Fenomena Bank Digital di Indonesia, Fenomena Saham ARTO (Bank Jago)

0
206

(Vibizmedia – Kolom) – Pengembangan bisnis bank digital di Indonesia saat ini menjadi hal yang paling menarik untuk dilakukan. Terbukti dengan maraknya bank-bank kecil alias bank mini (bank dengan modal inti Rp 1-5 triliun) yang berencana untuk melakukan perubahan bisnisnya menuju bank digital.

Pengembangan digital bankint ini pun didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan ketentuan yang juga harus ditaati.

Ketentuan itu misalnya pembentukan bank digital baru harus memenuhi ketentuan modal inti senilai Rp 10 triliun untuk bank baru, sedangkan untuk bank lama yang berubah menjadi digital diizinkan untuk modal minimal Rp 3 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebutkan regulator mendukung digitalisasi ekonomi dan mendorong semua perbankan menerapkan proses digital sehingga nasabah tidak perlu lagi bertransaksi di kantor cabang atau antre di bank.

Saat ini, baru ada tiga bank digital yang beroperasi di Indonesia yakni PT Bank BTPN Tbk (BTPN), PT Bank DBS Indonesia dan PT Bank Jago Tbk (ARTO). Dalam waktu dekat akan beroperasi Bank BCA Digital, hasil dari akuisisi PT Bank Royal Indonesia.

Emiten bank yang diakuisisi Mega Corpora milik Chairul Tanjung, PT Bank Harda Internasional (BBHI) menyelenggarakan paparan publik atau public expose (PE) insidentil pada hari Kamis (4/3/2021).

PE insidentil dilakukan setelah saham BBHI disuspensi atau dihentikan sementara oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dua kali dalam satu minggu.

Dalam materi PE Insidentil perusahaan yang diunggah di situs BEI, manajemen BBHI menjelaskan perseroan berencana akan menjadi sebuah bank digital. Rencana ini akan dilakukan setelah proses akuisisi oleh Mega Corpora selesai.

“Setelah proses pengambilalihan perseroan oleh Mega Corpora selesai, perseroan akan menjadi sebuah bank dengan platform teknologi digital sehingga menjadikan perseroan sebagai bank yang lebih kuat dan mempunyai daya saing berskala nasional,” demikian jelas manajemen BBHI dalam materi PE Insidentil mereka, Kamis (4/3).

Pada awal November tahun lalu, pengusaha nasional Chairul Tanjung melalui Mega Corpora mengumumkan rencana akuisisi BBHI.

Kemudian, akuisisi tersebut mendapat restu pemegang saham yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BBHI yang diadakan pada tanggal 29 Januari 2021.

Dalam akuisisi ini, pemegang saham BBHI yakni PT Hakimputra Perkasa menjual 3,08 miliar saham atau 73,71% saham ke Mega Corpora. Pada keterbukaan informasi yang disampaikan ke BEI, disebutkan Mega Corpora akan menjadi pihak yang akan mengambil alih.

Pada akhir pekan ini, Jumat (12/3/2021) harga saham BBHI ditutup di harga Rp.2100 per lembar, anjlok 6.67% atau 150 poin dibandingkan harga penutupannya yaitu di harga Rp.2250 per lembar. Nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp.8.79 triliun dengan PER 136.19.

Untuk kinerja saham ini dalam 1 minggu terakhir, terkoreksi sebesar 12.86% dan untuk satu bulan terakhir menguat 164.15 persen. Dan untuk kinerja selama tahun 2021 ini telah menanjak sebesar 395.28 persen.

Sentimen yang mendorong kenaikan harga saham bank-bank digital adalah  beberapa nama yang menjadi investor strategis yang mengakuisisi bank-bank digital. Sea Group misalnya sudah mencaplok Bank BKE belum lama ini dan kemudian mengubah nama menjadi PT Bank Seabank Indonesia (Seabank).

Gojek juga masuk sebagai pemegang saham ke Bank Jago Tbk (ARTO). Tak ketinggalan, bank-bank besar seperti BCA juga sudah ancar-ancar masuk ke bank digital setelah mencaplok Rabobank dan kini BRI Agroniaga juga dikabarkan sedang memproses pendaftaran ke OJK menjadi bank digital.

Di tengah tren persaingan bank digital ke depannya, perusahaan-perusahaan fintech akan lebih menarik bisa mengakuisisi atau membeli bank-bank kecil yang sudah beroperasi. Sebab, akan memerlukan modal yang lebih besar jika harus memulai bank digital dari awal. Berbeda dengan bank konvensional yang bertranformasi menjadi bank digital.

Ekonom Senior INDEF Aviliani menilai, bank digital, bisanya melakukan penyaluran kredit dengan nominal yang kecil. Karena jika melakukan penyaluran kredit dengan skala besar seperti kredit modal kerja atau investasi, atau bahkan kredit KPR sistem teknologi di Indonesia belum mumpuni.Lantas, jika ke depannya semakin banyak pemain bank digital, apakah bisa menawarkan suku bunga yang lebih kompetitif dari bank konvensional?

