Menkeu dan Gubernur Bank Sentral G20 Tingkatkan Kerja Sama Atasi Pandemi

0
177
Presiden Jokowi saat hadiri KTT G20 tahun 2019 (Foto: Kemlu)

(Vibizmedia – Economy & Business) Menteri Keuangan RI dan Gubernur Bank Sentral G20 memandang bahwa prospek pertumbuhan ekonomi global menunjukkan perbaikan seiring dengan masifnya program vaksin di dunia serta berlanjutnya kebijakan extraordinary dalam menangani pandemi COVID-19.

Namun demikian, tanda-tanda pemulihan tersebut masih belum merata antarnegara. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh kecepatan vaksinasi.

Guna membahas hal tersebut, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia menghadiri pertemuan daring para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di bawah Presidensi Italia (the Second G20 Finance Ministers and Central Bank Governors’ Meeting / FMCBG).

FMCBG kali ini membahas respons kebijakan G20 terhadap tantangan global penanganan pandemi termasuk ketersediaan vaksin untuk semua, dan perpajakan internasional.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa kerja sama multilateral sangat dibutuhkan dalam memfasilitasi akses terhadap vaksin COVID-19 yang aman, efektif dan terjangkau.

“Setiap negara harus memiliki komitmen dalam menjamin akses dan distribusi vaksin bagi semua negara di dunia, demi mencapai pemulihan ekonomi global secara bersama-sama. Pandemi COVID-19 di dunia baru akan tuntas jika penyebaran di seluruh negara dunia tertangani,” kata Sri Mulyani dalam FMCBG tersebut.

G20 juga menekankan kembali komitmennya untuk menghindari penarikan stimulus terlalu dini. Prinsip-prinsip yang menjadi pedoman G20 dalam merespon terhadap tantangan global ini tertuang dalam Rencana Aksi G20 (G20 Action Plan).

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa kebijakan penanganan pandemi dan upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan oleh Indonesia telah sejalan dengan arah kebijakan G20 yang tertuang dalam G20 Action Plan.

Pemerintah Indonesia melanjutkan dukungan kebijakan yang diperlukan, termasuk dukungan fiskal, serta melakukan reformasi struktural guna mendukung pemulihan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

G20 menilai bahwa negara-negara miskin (low-income countries) mengalami tantangan lebih berat dalam menghadapi pandemi.

Untuk mendukung negara-negara miskin tersebut, para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 menegaskan kembali komitmennya antara lain melalui Special Drawing Rights (SDR) General Allocation, perpanjangan penundaan pembayaran kewajiban utang melalui Debt Service Suspension Initiative (DSSI) hingga Desember 2021, serta implementasi G20 Common Framework on Debt Treatment yang merupakan mekanisme penanganan utang negara-negara miskin yang memenuhi kriteria tertentu.

G20 juga mendukung Penambahan Investasi (Replenishment)  International Development Association (IDA)-20  yang akan diselesaikan pada Desember 2021 untuk mendukung pembiayaan negara-negara miskin.

Emy T/Journalist/Vibizmedia
Editor: Emy Trimahanani
Foto:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here