,6%. Dan dari jumlah tersebut lansia wanita lebih banyak daripada pria.

Melansir berita dari Humas FKUI mengenai Studi FKUI-RSCM tentang profil klinis COVID-19 yang dilakukan  oleh  Tim peneliti terdiri dari sejumlah staf di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM dan Clinical Epidemiology and Evidence-Based Medicine Unit (CEEBM) FKUI-RSCM.  Periode  penelitian adalah April hingga Agustus 2020 dan hasilnya ditemukan bahwa tingkat kematian lansia yang berusia di atas 60 tahun adalah sebesar 23%. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Acta Medica Indonesiana Jurnal Q3 reputasi internasional dengan judul Clinical Profile of Elderly Patients with COVID-19 Hospitalized in Indonesia’s National General Hospital.

50% pasien lansia dari 44 pasien yang dirawat mengalami gejala khas COVID-19 yaitu:

  • Demam
  • Batuk dan sesak napas hanya sekitar 50%.

Selebihnya mengalami gejala yang  tidak khas. Justru gejala yang tidak khas ini seringkali mengakibatkan keterlambatan diagnosis dan penanganan.

Dalam studi juga ditemukan bahwa pasien yang meninggal 90% berjenis kelamin laki-laki dan semakin lanjut usia semakin tinggi resiko mengalami kematian akibat infeksi SARS-COV2.

Mengapa Lansia Laki-laki lebih rentan?

Berikut ini adalah beberapa penyebabnya:

  • Penurunan jumlah sel B dan sel T pada laki-laki usia lanjut lebih besar dibandingkan perempuan dan hal ini mengakibatkan respons imun yang dihasilkan tidak adekuat.
  • Adanya hormon testosteron, yaitu hormon seks pria, ternyata mempengaruhi ekspresi TMPRSS2 yang berperan penting dalam proses masuknya virus SARS-CoV-2 ke dalam sel tubuh. Hal ini membuat pasien lansia laki-laki rentan untuk mengalami “badai sitokin” dan memicu terjadinya gagal napas serta kerusakan organ tubuh lainnya.
  • Adanya komorbiditas terutama hipertensi dan diabetes melitus merupakan komorbiditas yang umum ditemukan pada pasien.

Studi FKUI-RSCM ini juga menyampaikan suatu fakta yang ditemukan bahwa ternyata 86% pasien lansia ini tidak memiliki riwayat kontak erat dengan pasien terkonfirmasi COVID-19.  “Tingginya angka kematian pada orang tua harus menjadi pelajaran bagi masyarakat yang mempunyai mobilisasi tinggi dan memiliki anggota keluarga berumur 60 tahun ke atas untuk senantiasa menjaga jarak, serta tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan agar tidak menjadi sumber penularan virus di rumah” demikian Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB selaku Dekan FKUI  menyampaikan pesannya dan memberikan apresiasi kepada para peneliti.

Synovac, vaksin yang sebentar lagi didistribusikan ini juga telah menyatakan bahwa vaksinnya tidak cocok untuk usia lanjut dan juga untuk penyakit-penyakit penyerta tertentu. Kita harapkan Indonesia akan segera mendapatkan vaksin yang dapat berguna bagi populasi usia lanjut Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here