Belanja Bantuan Sosial Tumbuh Tinggi Hasil Implementasi APBN 2020

0
386
(Photo: Kemenkeu)

(Beritadaerah – Nasional) Semua negara di dunia mengeluarkan respon kebijakan fiskal yang luar biasa yang merupakan dampak dari tekanan pandemi COVID-19. Angka realisasi sementara APBN Indonesia pada akhir 2020 tercatat defisit sejumlah Rp956,3T atau -6,09% PDB. Realisasi ini lebih baik daripada asumsi -6,34% di Perpres 72/2020. Defisit -6,09% ini masih relatif lebih kecil dibanding banyak negara ASEAN maupun G20. Defisit Malaysia tercatat -6,5% PDB, Filipina -8,1%, India -13,1%, Jerman -8,2%, Perancis -10,8%, Amerika Serikat -18,7% dari PDB. Hal tersebut sangat menunjukkan implementasi kebijakan Pemerintah Indonesia yang luar biasa.

“Meskipun relatif kecil dibandingkan negara-negara lain, APBN Indonesia telah bekerja secara optimal sebagai instrumen kebijakan countercyclical di masa pandemi”, demikian diuangkapkan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu dalam keterangan pers terkait Kinerja APBN 2020, Senin (11/1).

APBN 2020 telah bekerja keras menangani dampak Covid-19 terhadap masyarakat dan ekonomi dan terbukti APBN kita mampu menjaga ekonomi dari kontraksi terlalu dalam dan diupayakan untuk terus mengakselerasi pemulihan. Belanja dan insentif dirancang responsif dan sesuai target untuk membantu kesehatan, bantuan sosial dan pemulihan ekonomi, termasuk UMKM, dunia usaha, dan Pemda yang menghadapi tantangan dinamis dan luar biasa akibat pandemi.

Selain itu belanja Bantuan Sosial sudah difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat dengan membantu konsumsi masyarakat miskin dan rentan melalui berbagai program bantuan sosial antara lain PKH, Bantuan Sembako, dan Bansos Tunai. Sementara dukungan untuk UMKM dilakukan dalam bentuk Subsidi Bunga UMKM, Penjaminan Kredit UMKM, dan Banpres Pelaku Usaha Mikro (BPUM).

Berbagai program yang telah dilakukan tersebut sangat penting untuk bantalan bagi UMKM untuk tetap bertahan dan membantu memfasilitasi proses transisi ketenagakerjaan dari sektor formal ke sektor informal selama masa pandemi. Penyaluran program-program yang sudah direalisasikan pada tahun 2020 ini menyebabkan belanja bantuan sosial tumbuh sangat tinggi mencapai 82,3% (yoy).

“Tingginya realisasi belanja bantuan sosial di tahun 2020 adalah bukti bahwa APBN ditujukan untuk melindungi konsumsi masyarakat miskin dan rentan di masa pandemi,” demikian disampaikan Febrio.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here