Jalan Menuju Pemulihan Ekonomi Indonesia yang Lebih Kuat

0
152
Ilustrasi Pemulihan Ekonomi Nasional. FOTO: KEMENKEU

(Vibizmedia-Nasional) Apa saja pendongkrak ekonomi agar Indonesia bisa menjadi pulih dan keluar lebih kuat? Hantaman Covid-19 membuat konsumsi turun, investasi turun dan juga ekspor mengalami penurunan. Untuk memulihkan kondisi ini maka yang dilakukan adalah melalui countercyclical yaitu mengambil pendekatan sebaliknya, secara fiskal dan moneter. Terutama kebijakan fiskal seperti membantu mereka yang nggak lagi bekerja, menolong mereka yang tidak punya modal lagi di sektor UKMK. Membantu mereka yang terkena Covid-19. Murid dan guru di sekolah yang membutuhkan kuota agar pendidikan jalan. Semuanya adalah APBN yang dicurahkan kepada mereka yang mengalami hantaman Covid-19. APBN bekerja ekstra keras untuk mengatasinya. Pada saat yang sama penerimaan terus turun karena perusahaan pemberi pajak mengalami penurunan pendapatan. Defisit APBN semakin besar tidak bisa dihindari, menjadi konsekuensi dan menjadi strategi yang harus dilakukan. Pemulihan ekonomi Nasional (PEN) tahun 2021 semula diperkirakan Rp300 triliun akan kembali ditingkatkan hingga Rp700 triliun. APBN diperlukan untuk melakukan counter terhadap konsumsi dan investasi yang collapse, ekspor yang melemah, karena memang secara global ekonomi dunia masih belum pulih.

Konsumsi memang saat ini sudah mulai pulih, hanya belum di tingkat yang positif dan investasi mulai bertumbuh dan perbankan menjanjikan tahun 2021 kredit akan melakukan ekspansi, capital market sudah mulai bullish. Negara-negara dunia sekarang juga sudah mulai masuk ke zona positif, diharapkan perdagangan akan meningkat. Sesudah ini konsolidasi fiskal harus dilakukan agar tetap terjaga keseimbangan ekonomi. Setelah konsumsi, investasi, ekspor menguat maka perlu diperbaiki kembali postur APBN Indonesia. Jadi pemulihan ekonomi adalah bagaimana agar konsumsi, investasi dan ekspor kembali meningkat, dan sekarang sedang terjadi.

Strategi ekonomi Indonesia sekarang masuk kepada sektor per sektor. Misalnya sektor otomotif, adalah sektor yang penting untuk Indonesia, karenanya pemerintah melakukan stimulus permintaan dengan membebaskan PPN BM bagi mobil yang memiliki local content yang tinggi. Untuk sektor pariwisata sedang dilakukan pemanfaatan hotel-hotel yang kosong untuk fasilitas para tenaga medis, atau juga isolasi mandiri. Sektor per sektor sedang diuraikan, sehingga dari sisi demand maupun supply dapat bergerak kembali. Strategi ini akan membuat ekonomi Indonesia akan pulih secara keseluruhan.

Necessary condition yang ada pada saat ini adalah bagaimana Indonesia menerima vaksin. Kebijakan pertamanya adalah bahwa 50 persen gratis dan sisanya berbayar. Kebijakan ini membawa dampak orang tidak mau vaksin karena berbayar, maka sekarang diumumkan bahwa seluruhnya gratis, sehingga semua orang tidak dapat menolak untuk vaksin. Perusahaan-perusahaan ingin membantu pemerintah untuk mengadakan vaksin asal diperbolehkan. Kebijakan seluruhnya gratis berubah dengan memberikan kesempatan mandiri kembali. Sebelumnya pemulihan ekonomi diharapkan pada kuartal I namun terjadi peningkatan jumlah kasus Covid-19 sehingga dilakukan P2KM untuk mengatasinya. Sehingga baru kuartal ke II diharapkan pertumbuhan ekonomi akan lebih cepat terjadi, dan momentum ini diharapkan sampai kepada akhir tahun.

