SDM Produktif dan Inovatif Lepaskan Indonesia dari Middle Income Trap

0
152
Ilustrasi SDM Konstruksi Unggul. FOTO: PUPR

(Vibizmedia-Kolom) Bonus demografi artinya adalah jumlah penduduk usia produktif, penduduk berusia antara 18-60 tahun, lebih besar jumlahnya dari penduduk dalam usia tidak produktif. Bila jumlah penduduk yang relatif muda ini bila disertai dengan investasi yang tepat, maka inilah salah satu fondasi agar Indonesia bisa naik kelas. Dari negara kelas menengah menjadi negara maju. Kalau melihat kondisi ini maka sekarang sudah terpenuhi dan diperkirakan hingga 2040. Setelah itu Indonesia akan masuk pada “aging population”. Harus dipastikan sebelum masuk masa itu upaya meningkatkan perekonomian dari kelas menengah menjadi negara maju sudah dilakukan. Sisa waktu dari bonus demografi ini harus dimanfaatkan sebesar-besarnya.

Kita coba melihat apa yang sudah dilakukan oleh banyak negara, ada negara yang berhasil dari middle income trap menjadi negara maju. Kalau kita ambil di Asia yang paling mudah Korea Selatan dan Jepang, mereka melakukannya ketika mengalami bonus demografi. Jadi kedua negara ini menggunakan bonus demografi ini sebagai landasan untuk loncat menjadi negara maju. Loncatan terjadi karena mereka mengedepankan produktifitas sumber daya manusia disatukan dengan sektor unggulan. Sektor unggulannya berbasis pada manufaktur industri pengolahan. Tidak sekedar menjadi negara industrialis, mereka merubah mindset nya dari negara yang “membuat” menjadi negara yang “mencipta”. Mereka menjadi negara yang mengedepankan inovasi.

Belajar dari Jepang dan Korea Selatan, kunci dari negara yang bisa melewati middle income trap ketika mereka memiliki bonus demografi adalah melakukan inovasi. Bukan saja terjadi pada Korea Selatan dan Jepang, namun juga pernah terjadi pada negara-negara Eropa yang telah terlebih dahulu menjadi negara maju. Sebaliknya kalau belajar dari negara-negara yang terjebak tetap menjadi negara berpenghasilan menengah, masalahnya adalah mereka belum mengarahkan SDM nya untuk produktif dan inovatif. Seperti negara-negara Amerika latin, produktifitasnya bisa jadi tercapai. Sistem pendidikan di Brazil, Argentina dan negara lainnya tidaklah buruk. SDM disana juga memiliki pendidikan yang cukup. Namun dalam hal inovasi masilah kurang, sehingga sampai hari ini negara-negara ini belum masuk negara maju atau yang memiliki pendapatan tinggi.

Pengembangan SDM Indonesia adalah pilar untuk Indonesia menjadi lebih kuat dan bisa menjadi negara maju. Namun pengembangannya mengarah kepada produktif dan inovatif. Perekonomian Indonesia juga harus bergeser dari ketergantungan kepada sumber daya alam, atau melakukan industri pengolahan menjadi negara yang bisa menciptakan. Ekosistem inovasi harus dibuat di Indonesia agar SDM Indonesia bisa menghasilkan inovasi setinggi mungkin. Inovasi adalah salah satu indikator dalam global competitive index. Dimana Indonesia masih berada dalam posisi yang rendah karena masih rendahnya inovasi ini. Inovasi Indonesia masih ada berada di peringkat 85 dunia. Dari indikator inilah Indonesia bisa memulainya, bagaimana menjadi inovatif.

Indonesia memiliki beberapa bidang yang cukup berkembang dalam hal inovasi, yang pertama adalah pertanian karena Indonesia memang negara agraris. Indonesia juga memiliki inovasi dalam bidang kesehatan. Ketiga adalah dalam bidang sosial humaniora, dimana pada ketiga bidang ini Indonesia bisa menghasilkan inovasi. Inovasi yang tidak hanya berhenti pada batas riset namun dituangkan hingga produk dan jasa yang bisa memberikan manfaat bagi manusia. Tantangan Indonesia adalah bagaimana membuat hal ini terjadi. Bagaimana prototype bisa masuk ke industri dan diproduksi dalam jumlah besar karena ada permintaan masyarakat atau permintaan pasar. Proses ini akan sangat cepat terjadi bila dilakukan pada platform ekonomi digital. Generasi muda Indonesia yang disertai dengan bekal yang cukup, akan menjadi pengusaha masa depan dengan basis teknologi atau sekarang banyak disebut dengan startup company. Pengusaha dengan basis teknologi ini akan memenangkan persaingan pada masa kini dan yang akan datang. Persaingan dunia di masa depan adalah persaingan bisnis dengan basis teknologi.

