Belajar Koleksi Saham IPO? Lihat Lonjakan Harganya

0
166

(Vibizmedia – Kolom) – Minat masyarakat Indoensia berinvestasi di Pasar Modal Indonesia semakin tinggi. Hingga Januari 2020 Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sudah ada 4 juta Single Investor Identification (SID).

Khusus untuk investor saham, BEI menyampaikan penambahan jumlah investor baru di sepanjang 2020 tumbuh 53,47% atau 590.658 SID baru dibandingkan investor pada 2019. Hingga akhir 2020 total jumlah rekening saham telah mencapai 1.695.268 SID.

Penambahan investor baru pada 2020 secara signifikan didominasi oleh kaum milenial dengan rentang usia 18-30 tahun yang mencapai 411.480 SID atau 70% dari total investor baru tahun 2020.

Kalangan pelaku pasar menyebut investor baru ini dengan istilah ‘investor angkatan corona’. Antusiasme para investor baru ini seharusnya tetap dijaga, sembari memberikan pemahaman atau edukasi yang lebih intensif.

Salah satu tema yang mungkin menarik buat para investor milenial adalah, pelajaran berinvestasi di saham-saham yang dijual di pasar perdana atau yang biasa disebuat saham IPO (Initial Public Offering).

Banyak investor pemula yang belum tahu cara membeli saham IPO. Lalu ada pula yang bertanya, bagaimana menghitung valuasi sahamnya agar tidak terjebak pada saham dari perusahaan yang tidak berfundamental baik.

Berinvestasi di saham IPO banyak keuntungannya karena harga sahamnya bisa lebih atraktif. Berikut keuntungannya:

Pertama, saham IPO dinilai belum memiliki harga yang terbentuk dengan stabil, sehingga kemungkinannya untuk mencapai ARA atau Auto Reject Atas masih sangat tinggi dan mampu membawa keuntungan dari kenaikan harga saham  yang cukup menarik bagi investor.

Pergerakan harga saham IPO di hari awal (saat pencatatan perdana di BEI) berpotensi meningkat signifikan apalagi kita tahu hari pertama batas auto rejectnya bisa sampai 2 kali lipat dua kali dari batas auto reject normal jadi potensi untungnya jadi cukup tinggi.

Selain itu, saham IPO ini menarik untuk dibeli para investor yang berpikir bahwa bisnis yang dijalankan emiten ini bersifat jangka panjang dan nantinya mampu mencapai harga yang ratusan kali lipat dari harga penawaran pertama. Terutama bila emiten baru tersebut diyakini punya kinerja yang bagus terutama data-data fundamental yang positip, bahkan untuk jangka panjang.

Lalu bagaimana mendapatkan saham IPO?

Pemesanan saham IPO dapat dilakukan di perusahaan sekuritas yang menjadi penjamin emisi atau underwriter perusahaan yang melepas saham di BEI.

Biasanya pesanan tersebut dilakukan dengan sistem penjatahan, ada yang dikenal dengan isitilah penjatahan pasti (fixed allotment) dan penjatahan terpusat (pooling allotment).

Berdasarkan Peraturan No IX.A.7, penjatahan pasti ialah mekanisme penjatahan efek yang dilakukan dengan cara memberikan alokasi efek kepada pemesan sesuai dengan jumlah pemesanan dalam formulir pemesanan efek.

Adapun penjatahan terpusat adalah mekanisme penjatahan efek yang dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh pemesanan efek (pooling) dan kemudian dijatahkan sesuai dengan prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan tersebut.

Jika setelah dilakukan alokasi untuk penjatahan pasti, ternyata masih sisa efek yang jumlahnya lebih kecil dari jumlah yang dipesan, maka penjatahan harus mengikuti ketentuan yaitu secara proporsional untuk efek yang tidak dicatatkan di bursa efek atau dengan cara diundi untuk efek yang dicatatkan di bursa efek.

Sesuai pengalaman selama ini, tidak semua investor ritel bisa kebagian saham IPO. Emiten cenderung memiliki target dana yang masuk dan itu tidak hanya dihimpun dari sekelompok investor saja.

Sebenarnya sudah ada penjatahan, namun dalam kebanyakan kasus dengan sistem penjatahan ini investor tidak mendapatkan seluruh saham yang dipesan.

Bila ketinggalan dalam menyerok saham IPO ini, ada tips untuk lebih bersabar lagi menunggu untuk membeli saham yang baru listing ini. Hal ini didasari dengan lebih banyaknya informasi yang akan didapat mengenai perusahaan sehingga memudahkan analisa para investor.

Faktor  kesabaran berarti mau menunggu harga stabil dan terbentuk, misalnya dengan menunggu satu kuartal lagi saat perusahaan akan mengeluarkan  laporan keuangan dimana kita akan dapat melihat kinerja perusahaan setelah melakukan IPO.

Berikut daftar emiten baru BEI di tahun 2021:

Tanggal Kode/ Nama Harga Perdana Harga Kenaikan %
Nama Perusahaan 09-Feb-21
04-Jan-21 FAPA PT FAP Agri Tbk 1840 2440 600 32,61
06-Jan-21 DCII PT DCI Indonesia Tbk 420 10200 9780 2328,57
15-Jan-21 DGNS PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk 200 745 545 272,50
01-Feb-21 BANK PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk 103 590 487 472,82
01-Feb-21 UFOE PT Damai Sejahtera Abadi Tbk 101 545 444 439,60

Kita dapat melihat persentasi kenaikan setiap saham-saham IPO yang digelar di tahun 2021.

Untuk IPO di bulan Januari 2021, harga saham DCII, milik PT DCI Indonesia Tbk telah meroket sebesar 2328.58% atau 9780 poin dibandingkan harga IPOnya yaitu di harga Rp.420 per lembar.

Demikian juga dengan IPO yang terjadwal di bulan Februari 2021, harga saham UFOE, milik PT Damai Sejahtera Abadi Tbk telah melesat tinggi sebanyak 439.60% atau 444 poin ke harga Rp.545 dimana harga IPO nya adalah Rp.101 per lembar.

Selasti Panjaitan/Vibizmedia
Editor : Asido Situmorang

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here