Wujudkan Pembangunan Green Fuel Berbasis Kelapa Sawit

0
362
Presiden Joko Widodo meresmikan implementasi program Biodiesel 30% atau B30 di SPBU milik Pertamina MT Haryono, Jakarta Selatan. FOTO: VIBIZMEDIA.COM|MARULI SINAMBELA

(Vibizmedia-Nasional) Pemerintah menargetkan tahun 2025 pembangunan energi terbarukan dapat terwujud. Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar di dunia dan saat ini sawit merupakan komoditas andalan ekspor dengan kapasitas produksi sekitar 40 juta ton per tahun.

Berdasarkan penyusunan Basic Engineering Design Project (BEDP) dan tender Dual Feed Competition (DPC) yang telah dilakukan pemerintah pada tahun 2020 lalu, implementasi pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit akan dilaksanakan secara bertahap. Sedangkan, tahun 2021 pemerintah menargetkan penyusunan dokumen FEED (Front End Engineering Design) dan persetujuan FID (Final Investment Decicion). Sementara itu tahun 2022 dan 2023 pemerintah menargetkan untuk membangun EPC (Engineering Procurement Construction).

Pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp32 triliun. Rp1,1 triliun ditargetkan bersumber dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), Rp11,9 triliun dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan swasta sebesar Rp19 triliun. Sementara itu pembangunan ini akan ditangani oleh 3 Kementerian, yakni: Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negri, BUMN dan swasta.

Pada perkebunan sawit rakyat, produktivitas dan efisiensi harga sangat sulit dicapai karena penggunaan bibit yang tidak berkualitas, lemahnya kelembagaan dan managemen produksi, serta kurangnya pengetahuan dan SDM perkebunan rakyat.

Minyak kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan dunia, sehingga sebagai produk global sawit harus mengikuti isu perdagangan global yakni kompetitif dan diproduksi secara terus menerus (sustaibable). Sementara itu daya saing perkebunan kelapa sawit sangat tergantung dari produktivitas dan efisiensi biaya produksi.

Untuk mengatasi masalah produktivitas dan efisiensi kelapa sawit yang akan menunjang pembangunan energi terbarukan, pemerintah telah menetapkan langkah strategis yaitu akselerasi peremajaan sawit rakyat.

Langkah tersebut akan direalisasikan dengan 5 program, yakni melakukan penataan sawit rakyat seluas 2,4 hektare (ha); Akselerasi replanting sawit rakyat dengan sumber pembiayaan campuran (APBN, BPDPKS dan dunia usaha); Penerapan good agricultural practices (GAP) untuk peningkatan produktivitas sawit rakyat dan sertifikat ISPO; Integrasi kebun sawit rakyat dengan pengolahan hasil produksi skala kecil; Akselerasi keterkaitan antara basis produksi sawit rakyat dengan distribusi hasil.

Semoga pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit dapat mewujudkan kemakmuran masyarakat dan mengurangi ketergantungan kita terhadap energi fosil. Karena penggunaan energi terbarukan dapat mengurangi polusi udara dan berbagai pencemaran yang berbahaya bagi manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here