Pengguna Baru Telegram Meningkat 90 Juta Di Bulan Januari

0
107

(Vibizmedia – Internasional) Aplikasi pengirim pesan “Telegram” mengirimkan pesan kepada penggunanya mengumumkan bahwa pada bulan Januari ini telah memperoleh 90 juta pengguna baru.

“Pada Januari 2021, lebih dari 90 juta pengguna baru dari seluruh dunia bergabung dengan Telegram,” demikian pesan aplikasi perpesanan yang dienkripsi. “Terima kasih! Tonggak pencapaian ini dimungkinkan oleh pengguna seperti Anda yang mengundang teman mereka ke Telegram.”, dilansir dari Epoch Times

Koalisi untuk Web yang berbasis di Washington D.C. baru-baru ini memulai gugatan terhadap Apple karena tidak mengambil tindakan untuk menghapus aplikasi perpesanan Telegram, menuduh bahwa platform tersebut memungkinkan diskusi kekerasan dan radikal terkait dengan penyerangan 6 Januari di Capitol AS.

Gugatan itu muncul setelah Apple dan Google menghapus platform media sosial Parler dari toko aplikasinya, mengatakan bahwa aplikasi tersebut akan ditangguhkan sampai mereka dapat memoderasi “konten yang mengerikan”. Segera setelah itu, Amazon Web Services menghapus situs tersebut karena dugaan pelanggaran.

Pada tahun 2019, polisi Eropa telah bekerja sama dengan Telegram untuk menonaktifkan akun yang terkait dengan teroris ISIS dan kelompok kekerasan lainnya setelah mereka berkomunikasi satu sama lain dan memposting propaganda di aplikasi tersebut.

Larangan baru-baru ini terhadap banyak kaum konservatif dari Twitter dan pembatasan platform media sosial alternatif Parler oleh Google, Amazon, dan Apple menunjukkan seberapa jauh raksasa media sosial tersebut ingin mengontrol narasi tersebut, dilansir dari Reuters.

Karena kekhawatiran atas larangan Big Tech baru-baru ini terhadap Presiden Donald Trump dan tokoh konservatif terkemuka lainnya, maka sejumlah besar pengguna berbondong-bondong ke alternatif lain.

Signal Mengalami Pertumbuhan Besar-besaran

Aplikasi “Signal” juga mengalami pertumbuhan yang luar biasa karena kekhawatiran atas larangan Big Tech baru-baru ini terhadap Trump dan tokoh konservatif terkemuka lainnya.

Pertumbuhannya melonjak lebih tinggi setelah aplikasi perpesanan WhatsApp menerapkan perubahan ketentuan privasi yang kontroversial, yang mengharuskan aplikasi untuk berbagi data pengguna dengan Instagram dan Facebook.

Brian Acton, salah satu pendiri Signal Foundation, yang juga ikut mendirikan WhatsApp sebelum dijual ke Facebook, melalui email mengatakan bahwa pertumbuhan mereka dalam beberapa hari terakhir bersifat “vertikal”, dan bahwa mereka juga ingin memperluas staf, demikian dilansir dari Reuters.

Acton juga mengatakan bahwa, saat ini, mereka sedang meningkatkan layanan obrolan grup dan video aplikasi sehingga menjadi lebih kompetitif di masa depan, merupakan kebutuhan yang sangat penting selama masa pandemi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here