Selain terpenuhinya necessary condition untuk pemulihan ekonomi Indonesia, maka diperlukan sebuah upaya bagaimana Indonesia semakin kuat atau going stronger. Ketika membicarakan hal ini yang patut dipikirkan adalah apakah yang menjadi faktor fundamental ekonomi Indonesia? Indonesia sekalipun tidak ada Covid-19 menghadapi ancaman middle income trap, artinya Indonesia akan selalu berada dalam kondisi ekonomi yang sama seperti negara Amerika latin. Empat hal fundamental yang membuat Indonesia bisa lepas dari middle income trap, pertama adalah sumber daya manusia (SDM). Kedua infrastruktur, untuk bisa bertumbuh dari middle income ke high income maka harus memiliki infrastruktur yang bagus. Ketiga adalah memiliki regulasi yang sederhana seperti kepastian hukum dan ease of doing business. Keempat adalah birokrasi yang efisien, institusi yang baik. Semua faktor ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, ketika mengejar infrastruktur maka BUMN yang mengerjakan sedang menghadapi masalah. Tentang SDM bagaimana bisa menurunkan stunting saja memerlukan waktu yang panjang untuk kondisi sekarang dari 33 persen menjadi 14 persen seperti harapan presiden. Untuk dikerjakan dalam waktu lima tahu membutuhkan banyak usaha. Begitu juga dengan regulasi, ease of doing business, penyederhanaannya dilakukan dengan mengeluarkan UU Cipta Kerja. Dan membutuhkan waktu untuk diturunkan menjadi PP setelah terus menerus dikejar oleh sebuah menteri bisa menyelesaikannya, masih membutuhkan peraturan menteri. Implementasi regulasi sederhana menyangkut pada birokrasi yang efisien. Regulasi yang sederhana namun dengan birokrat tetap pada pola pikir yang lama akan membuat sia-sia semua usaha untuk mempercepat proses pembangunan. Reformasi birokrasi tidak boleh berhenti dilakukan.

Apa yang baik dari Indonesia saat ini adalah penanganan Covid-19 yang semakin baik. Memberikan signal kepada seluruh dunia bahwa fundamental ekonomi Indonesia sedang dalam proses penguatan. Timbulnya undang-undang cipta kerja, pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan, penataan pendidikan merupakan pekerjaan yang produktif dilakukan Indonesia. Ketika banyak negara dunia terbenam dalam masalah penanganan Covid-19, Indonesia tidak berhenti membangun empat faktor fundamental agar lepas dari middle income trap dan tampil sebagai negara yang kuat. Presiden terus meresmikan berbagai pembangunan yang sudah dilakukan, dan tidak terpuruk pada masalah Covid-19. Sekarang juga sovereign wealth fund sudah selesai disiapkan untuk membawa equity financing lebih banyak, merupakan terobosan agar infrastruktur Indonesia tetap dibangun. Indonesia tetap memikirkan apa yang akan dihadapi di masa depan, dan bukan yang dihadapi hari ini. Tahun lalu defisif Indonesia 6,1% dan pertumbuhan ekonomi terkontraksi mendekati minus 2 persen. Lebih baik dibandingkan dengan negara lain, misalnya Amerika yang defisitnya mendekati 13 persen dan pertumbuhannya mendekati minus 5 persen. Perancis, Inggris, dan negara tetangga juga mengalami hal yang sama.

Karena usaha-usaha Indonesia ini maka lembaga pemeringkat Fitch tetap memberikan peringkat (rating) kredit Indonesia pada posisi BBB, juga outlook yang stable. Fitch memberikan konfirmasi bahwa Indonesia berhasil dalam menangani Covid 19 padahal sudah 124 negara yang mengalami penurunan rating.

Fitch melaporkan Indonesia kuat menghadapi hantaman pandemi dengan tetap menjalankan strategi ekonomi jangka menengah. Fitch yakin Indonesia terus menciptakan prospek pertumbuhan ekonomi dan menjaga rasio utang kepada PDB yang relatif aman. Fitch memperkirakan Indonesia akan bertumbuh 5.3 persen tahun 2021 dan 6.0 persen tahun 2022. Fitch memperhatikan adanya usaha pemerintah pada empat faktor fundamental untuk lepas dari middle income trap. Fitch memproyeksikan defisit fiskal akan turun menjadi 5,6 persen pada tahun 2021.

Kita bisa bernafas lega dengan rating Fitch ini, dan tidak berhenti bekerja keras agar Indonesia bukan saja menjadi pulih namun tampil sebagai negara dengan ekonomi yang lebih kuat. Pekerjaan yang sulit untuk membangun empat faktor fundamental itu masih dilakukan, bukan pekerjaan mudah, namun inilah sumber pertumbuhan Indonesia ke depan. Indonesia akan mencapai impiannya untuk lepas dari middle income trap dan menjadi negara maju tahun 2045, optimis Indonesia Maju!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here