Indonesia sekarang sedang mencapai inflection point dalam ekonomi digital. Inflection Point adalah titik di mana arah kurva berubah sebagai respons terhadap suatu peristiwa, ekonomi digital menyebabkan ekonomi Indonesia menyentuh inflection point dan bergerak ke arah yang progresif. Sebuah studi baru dari Google Temasek menemukan bahwa ekonomi digital Indonesia siap menjadi yang terbesar di Asia Tenggara karena nilai pasarnya naik tiga kali lipat menjadi USD100 miliar pada tahun 2025 dari USD27 miliar pada tahun 2018, menjanjikan lebih banyak pekerjaan dan lebih banyak pilihan konsumen untuk generasi yang memahami teknologi. Negara-negara Asia Tenggara (South East Asia – SEA) seperti Malaysia, Filipina, Thailand berada di antara 10 negara teratas yang paling terlibat di internet seluler secara global.

Indonesia, adalah digital ekonomi terbesar dan paling cepat berkembang di kawasan Asia Tenggara dengan 49 persen CAGR. Pertumbuhan digital ekonomi ini tidak terlepas dari hadirnya startup di bidang e-commerce. Indonesia memiliki 5 startup unicorn dan merupakan yang terbanyak di Asia Tenggara. Antara lain Traveloka yang bergerak di bidang online travel dengan valuasi 4 miliar dolar Amerika. Dengan valuasi sebesar 7 miliar dolar Amerika Tokopedia di bidang e-commerce menjadi unicorn ketiga yang dimiliki Indonesia. Sedangkan Gojek yang bergerak di bidang ride hailing mencapai valuasi 9,5 miliar dolar Amerika merupakan unicorn terbesar Indonesia. Bisa dipastikan bahwa Indonesia mencapai inflection point dengan pertumbuhan yang dramatis dan akan semakin besar dalam kontribusinya kepada perekonomian Indonesia. Regulasi yang menstimulate pertumbuhannya dengan interlink kepada bank harus segera disiapkan untuk menghadapi hal ini.

Sementara e-commerce mengalami pertumbuhan yang sehat di semua negara Asia Tenggara, Indonesia memimpin, mencapai US$ 12 miliar pada tahun 2018 dan menyumbang lebih dari USD1 dalam setiap USD2 yang dihabiskan di wilayah ini. Adopsi e-commerce juga telah meningkat di Thailand dan di Vietnam, di mana ia telah mencapai hampir USD3 miliar pada tahun 2018. Demikian pula, di semua pasar ini, konsumen Asia Tenggara semakin mengandalkan e-commerce untuk membeli berbagai macam produk yang tidak tersedia. di toko-toko, sebagai akibat dari keterbelakangan relatif dari saluran ritel modern di luar kota-kota metro.

Meningkatnya peran yang dimainkan oleh tiga pemain teratas di sektor e-commerce juga terbukti melalui metrik keterlibatan penting lainnya, yang menegaskan tren yang melihat peningkatan konsolidasi preferensi konsumen. Dengan basis pengguna yang besar dan basis penjual di platform mereka, mereka telah berkontribusi terhadap meningkatnya popularitas e-commerce di kalangan orang Asia Tenggara.

Tiga perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia, Lazada, Shopee, dan Tokopedia, telah memainkan peran penting dalam pengembangan sektor ini. Mereka diperkirakan telah tumbuh secara kolektif lebih dari 7 kali sejak 2015, jauh di atas sektor lainnya. Dengan menawarkan puluhan juta produk, pengalaman pengguna ponsel kelas dunia, promosi konsumen yang sering, dan jaringan logistik yang luas, mereka telah menjadi kekuatan utama di balik pertumbuhan dramatis e-commerce di Asia Tenggara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here