Oleh karena itu, menurut Aviliani, hadirnya bank digital dalam melakukan kredit, tidak akan berpengaruh terhadap suku bunga kredit yang biasa dilakukan oleh bank konvensional.

Dengan demikian bank digital akan menyalurkan kredit lebih banyak untuk ritel, UMKM dan bahkan kepada individu. Tapi kalau yang besar-besar seperti corporate, commercial, masih menggunakan aturan-aturan yang ditetapkan OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Sekarang mari kita lihat fenomena saham ARTO, milik Bank Jago Tbk

Harga saham ARTO hari Jumat (12/3/2021) ditutup di harga Rp.11375 per lemar, melonjak 3.64% atau 400 poin di bandingkan harga penutupannya yaitu di harga Rp.10975 per lembar.

Kinerja saham ini dalam satu minggu terakhir, naik 23.64% sementara untuk sepanjang tahun ini telah menguat sebesar 193.34 persen. Dengan nilai kapitalisasi pasarnya mencapai Rp.123.49 triliun.

Akhir 2020, Decacorn ride hailing Gojek turut menjadi pemegang saham bank Jago. Isu pun menggema bahwa Bank Jago akan menjadi bank digital yang mengelola dana para pengguna Gopay (layanan uang elektronik dari Gojek).

Pemegang Saham Bank Jago:

Pemegang Saham Persen
PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia 37.65%
Wealth Track Technology Limited 13.35%
PT Dompet Karya Anak Bangsa 22.16%
Masyarakat Umum 26.84%

Sumber: Bursa Efek Indonesia (BEI)
Di pertengahan Februari 2021, saham ARTO masuk dalam jajaran saham big cap (yaitu saham dengan nilai kapitalisasi di atas Rp 100 triliun) di Bursa Efek Indonesia.

Masa depannya pun nampak makin cerah setelah badan investasi pemerintah Singapura, Government of Singapore Investment Corporation Pte Ltd (GIC), juga bersiap menjadi pemegang saham baru Bank Jago pada kuartal I-2021. GIC telah menyatakan komitmennya untuk menyerap sebagian saham baru Bank Jago, yang akan diterbitkan melalui rights issue, dengan menyuntikkan dana sekitar Rp 3,15 triliun.

Sampai dengan penutupan bursa hari Jumat (12/3/2021) harga saham PT Bank Jago Tbk berada di rentang level Rp 10975 – Rp 11750 per lembar, harga yang cukup premium jika melihat level IHSG yang kini berada di atas 6.300-an.

Harga yang tercipta bisa karena potensinya yang besar atau ekspektasi investor yang terlalu berlebihan, karena label bank digital yang kini disandang Bank Jago. Bahkan harga saham ARTO ini jauh melampaui harga saham bank-bank BUKU III dan IV (hanya belum melampaui harga saham Bank Central Asia di level Rp 33.825). Sementara harga saham Bank Mega (MEGA – Rp.9975), Bank Mandiri ( BMRI – Rp.6725), Bank BNI (BBNI – Rp.6150) dan Bank BRI (BBRI – Rp.4580).

Bank Jago – Gopay, Simbiosis Mutualisme

Bagaimana peran Bank Jago terhadap Gopay (maupun sebaliknya) kelak, belum pernah diungkap ke publik. Namun sebagai fintech, Gopay yang bukanlah institusi perbankan tidak bisa memperluas layanan lebih jauh. Padahal dengan segala keterbatasannya, Gopay yang baru beroperasi selama 5 tahun telah menjangkau sekitar 200 kabupaten/kota di Indonesia. Gojek pun pernah mengklaim transaksi di Gopay sepanjang 2020 mencapai sekitar Rp 170 triliun sepanjang 2020.

Bayangkan jika Bank Jago menjadi pintu bagi Gopay untuk memperluas jaringan layanannya – seperti dalam hal transfer dana hingga pemberian kredit bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Head of Corporate Communications Gopay, Winny Triswandhani, pernah mengatakan di mana total merchant Gopay saat ini telah mencapai lebih dari 500 ribu merchant, sekitar 95% di antaranya adalah merchant UMKM. Di sisi lain, potensi dana kelolaan pihak ketiga pun terlihat menjanjikan dengan keberadaan 38 juta pelanggan yang aktif menggunakan aplikasi Gojek. Andaikan para pengguna aktif ini mengisi saldo Gopay (top-up) sebesar Rp 500 ribu per bulan, maka setidaknya Gopay telah memegang Rp 19 triliun setiap bulannya.

Lalu apa untungnya bagi Bank Jago? Mengingat bank ini diperuntukkan menjadi bank digital, kerja samanya dengan Gopay akan mempermudah metamorfosisnya melalui transfer teknologi. Jika benar skema ini yang digunakan, tentunya akan menjadi win-win solution untuk keduanya.

Selasti Panjaitan/Vibizmedia
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here